Awiek Tjandra, Musisi Tionghoa Peracik Lagu-Lagu Religi India

Kawinkan Syair India, Beat Keroncong, dan Melodi Jawa
Nama Awiek Tjandra cukup beken di kalangan warga keturunan India. Tak cuma di Surabaya, tapi juga dikenal di Jakarta, bahkan pernah bermain di Singapura dan Malaysia. Pria Tionghoa itu disuka karena kepiawaiannya menciptakan dan meramu lagu-lagu religius India.
DOAN WIDHIANDONO
“COBA dengarkan,” kata Awiek Tjandra sembari memencet beberapa tombol di keyboard-nya kemarin (14/15). Sesaat kemudian, mengalunlah suara flute. Iramanya khas. Ada dominasi nada-nada pentatonis Tiongkok. Begitu suara seruling surut, ada beat keroncong yang tiba-tiba menyeruak. Asyik.
Awiek manggut-manggut lalu tersenyum. Bibirnya menggumamkan syair tentang ketenteraman batin. Baris-baris lagu tersebut bercerita tentang Puthaparti, kota di India, tempat Sai Baba bermukim.
Ya. Lagu Senja di Puthaparti yang berirama keroncong itu memang bercerita tentang hati Awiek yang luruh tersentuh kebajikan seorang Bhagavan Sri Sathya Sai Baba. Tokoh spiritual dari India itulah salah satu yang mengubah garis hidupnya.
Alkisah, sejak berusia belasan, Awiek sudah malang melintang sebagai pemain band. “Kira-kira sejak umur 16 atau 17 tahun,” kata pria kelahiran Surabaya, 14 Oktober 1947 itu. Awiek pernah bergabung beberapa band beken. Misalnya, Kasino Band yang masih eksis hingga sekarang.
Bapak tiga anak-Natalia Christina Tjandra, Wilmendy Aditya Tjandra, dan Ivander Aditya Tjandra-itu juga ikut membentuk The Gembels. Pada era 1970-an, band legendaris Surabaya tersebut pernah membikin beberapa hits. Misalnya, Pahlawan Tak Dikenal, Kalimas, dan Singasari. Awiek juga berkarib dengan Gombloh dan beberapa musisi lawas Surabaya.
Awiek tak cuma musisi. Dia juga penyuka binaraga. Karena itu, meski berumur 60 tahun, Awiek tampak 20 tahun lebih muda. Lengannya masih keras. “Pegang saja,” katanya sambil menyorongkan otot trisepnya kepada Jawa Pos.
Pada era 1990-an, Awiek adalah sekretaris Persatuan Angkat Besi dan Berat Seluruh Indonesia (PABBSI) Jatim. Awiek yang punya klub binaraga Champion, berkali-kali menghelat even olahraga membentuk tubuh tersebut. Dia juga kerap mendatangkan jawara-jawara binaraga dari beberapa negara. “Ini dari Singapura, saya ajak foto-foto di patung kerapan sapi (Urip Sumoharjo, Red). Jalan sampai macet,” kata Awiek sembari menunjukkan album berisi foto pria-pria kekar bercawat.
Dua hobi Awiek itu memang diturunkan dari orang tuanya. Ayah dan om Awiek begitu menggemari binaraga. Sedangkan dari keluarga ibunya, Awiek diwarisi darah seni. “Mbah saya pemusik. Ada yang pelukis, pematung, atau memahat,” ungkap lulusan sekolah Tionghoa Ming Jiang dan Sin Chung itu. Sekolah dasar dan menengah tersebut ditutup setelah era 1960-an.
Di luar itu, Awiek adalah pengusaha. Bidang yang dia geluti adalah tekstil. Lewat jalur tersebut, dia banyak berkenalan dengan warga keturunan India. “Sekitar 1991-1992, saya kenal dengan Pak Narain,” ujar suami Dinda Tanny, 47, itu.
Naraindas Tikamdas Sakharani (Narain) adalah salah satu tokoh masyarakat India di Surabaya. Narain wafat pada 25 Mei lalu setelah diserang diabetes mellitus selama enam tahun.

Awiek pun kerap datang saat ada perkumpulan atau persembahyangan warga India. “Biasanya saya yang menggarap dekorasi ini,” ujarnya sembari menunjuk foto-foto persembahyangan. Dekorasi biasanya dibuat dari tirai dengan gambar beberapa dewa-dewa Hindu. Mulai Shiva (Siwa), Vishnu (Wisnu), atau Ganeca (Ganesa).
Saat datang ke beberapa acara persembahyangan itu, Awiek merasa aneh mendengar lagu-lagu religi yang dimainkan. “Rasanya janggal. Kurang enak. Sebab, musiknya cuma pakai terbang (rebana, Red.) dan tamborin,” kata Awiek. Sebagai orang yang berkecimpung di musik, Awiek merasa musik itu bisa lebih diperindah.
Sekian lama berkarib dengan warga India, Awiek yang Tionghoa itu oke saja ketika diajak ke India. Yang mengajak adalah Jack Bhagwani, salah seorang tokoh. Awiek dan istrinya dibawa ke Puthaparti. Mereka menuju ashram (tempat pendidikan atau asrama) milik Sai Baba.
Awiek begitu kaget karena orang-orang dari seluruh dunia, dari berbagai latar belakang dan agama, memuja Sai Baba sebagai guru. Memang, ajaran cinta kasih dan kerendahan hati spiritualis itu begitu memikat sebagian orang. Di beberapa situs internet disebutkan bahwa Sai Baba mengajarkan Love, Truth, Peace, Non Violence, dan Right Conduct.
Maka, di tengah-tengah lautan manusia itu, Awiek berujar dalam hati, “Swami (guru, Red), bila diperkenankan, saya akan membuat musik bhanjan (puji-pujian, Red).” Tak dinyana, Sai Baba melintas di depannya. Sang Guru itu berhenti di depan Awiek. “Saya cium kakinya. Itu adalah sebuah keberuntungan, saya bisa cium kakinya tanpa berebut,” katanya.
Sepulang dari India, Awiek kian giat mendengarkan musik-musik tradisional India. “Saya cari kunci-kuncinya,” ungkap warga Jalan Imam Bonjol itu.
Semakin lama, Awiek kian tenggelam dalam irama India itu. “Musiknya penuh misteri,” ungkapnya. Saat meditasi, misalnya, Awiek merasa musik itu membawa daya magis tersendiri. Karena itu, dia pun kian asyik membedah melodi, beat, dan improvisasi musik Hindustan tersebut. Hingga sekarang, Awiek sudah membuat lebih dari 1.800 lagu. Semuanya tersimpan dalam memori keyboard-nya.
Musik garapan Awiek memang khas. Unsur tradisionalnya masih kental. Namun, aroma modern tak juga hilang. Pada 1997, Awiek bertemu salah seorang anggota Sai Center (perkumpulan pengikut Sai Baba) Prof Dr Ravi dalam sebuah pertemuan di Surabaya. Dia mendapat pujian dari professor tersebut. “Kata Ravi, selama dia berkeliling ke berbagai negara di dunia, tak pernah ada musik bhanjan yang dimainkan secara tunggal melalui keyboard,” kata Awiek.
Dia juga tak ragu-ragu mengawinkan irama India dengan melodi dalam negeri. Misalnya, lagu Irewa. Iramanya keroncong abis. Namun, melodi lagu itu begitu syahdu. Melodi keroncong kadang ditingkahi tabuhan tabla (gendang India) yang khas. Awiek yang menyanyikan lagu itu kemarin terasa begitu terhanyut. “Banyak orang yang menangis mendengar lagu ini,” kata Awiek yang diwawancarai di salah satu ruang di rumahnya yang berfungsi layaknya studio.
Tapi, apa arti lagu Irewa? “Lha itu saya yang belum paham,” kata lulusan SMA dr Soetomo itu sembari tertawa. Memang, Awiek fokus pada racikan melodi dan penggarapan lagu. Soal syair, dia kerap menyitir bait-bait pujian dari berbagai buku atau kaset. Tak jarang, dia menggarap ulang lagu-lagu dari album religi India.
Selain itu, beberapa lagu sengaja diciptakan full memakai irama Nusantara. Ada yang bernuansa Bali, ada pula yang Jawa. Salah satu lagu yang dicontohkan punya bait seperti ini: Donya tansah owah, kelanggengan namung Gusti ingkang kagungan (Dunia selalu berubah, keabadian hanya milik Tuhan). Iramanya begitu njawani. Pentatonis Jawa menguasai larik-larik melodi tembang itu.
Kata Awiek, syair lagu yang belum punya judul tersebut digarap salah seorang bakta (pengikut Sai Baba) dari Jawa Tengah. Awiek sendiri mengakui bahwa salah satu kelemahannya adalah membuat syair. Sebab, dia memang tak mempelajari bahasa India. “Bisa-bisa keliru kalau saya mengarang,” ujar pria yang kini menyukai Ravi Shankar, musisi sitar India, itu.
Meski begitu, lagu-lagu gubahannya cukup disukai berbagai kalangan. Respons positif diketahui lantaran Awiek selalu berdiskusi dengan para audiensnya. “Saya besar karena kritik,” ujarnya.
Karena itu, kian lama bakat dan hobi Awiek pun terus berkembang. Dia kerap diundang ke berbagai acara masyarakat India. Yang rutin adalah pertemuan di Sai Center (perkumpulan pengikut Sai Baba) di Surabaya. Biasanya, Awiek bermain tiap Kamis malam.
Di Jakarta, Awiek pernah bermain di rumah keluarga Raam Punjabi, produser terkenal, tersebut. Awiek juga sempat bermain di Malaysia dan Singapura. Dan semua yang melihat permainannya begitu terhanyut.
Tak ingin menjual lagu-lagunya? “Saya belum berpikir ke sana,” katanya. Yang terang, saat ini Awiek telah begitu gembira tatkala lagu-lagunya dinikmati khalayak. Meski tak mendapat honor sepeser pun, Awiek tetap senang. “Itu kan kerelaan kita,” ucapnya.
Selain itu, setelah menekuni musik-musik itu, Awiek tampak begitu religius. Sesuai ajaran Sai Baba, dia tak mau meninggalkan kelenteng.
Kelenteng? Ya. Awiek memang pemeluk Konghucu. Dinda, istrinya, Katolik. Menurut Awiek, Sai Baba memang tidak mengajarkan agama apa pun. “Beliau justru meminta para pengikutnya untuk menghayati ajaran agama masing-masing secara penuh kasih,” ujarnya.
Dan,bagi Awiek Tjandra, kasih itu juga bisa disebarkan lewat alunan melodi dan syair-syair pujian dalam lagu-lagunya. (*)

Jawa Pos, Sabtu, 15 Des 2007

About these ads

3 Tanggapan

  1. can anybody tell me where sai baba center in Surabaya is located? i want to know more about indian culture especially about hindi language. looking forward for kind reply. just mail me at febi.1700@gmail.com. thnx.

  2. Greetings!

    How is everybody? I am a newbie here!

    Laters ya’ll!!!

    Athena
    Custom Tees

  3. where is the song?
    its just description..
    i need the example. . .
    and i want hear the song to.
    please make some one can download it…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: