
MAHAL: Lukisan Berburu Singa karya pelukis terkenal Raden Saleh menjadi koleksi lukisan termahal di Galeri Seni The Meteor. AGUNG RAHMADIANSYAH/RADAR SURABAYA
SEJAK Agustus lalu, di Surabaya hadir Galeri Seni The Meteor. Galeri ini bisa disebut istimewa karena koleksinya sangat lengkap. Kehadiran galeri di Jl Arjuno itu seolah memecah kesunyian minimnya galeri seni yang ada di Kota Pahlawan.
Galeri ini menyimpan banyak benda bernilai seni maupun budaya yang sangat tinggi. Ada lukisan karya pelukis terkenal Raden Saleh Syarif Bustaman atau yang lebih dikenal dengan nama Raden Saleh hingga Affandi, patung Dewi Kwan Im, guci-guci antik, jam tangan merek terkenal, miniatur patung, hingga permata dan berlian.
Dari sekian koleksi itu, lukisan adalah benda paling banyak yang disimpan di The Meteor. Pemilik galeri, Buyung Soetanio, mengatakan ada ratusan lukisan yang ia pajang di galerinya itu. Semua lukisan koleksi pribadinya. ’’Saya memang suka mengoleksi lukisan. Kalau ditanya sejak kapan, saya lupa. Sudah puluhan tahun sih,’’ kata Buyung ditemui akhir pekan lalu.
Kecintaan Buyung pada lukisan tak bisa dilepaskan dari kekagumannya pada seni maupun budaya bangsa. Tak heran kalau dari sekian ratus lukisan yang ia koleksi, mayoritas adalah karya anak negeri. ’’Saya juga suka lukisan yang objeknya semua hal tentang Indonesia,’’ ujarnya.
Semua lukisan yang dikoleksinya mempunyai arti sendiri-sendiri. Dari sekian ratus lukisan, Buyung menyimpan kekaguman lebih pada karya-karya Raden Saleh. Salah satunya lukisan berjudul Berburu Singa. Lukisan bertahun 1854 itu berukuran cukup besar, kira-kira 150 x 80 cm.
Objek lukisan mengenai perburuan singa. ’’Bukan hanya karena lukisan itu salah satu karya Raden Saleh yang usianya tua. Tapi, juga karena lukisan itu memberikan spirit hidup pada setiap orang yang melihatnya,’’ bebernya. Jika dinilai dengan rupiah, lukisan tersebut konon sudah berharga Rp 4 miliar.
Lukisan lain yang juga menjadi pusat perhatian pengunjung The Meteor adalah karya Raden Saleh berobjek seorang putrid sedang duduk. Dilihat dari wajah maupun busananya, putri yang dilukis itu seperti putri-putri Keraton Solo atau Jogjakarta.
’’Lukisan ini bisa bicara dengan setiap orang yang melihatnya,’’ kata Suwandi, ketua Sanggar Candi Anom yang sering berkunjung ke The Meteor.
Suwandi menjelaskan, lukisan bertahun 1860 itu akan terlihat jelek bila dilihat dari jauh. Misalnya, jika dilihat dari jarak sekitar 10 meter, seolah-olah mata si putri terpejam. Begitu pula bibirnya, juga tak menampakan senyum. Tapi begitu yang dilihat dari dekat, kira-kira berjarak dua meter, ternyata sang putri sedang tersenyum manis denga tatapan mata yang indah. (opi)
Radar Surabaya, 7 November 2008
DIarsipkan di bawah: Venues



















tolong kirimin foto lukisan karya basuki abdulah dan afandi
Jual Cepat Bu,
Original Drawing Conte Sri Sultan HB.V
nego. Serius >!!!
email : zuliant_02@yahoo.com
website saya : http://www.zuliantart.co.nr
contact : 0274-6811931
081328196176
terimakasih.
Mohon maaf..
saya awam di bidang lukisan, kolega saya memiliki sebuah lukisan yang dikatakan dilukis oleh pelukis italia yang bernama D’Almato pada tahun 1890.
Lukisan itu akan dijual. Lukisan itu adalah koleksi Tjokorde Sukawati (dulu Presiden Indonesia Timur).
Berhubung saya disuruh memasarkan lewat internet, bagaimana baiknya? mohon petunjuk. Mohon dibalas email saya ini
Terima kasih.
oke banget
Rasanya begitu bangga karena Indonesia memiliki banyak pelukis yang namanya hingga mendunia. Semoga akan terus seperti itu selamanya