Bambang Noorsena, Arek Malang Penerima Gelar Pangeran dari Keraton Surakarta

Kampanye Budaya Jawa Jadi Sebuah Harmoni
Pada 2 September 2007 lalu, Kraton Surakarta Hadiningrat memberi gelar pada Bambang berupa Kanjeng Pangeran Seno Kusumonegoro. Gelar serupa juga diberikan pada mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, ekonom Sri Edi Swasono, dan putri Indonesia Artika Sari Dewi.

Yosi Arbianto, MALANG

Bambang masih tampak seperti orang kebanyakan. Gelar Pangeran tidak lantas membuat dia berperilaku seperti keluarga keraton. Memakai blangkon dan jarit serta bertingkah laku ekstra sopan dan luwes. Ditemui di rumahnya, kawasan PBI P7/20 Kota Malang, sosok Bambang terlihat santai, suka bercerita, dan humoris.

Pengetahuan mendalam tentang budaya dan nilai Jawa tampak saat dia fasih melafalkan kata-kata yang ditulis dalam huruf Sansekerta. Huruf yang banyak ditemui di beberapa prasasti yang ditemukan di tanah Jawa. “Yatnavanto Yavadvipam,” katanya seraya membaca salah satu kalimat huruf Sansekerta.

“Harus bisa bahasanya, supaya bisa menggali semua hal tentang Jawa,” sambung pria yang mempunyai hobi membaca dan menulis ini.

Dua kata yang dia lafalkan tadi adalah salah satu bagian kecil dari syair Ramayana karangan Srimad Valmiki. Sebuah buku yang dibuat abad ke-1 atau tepatnya tahun 150 Masehi. Bukan buku asli yang dia punyai. Tapi sudah berupa salinan terbitan Gita Press Gorakhpur, India, tahun 1992.

Dua kata itu, kata Bambang, lebih kurang berarti: Jelajahilah tanah Jawadwipa. Jawadwipa, jelasnya adalah pulau Jawa. Sejak abad ke-1, pulau Jawa telah dikenal akan potensi lokal yang sangat menawan. Itu ditunjukkan dalam lanjutan syair tersebut

Bambang membaca lanjutan syair di bawah dua kata itu. Lebih kurang berarti, ada tujuh kerajaan. Tanah yang banyak terdapat emas dan perak.

“Sejak pertama kali saya membacanya, sekitar 20 tahun lalu, saya merenung. Jawa itu ternyata punya potensi yang luar biasa. Sejak dahulu bangsa India menyuruh umat Hindu untuk menjelajahi tanah Jawa. Pasti ada sesuatunya,” ungkap pria asli Ponorogo ini mengenang awal dia bergelut dengan budaya dan nilai Jawa..

“Ternyata Jawa itu bukan hanya pulau, tempat kita berada. Atau hanya sebuah suku. Jawa berarti nilai-nilai dan budaya. Contohnya ada ungkapan, koe ora njawani. Maksudnya kan seseorang kurang genah, tidak melaksanakan sopan santun, kurang saling menghormati dan tolong menolong,” katanya.

Atas ketertarikan itu, Bambang terus mencari berbagai literatur tentang nilai-nilai dan budaya Jawa. Dia juga belajar dari keraton Jogja dan Solo. Kekaguman akan nilai dan budaya Jawa pun akhirnya muncul dari dalam dirinya. Sejak saat itu, dia terus berupaya menyuarakan sisi positif budaya Jawa.

“Budaya Jawa itu punya nilai kekuatan. Bisa disebut kearifan lokal (local genius). Terutama dalam merekatkan sebuah bangsa yang majemuk, seperti Indonesia. Jawa itu identitas,” tutur bapak 43 tahun ini.

Bambang melihat, budaya dan nilai-nilai Jawa bisa sebagai alat perekat karena mulai abad 1, (bisa juga sebelumnya) , masyarakat Jawa sudah terbiasa dengan kemajemukan. Misalnya berkaitan dengan perbedaan keyakinan yang rawan konflik. Ada agama Buddha dan Siwa (Hindu) serta berbagai aliran kepercayaan dan penghayatan.

Di zaman itu, atas dasar perenungan dan perpaduan sifat-sifat setempat, perbedaan tersebut ternyata tidak menjadi sebuah masalah. Bahkan bisa membentuk sebuah harmoni atau kesatuan. Bukti nyata adalah dulu di tanah Jawa muncul perpaduan Buddha-Siwa, seperti yang ditulis dalam kitab Sutasoma karya Mpu Tantular. Buddha dan Siwa adalah dua dewa yang berbeda, namun bisa dilambangkan menjadi satu.

“Di India, Siwa dan Buddha itu sangat berbeda. Pengikutnya pun berbeda. Tetapi di Jawa, muncul lambang harmoni, Buddha-Siwa,” imbuh Bambang.

Kalau dianalisis, munculnya perpaduan itu adalah hasil kontemplasi orang-orang Jawa kuno yang tidak menginginkan adanya konflik. Sebab pada hakekatnya, dua (atau lebih) itu satu. Misalnya, bisa dilihat dari peristiwa alam, siang-malam, suka-duka, lelaki-perempuan.

“Ini adalah sebuah kearifan. Perbedaan itu indah. Karena sebenarnya, berbeda itu satu. Dan tidak berarti berbeda itu melebur. Panas-dingin, berbeda tetapi satu,” ungkap peraih magister dari Dar Comboni Institute Cairo Mesir spesialisasi ilmu Perbandingan Agama ini.

Selain filsafat Jawa tentang harmoni itu, yang menarik dari budaya Jawa adalah etika yang sangat cocok untuk bangsa Indonesia. Etika ini sering diungkapkan dalam bentuk kata-kata mutiara. Misalnya tepo seliro, ojo dumeh, ojo rumongso iso tapi isoo rumongso, ngono yo ngono tapi ojo ngono, ngeli nanging ora keli.

“Banyak sekali. Makanya saya sangat komitmen untuk terus menyuarakan falsafah Jawa ini. Sekali lagi, Jawa bukan kesukuan, melainkan nilai-nilai,” ungkap anggota Dewan Konsultatif Indonesian Conference on Religon and Peace (ICRP) ini.

Hal ketiga yang dia suarakan dari budaya Jawa adalah estetika. Dengan sifat orang Jawa kuno yang lentur dan tidak merusak nilai-nilai sebelumnya, maka kesenian akan terus berpadu. Datangnya estetika baru tidak berarti harus menyingkirkan yang lama.

Contoh yang konkret adalah wayang dan ketoprak. Dipercaya, wayang adalah budaya asli Jawa. Sebelum Hindu atau Buddha masuk, wayang sudah ada. Diduga, di luar Jawa juga ada wayang. Namun yang masih tersisa hanya wayang yang ada di Jawa.

Ketika Islam masuk, wayang tak ditinggalkan. Tetap ada dan bermanfaat bagi syiar agama Islam. “Intinya adalah, Jawa adalah harmoni. Bagaimana hidup dalam perbedaan tanpa harus melebur dan tetap punya identitas,” tegas dosen Universitas Kristen Cipta Wacana Malang ini.

“Selain tiga itu banyak sekali nilai Jawa. Untuk menjabarkan semua tidak habis dua hari dua malam,” kelakar bapak berputra dua ini.

Dari berbagai nilai yang dia sebut Adiluhung itu, Bambang berkomitmen untuk terus menyuarakan nilai Jawa. Melalui berbagai seminar sarasehan, dan membuat buku. Bukunya yang pernah populer di tahun 2000 adalah Religi dan Religiusitas Bung Karno (Keberagaman Mengokohkan Keindonesiaan). Satu bab di dalamnya, berisi penjelasan filsafat Jawa yang mendorong terciptanya harmoni.

Dalam berbagai diskusi internasional, dia juga berupaya menyampaikan apa yang dia kagum dari nilai Jawa. Dia pun sempat mengusulkan dan mengonsep kurikulum berbasis nilai dan filsafat Jawa tersebut. Khusus yang satu ini, dia tidak bersedia menjelaskan panjang lebar. “Mungkin upaya saya ini yang membuat saya diberi gelar Kanjeng Pangeran oleh Surakarta Hadiningrat,” katanya.

Ke depan, dia ingin tetap menjaga dan mewariskan pengetahuannya tentang nilai dan filsafat Jawa. Dengan berbagai cara dan kepada siapa saja. Dia menganggap, Jawa adalah sebuah nilai yang akan selalu bisa menjadi perekat bangsa Indonesia yang ekstra majemuk ini. “Kalau digali lebih dalam, banyak sekali filsafat Jawa yang berguna bagi kebesaran bangsa ini. Intinya, hidup dalam harmoni,” tegasnya. (*)

Radar Malang, Senin, 08 Okt 2007

About these ads

2 Tanggapan

  1. kami adalah komunitas kejawen yang asli tanpa pengaruh agama manapun mohon sharring dg kami di blog kejawen maneges

  2. lihat videonya pak bambang di you tube =http://youtu.be/JrHVsemi5B

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: