Daftar Penerima Penghargaan Seniman dari Gubernur Jatim

Tahun 1998-1999

BASUKI RACHMAT (alm) – Surabaya. Lahir di Banjarmasin 24 April 1937, dramawan, cerpenis, penyair, mantan ketua DKS dan pemikir seni budaya ini, semasa hidupnya dikenal sebagai penggerak utama aktivitas kesenian di Surabaya.

MUHAMMAD ALI (alm) – Surabaya. Lahir di Surabaya 23 April 1927, sastrawan yang produktif, sejumlah cerpennya diterjemahkan dalam bahasa Inggris, pernah menjadi dosen luar biasa di Fakultas Sastra Universitas Negeri Jember dan biro Sastra DKS.

Tahun 1999-2000

BU SEMI (1885 – 1975), Banyuwangi. Bu Semi adalah penari gandrung wanita yang pertama, pelopor salah satu gaya tari Gandrung (Gandrung Semi). Tahun 1972, Bu Semi mendapatkan penghargaan dari Pemkab Banyuwangi.

KRISHNA MUSTAJAB (1931 – 1987), Surabaya. Lahir di Mojokerto, 4 Desember 1931, pelukis, juga penyair, fotografer, senang berorganisasi. Pameran tunggal di Washington DC, Maryland dan Buffalo New York AS, Art Centre, Wisconsin, Madison, AS dan dalam negeri.

DIAT SARIREJO, Surabaya. Empu Karawitan, pernah memimpin Unit Kesenian Jawa Timuran RRI Stasiun Surabaya, merintis penyusunan dasar-dasar kendangan Jawa Timuran. Banyak mencipta gending-gending Jawa Timuran. Diat lahir di Tarik Mojokerto, tanggal 30 Juni 1926,

D. ZAWAWI IMRON, Sumenep. Lahir tahun 1946 dan tetap betah tinggal di desa Batang-batang Sumenep, memenangkan sayembara nasional menulis puisi, tahun 1981 memenangkan lomba mengarang buku bacaan Sekolah Dasar. Menulis sejumlah buku, diantaranya mendapat penghargaan.

Tahun 2000

HARDJONO WS, Mojokerto. Seniman serba bisa ini lebih dikenal sebagai penggerak dan pembina teater anak-anak. Karya tulisnya berupa puisi, cerpen, novel, esai bahkan syair lagu serta naskah teater anak. Lahir di Bondowoso 11 Maret 1945, tinggal di desa Jatidukuh, Kec. Gondang, Mojokerto.

MOELJONO, Perupa, Tulungagung. Alumnus seni rupa ISI ini lebih suka membina anak-anak desa untuk “berbicara” dengan bahasa gambar. Kesenian Unit Desa (KUD) adalah konsepnya memberdayakan masyarakat desa melalui kesenian. Pernah mendapat penghargaan dan menjadi anggota (fellowship) Ashoka tahun 1987 atas kegiatannya dalam seni rupa penyadaran.

M. SOLEH ADIPRAMONO, Seniman Tradisi, Malang. Pelestari dan Pengembang Wayang Topeng Malang, pendiri Padepokan Mangundarmo di Tumpang, Malang. Juga aktif bergerak dalam kesenian tradisi seperti ludruk, Kuda Lumping, Seni Macapat Malangan. Lahir 1 Agustus 1951, kini beristrikan wanita Amerika (Elizabeth Karen) yang juga dikenal sebagai sinden.

KADARUSLAN, Penggerak Kesenian, Surabaya. Lahir 1 Juli 1931, ketua Putera Surabaya (Pusura), penggerak pertama Aksera, Pekan Seni Surabaya 700 tahun 1994, yang kemudian menjadi cikal bakal Festival Seni Surabaya (FSS). Banyak membantu dan mendorong siapa saja yang mau maju dan berani berkreasi. Cak Kadar bagaikan virus positif bagi aktivitas kesenian.

HASAN ALI, Penggerak Kesenian, Banyuwangi. Kamus Hidup Kebudayaan Blambangan, mantan ketua Dewan Kesenian Blambangan, pejuang budaya dan bahasa Osing. Arsitek penetapan Hari Jadi Banyuwangi ini lahir 7 Desember 1933, telah menyelesaikan Kamus Bahasa Osing yang menjadi kebanggaannya.

KASNI GUNOPATI, Seniman Tradisi, Ponorogo. Mbah Wo Kucing, panggilannya, lahir 30 Juni 1934 adalah seorang Warok tulen, aktif dalam organisasi kebatinan dan membina seni reyog anak-anak. Salah satu jasanya adalah, reyog kini banyak berkembang di Jakarta. Dia selalu menyebut Reyog, bukan Reog, karena punya makna filosofis.

TAHUN 2001

AMANG RAHMAN JUBAIR, Pelukis, Surabaya. Akademi Seni Rupa (Aksera), Dewan Kesenian Surabaya (DKS) dan Bengkel Muda Surabaya (BMS) tidak dapat dilepaskan dari peranan penting Amang Rahman. Lahir di Surabaya, 21 November 1931, pameran di berbagai negara. Penghargaan dari Gubernur Jawa Timur sebagai seniman berprestasi (1985) dan Penghargaan dalam Biennale Dewan Kesenian Jakarta (1989).

AM MUNARDI, Seniman Tari, Surabaya. Meninggal dunia tanggal 23 Maret 2000, pengamat tari yang tekun, termasuk mengadakan penelitian Wayang Topeng di Malang bersama DR. Sal Murgiyanto. Hingga sekarang belum muncul penggantinya. Memulai dari dunia tari panggung, kemudian beberapa kali membuat koreografi, diantaranya Calon Arang dan Seblang.

SURIPAN SADIHUTOMO, Sastrawan, Surabaya. Prof. DR. Suripan Sadi Hutomo, dikenal sebagai “Doktor Kentrung” karena kepakarannya tentang seni teater lisan tradisional itu. Dia dikenal dengan julukan HB. Yassin Sastra Jawa. Lahir di Blora 5 Februari 1940, satu-satunya pakar folklor humanitas di Indonesia. Berbagai buku ditulisnya dalam bahasa Jawa, Indonesia dan juga Inggris.

SARNEN GUNO CARITO, Dalang Wayang Beber, Pacitan. Lahir di Pacitan sekitar tahun 1909, mendalang sejak tahun 1944. Ki Sarnen Guno Carito, keturunan dalang wayang beber ke 12. Putra sulungnya, Ki Sumardi Guno Utomo meneruskan tradisi sebagai dalang wayang beber Pacitan. Tradisi wayang beber masih hidup di Pacitan berkat jasa Sarnen.

Ki PANUT DARMOKO, Dalang Wayang Kulit, Nganjuk. Ki H. Panut Darmoko dalang tiga zaman, dengan kemampuan sanggit yang mengagumkan, serta mengajarkan etika dan moral pada dalang lainnya. Lahir di Nganjuk, 10 September 1931, Penghargaan Seni Presiden RI (1980), dan Penghargaan Seni dari Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (2001).

AKHUDIAT, Sastra Lakon, Surabaya. Lahir di Rogojampi, Banyuwangi, 5 Mei 1946, AM Arovah Akhudiat adalah penulis naskah drama yang produktif. Banyak menulis naskah terjemahan. Berulangkali memenangkan sayembara penulisan lakon versi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Tahun 1975 mengikuti International Writing Program di Iowa University, USA.

ANANG HANANI, Dramawan, Surabaya. Lahir di Surabaya, 30 Agustus 1943, alumnus Akademi Wartawan Surabaya (AWS), instruktur/penatar soal drama dan baca puisi, sutradara teater, juri baca puisi dan lomba drama. Mantan Ketua Penggemar Seni Teater Surabaya (Teater Merdeka), Komite Teater DKS, dan salah satu Ketua DK-Jatim.

PENI SRI DJASMINTYAS, Pembina Seni Musik, Surabaya. Bu Peni, nama akrabnya, adalah pembina dan pelatih musik. Lahir di Surabaya 14 September 1937, aktif di Gereja Jawi Wetan, sekaligus mengisi paduan suara. Mengajar di sekolah resmi, meski hanya berijazah SGTK dengan bekal Surat Izin Mengajar.

AMANG MAWARDI, Penggerak Kesenian, Surabaya. Sejak tahun 1990 Amang telah menyelenggarakan sekitar 100 kali pameran lukisan, termasuk meyakinkan Jawa Pos dan PT. Semen Gresik menggelar pameran lukisan kelas nasional. Lahir di Surabaya 23 September 1953, sebagai pekerja seni, Amang banyak terlibat dalam aktivitas seni dan kewartawanan.

HENRI NURCAHYO, Penulis Kesenian, Sidoarjo. Lahir di Lamongan, 22 Januari 1959, aktif di LSM dan kepanitiaan kegiatan kesenian. Menulis sejumlah buku kesenian dan buku biografi, menulis lepas di media massa dan aktif dalam berbagai diskusi, seminar, workshop dan sebagainya. (kunjungi: http://www.henrinurcahyo.wordpress.com)

TAHUN 2002

GATUT KUSUMO HADI (budayawan, Surabaya). Lahir di Purwokerto, 3 Februari 1928, mantan Komandan Kompi TRIP dan perwira staf Angkatan Perang RI di Jakarta hingga tahun 1954. Menulis novel, skenario dan menyutradarai film Penyeberangan, film dokumenter, film perjuangan. Melukis, mendirikan Aksera, Ketua DKS, Ketua Umum Gerakan Pemuda Sosialis. Kumpulan tulisannya diterbitkan dalam buku Sosialisme Indonesia.

RATNA INDRASWARI IBRAHIM (sastrawan, Malang). Lahir di Malang 24 April 1949, cerpenis produktif, sering juara lomba penulisan. Terpilih dalam Antologi Cerpen Perempuan Asean (1996). Ketua Yayasan Bhakti Nurani Malang, Disable Person Organization, Direktur I LSM Entropic Malang (1991). Mendapat kesempatan mengikuti berbagai seminar internasional, di Sydney, Beijing, USA, Washington DC (1997), Wanita Berprestasi dari Pemerintah RI (1994).

SUPARTO BRATA (sastrawan, Surabaya). Lahir di Surabaya, 27 Februari 1932, telah tercatat dalam buku Five Thousand Personalities of the World, sixth edition, 1998, terbitan The American Biographical Institute. Pemenang Hadiah Rancage 2000 dan 2001, penulis produktif, termasuk disadur dalam bahasa mandarin dan diterbitkan di RRC.

M. FUDOLI ZAINI (sastrawan, esais, Surabaya). Lahir di Sumenep, 8 Juli 1942, menerbitkan sejumlah kumpulan cerpen. Buku antologi Kota Kelahiran mendapat hadiah dari Yayasan Buku Utama sebagai karya fiksi terbaik, sedangkan Suminten mendapat penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta, 1999.

DUKUT IMAM WIDODO (sastrawan, penulis, Surabaya). Lahir di Malang, 8 Juni 1954, penulis produktif, sering juara penulisan, juga menulis novel dengan setting Soerabaia dan bukunya yang monumental adalah: Soerabaia Tempo Doeloe.

H. MOEKIT FAQTURROZI (dramawan, Surabaya). Lomba Drama Lima Kota (LDLK) adalah karya monumentalnya. Mendapat penghargaan seni atas dedikasinya menyelenggarakan LDLK dari para pekerja teater Surabaya. Lahir 30 Juni 1924, Moekit Faqturrozi, sudah memulai berteater pada awal-awal negeri ini merdeka. Pernah duduk di Biro Teater DKS.

MASMUNDARI (pelukis Damar Kurung, Gresik). Damar kurung dan Masmundari adalah asset berharga bagi Gresik dan Jatim, Pemerintah Kabupaten Gresik menjadikan damar kurung sebagai maskot kota. Tinggal di kampung Jl.Gubernur Suryo VIII no 41.B Gresik, Masmundari hanya memiliki satu anak, satu cucu, masih terus melukis.

MUNALI FATAH (seniman tradisi, penggiat ludruk, Sidoarjo). Pencipta Remo Gaya Munali Fatah, lahir di Sidoarjo 17 Mei 1924, aktif di ludruk sejak tahun 1938 bersama Cak Durasim. Pusat Lembaga Kabudayan Jawi (PLKJ) di Surakarta memberikan penghargaan khusus pada Munali dengan hadiah dari Gubernur Jawa Tengah. Penghargaan yang serupa juga diberikan oleh panitia Festival Cak Durasim 2002.

SOEDARSO (pelukis, Sidoarjo). Lahir tahun 1914 di Adjibarang Banyumas, pernah mengalami masa kejayaan ketika masih bersama-sama dengan Affandi, Dullah dan Sudjojono membentuk Empat Serangkai, disamping juga tergabung dalam Pusat Tenaga Rakyat bagian kebudayaan. Pelukis kesayangan Bung Karno ini sempat mengajar di ASRI kali pertama.

SASMITO ESMIET (sastrawan, Banyuwangi). Lahir di Mojokerto 20 Mei 1938, tahun 1957 bermukim di Banyuwangi, mantan Komisaris Organisasi Penulis Sastra Jawa untuk Wilayah Jawa Timur, sekretaris Pusat Kesenian Jawa Tengah (PKJT). Menulis buku Sastra Jawa, memimpin Sanggar Kuning di Genteng, meraih penghargaan Rancage dua kali, penghargaan dari PKJT, dari penerbit majalah Jayabaya, dan pemerintah Suriname (1990).

Penghargaan Khusus

* DAHLAN ISKAN (pengusaha, pecinta seni, Surabaya). Lahir di Takeran, Magetan, 17 Agustus 1951, membangun karier jurnalistik sejak menjadi koresponden majalah Tempo dari Samarinda hingga menjadi CEO Jawa Pos Group. Meski sibuk dengan dunia jurnalistik dan mengembangkan perusahaan Jawa Pos, perhatiannya terhadap kesenian tidak juga pudar. Dahlan memberikan perhatian dan bantuan yang memungkinkan barongsai tumbuh kembali dan berkembang. (*)

TAHUN 2003

ARIBOWO, Penggerak Kesenian, Surabaya. Mantan ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS) dan Dewan Kesenian Jawa Timur (DK-Jatim), menulis cerpen, melukis, banyak diundang menjadi pembicara kesenian dan kebudayaan, terlibat dalam banyak kegiatan kesenian. (*)

BUBI CHEN, Musisi, Surabaya. Pianis jazz terbaik Asia versi majalah jazz terkemuka Amerika, Downbeat. Joachim Ernst Berendt, kritikus jazz dari Jerman, menyebutnya the Art Tatum of Asia. Lahir di Surabaya 9 Februari 1938, konsernya telah menjelajah lima benua. Tahun 1989, Bubi Chen mendapat penghargaan dari Walikotamadya Surabaya sebagai warga yang berprestasi. (*)

BUDI DARMA, Budayawan, Surabaya. Guru Besar dan mantan Rektor IKIP Surabaya ( Unesa), banyak menulis buku. Lahir di Rembang, 25 April 1937, sarjana sastra Inggris UGM ini meraih S-2 dan S-3 di Indiana University USA. Penerima Penghargaan dari UGM, Menmud Pemuda, The Marquis Who’s Who in the World (USA), Sea Write Award, Penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta, dan Harian Kompas atas jasa-jasanya cerpen di Indonesia. (*)

EMHA AINUN NAJIB, Budayawan, Jombang/Yogyakarta. Lahir di Jombang 27 Mei 1953, pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren Gontor, dan duduk sejenak di bangku kuliah Fakultas Ekonomi UGM Yogyakarta. Tahun 1980 mengikuti lokakarya teater di Philipina, International Writing Program di Iowa University, AS (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam (1984), Festival Horison III di Berlin (1985). (*)

HASNAN SINGODIMAYAN, Budayawan, Banyuwangi. Pejuang kebudayaan Using, aktif dalam sastra, menulis naskah sandiwara radio berbahasa Using. Pemangku kebudayaan Using yang representatif. Alumnus Pondok Gontor ini (1955) Penasehat DKB (1995), Koordinator Badan Koordinasi Kesenian dan Kepariwisataan Blambangan (BK3) serta anggota Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). (*)

HENING PURNAMAWATI, Pelukis, Sidoarjo. Alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pameran tunggal di Pusat Persahabatan Indonesia Amerika (PPIA) tahun 1988, rajin pameran bersama hingga keliling dunia. Penghargaan dari ASRI Yogyakarta, ISI, Indonesian Art Awards versi YSRI – Phillip Morris. Tokoh Populer Berprestasi Jawa Timur versi Harian Surabaya Post (1996), Penghargaan dari Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya RI (1998). (*)

HENGKY KURNIADI, Pengusaha, Surabaya. Kolektor lukisan yang selektif. Alumnus Fakultas Ekonomi Ubaya (1990) dan Fakultas Hukum Ubhara (2002), mendirikan beberapa LSM dan Yayasan dengan aktivitas seminar, workshop dan penerbitan, penggerak Lingkaran Persaudaraan Gerakan Pemberdayaan Warganegara bersama tokoh-tokoh nasional (*)

RASIMUN, Seniman Tradisi, Malang. Penari Gunungsari Wayang Topeng Malang sejak 1939. penari Beskalan Putri Malangan, Remo Putri, Topeng dan Jangger. Lahir di Desa Glagahdowo, Tumpang, Malang, tahun 1921. Mengajar di Padepokan Seni Mangundarmo. Trampil membuat/menyungging topeng dan penata/pembuat busana tari topeng. Menerima penghargaan beberapa kali. Penyelamat Tari Topeng Malangan yang nyaris punah. (*)

SUTOWO, Seniman Tradisi, Surabaya. Soero Bledek alias Sutowo (lahir tahun 1935), aktor ludruk tiga jaman, pemeran terbaik lomba ludruk se-kota Surabaya tahun 2003. Towo tak pernah menyerah, tetap konsisten sebagai pemain ludruk, meski menjadi pemain ludruk tak bisa diandalkan untuk mendapatkan penghasilan yang memadai. (*)

TAMSIR AS, Sastrawan, Tulungagung (1936-1997). Sastrawan yang produktif, pembimbing Sanggar Sastra Triwida. H. Tamsir Arif Subagyo, nama lengkapnya, pernah menjadi wartawan majalah Penyebar Semangat (PS), redaktur tabloid berbahasa Jawa “Jawa Anyar”, Ketua Komisariat Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ) Jawa Timur, pendiri dan ketua Sanggar Sastra Triwida Tulungagung. Menulis banyak karya bahasa Jawa. (*)

TJAHJONO WIDARMANTO, Sastrawan, Ngawi. Lahir di Ngawi 18 April 1969, produktif menulis puisi dan esai di berbagai media. Beberapa kali memenangi sayembara menulis, puisi-puisinya telah dibukukan, mendirikan berbagai komunitas seni budaya, dengan aktivitas kajian, penerbitan, dokumentasi, pameran dan diskusi-diskusi kebudayaan. (*)

About these ads

2 Tanggapan

  1. Tulungagung, 12 Agustus 2008

    Perkenankan saya ikut berbicara mengenai dunia perbukuan di tanah air, khususnya bagi teman-teman seniman, penulis, sastrawan di Jawa Timur yang sangat concern dan memiliki kepedulian terhadap perkembangan perbukuan.
    Terus terang, saya merasa prihatin atas kurang munculnya penerbit buku di Jawa Timur, terutama dari kota Surabaya yang terkesan biasa-biasa. Memang, selama ini Kota Yogyakarta-lah yang menjadi barometer perbukuan nasional, tapi siapa tahu ada maestro yang peduli?!
    Dan, buku saya yang sudah terbit 49 buah, hampir semuanya diterbitkan dari penerbit Yogyakarta, dan sebagiannya dari penerbit Jakarta dan Solo. Buku-buku saya tersebut bertemakan mengenai agama dan budaya. Siapa tahu, setelah membaca tulisan ini, lantas ada yang tergerak untuk aktif menulis buku. Selama ini, saya merasa prihatin atas kenyataan yang menimpa teman-teman penulis yang tulisannya belum dapat diterbitkan oleh penerbit besar, di antaranya disebabkan beberapa hal, yakni;
    Pertama, barangkali adanya keyakinan yang salah, misalnya mengatakan “Hanya penerbit gila saja yang mau menerima tulisan saya seperti ini!” Karena keyakinannya yang salah itu, tentu mereka tak mengirimkan tulisannya ke penerbit.
    Kedua, karena merasa rendah diri terlalu berlebihan (minder), maka mereka tak mencoba mencari alamat-alamat penerbit yang sangat banyak.
    Ketiga, mungkin juga mereka tak mengetahui bahwa pemasaran buku di Indonesia ini masih menyimpan misteri. Artinya, tidak semua buku bagus bisa laris manis di pasaran. Sebaliknya, bisa jadi buku yang gitu-gitu aja yang laris di pasaran.

    Demikian tulisan saya, semoga dapat membangkitkan semangat berkarya bagi teman-teman di Jawa Timur.

    Hormat kami,
    ttd
    Wawan Susetya
    Penulis Tulungagung

  2. alangkah senangnya bila para dewan bisa mengerti maksud dan tujuan rakyat golongan bawah……..
    terima kasih….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: