Melihat Pameran Seni Rupa Ujung Gang

Gerakan Solidaritas, Bentuk Protes Sempitnya Ruang Apresiasi

Sepuluh perupa Bangkalan bergabung memamerkan karyanya di sebuah gang sempit di pusat kota. Apa di balik pameran unik ini?

AHMAD MUSTAIN SALEH, Bangkalan

———————————————————————–

SEBUAH gang sempit yang lebih dikenal dengan Rong Kene’ di Kelurahan Demangan, Kota Bangkalan, sejak hari Sabtu (22/11) dan kemarin ada yang berbeda. Di mulut gang dihiasi dengan balutan spanduk dan berbagi lukisan. Tak lupa, ada tulisan yang mengabarkan sedang ada pameran seni rupa oleh sepuluh seniman Bangkalan.

Ketika memasuki mulut gang, puluhan lukisan sketsa telah terpajang di kanan kiri gang. Berbagai kisah dan sosok terdapat di sana. Sebagian memang lukisan bertema budaya dan kritik sosial.

Lukisan milik Choirul anwar misalnya, berkisah tentang kejantanan sapi kerap asal Madura. Pria yang akrab disapa Mr Chair ini juga melukiskan kebanggaan perasaannya menjadi orang Madura. Sehingga, ada enam seri lukisan berjudul “Madura, Akulah Darahmu”.

Selain lukisan bertema budaya, lukisan milik seniman muda Anwar Sadat juga berhasil menarik hati para pengunjung. Sadat banyak melukis hal-hal yang berkaitan dengan kritik sosial kehidupan masyarakat Bangkalan. Seniman asal Arosbaya tersebut mensketsa seperti nasib masyarakat Bangkalan pasca-Jembatan Suramadu.

Selain Mr Chair dan Sadat, seniman lainnya seperti Mas Ir, Hosna, Ramyadi, Hosen, Eroni, Adrian, Sahrul, dan Tajab juga menampilkan hasil karyanya yang memberikan warna tersendiri pada pameran tersebut. Bahkan, kehadiran mereka seakan melepaskan dahaga para masyarakat pecinta seni rupa di Bangkalan untuk menikmati hasil karya seni yang dahsyat itu.

Anwar Sadat misalnya. Seniman muda yang pernah memberanikan diri menggelar pameran detak pertama di depan Stadion Bangkalan tahun lalu itu mengaku menemukan wadah baru untuk terus mengembangkan kreasinya. “Baru sekarang ada pameran seniman Bangkalan. Ketika saya diajak, saya langsung setuju,” akunya

Hal yang sama disampaikan Eroni. Salah satu penggagas Pameran Seni Rupa Ujung Gang tersebut mengaku, pameran tersebut adalah gerakan solidaritas para perupa untuk menggugah para fasilitator di Bangkalan untuk peduli pada dunia seni. Khususnya seni rupa.

“Terakhir kita dapat ruang untuk seniman perupa pada 2002 lalu. Setelah itu tak ada sedikit pun ruang untuk memamerkan hasil karya. Semuanya dikuasai segelintir orang yang ternyata tidak bertanggung jawab,” ujar Eroni

Ke depan, Pameran Seni Rupa UjungGang tersebut akan terus dilakukan secara reguler dengan berpindah dari gang ke gang lainnya. “Biarlah kita kecil, terpenting kita tidak mau lagi dipisah dan diceraikan lagi oleh mereka yang hanya berjuang untuk kepentingannya sendiri,” katanya.

Mr Chair menambahkan, dengan pameran yang akan digelar rutin, akan menjadi tujuan baru bagi para masyarakat pecinta seni rupa, termasuk para pelajar di Bangkalan, untuk belajar bersama dan memerdalam pengetahuan mereka terhadap dunia seni.

“Kita akan terus berharap seniman lainnya bergabung bersama. Sehingga seni sebagai penopang kehidupan generasi bangsa tetap terjaga di Bangkalan,” ujarnya. (mat)

Radar Madura, Senin, 24 November 2008

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: