Badri, Pelukis asal Grati Kabupaten Pasuruan

Pengagum KH Hasyim Asyari, Ingin Jadi Buah Bibir

Pasuruan punya banyak pelukis handal. Selain punya Jupri dengan kekayaan terobosannya, ada juga pelukis Badri. Dia tak kalah hebat.

FANDI ARMANTO, Pasuruan

————————————————–

Badri bisa dibilang penganut ujaran “banyak anak banyak rezeki”. Simak saja ketika Radar Bromo menjumpainya Senin (5/1) lalu. Di sebuah rumah sederhana di Desa Kedawung Gg 8 Kecamatan Grati, Badri tinggal bersama istrinya, Sri Sukartati, dan tujuh anaknya.

Rumah berpagar bambu itu terlihat asri dan indah. Tatanannya khas. Kolam di pojok membuat rumah itu terasa kian alami.

Hari itu Badri berpenampilan santai. Mengenakan kaos putih dan celana pendek warna coklat. Di pintu rumahnya Badri ramah menyapa Radar Bromo. Saat itu ia bersama Diwani Kutsi dan Sadrah Tawang Mahasa, anak keenam dan ketujuhnya. “Silakan masuk. Saya sudah menunggu dari tadi,” ucap Badri yang kini berusia 47 tahun.

Ruang tengah rumah Badri tak ubahnya galeri. Sekitar 12 lukisan berbagai ukuran ada di situ. Ada yang sudah jadi dan berbingkai. Ada juga yang belum selesai.

Salah satu lukisan sangat menarik perhatian. Tapi belum jadi. Ukurannya cukup besar, 2,5 x 5 meter. Ketika Radar Bromo menatap lukisan tersebut, Badri langsung memberi penjelasan. “Kalau yang besar itu orderan dari Tebuireng (Ponpes Tebuireng). Lukisan itu bercerita tentang penangkapan KH Hasyim Asyari oleh penjajah,” tutur Badri sambil menunjuk gambar wajah Hasyim Asyari di lukisan tersebut.

Badri menyebut dirinya pelukis dengan aliran realis. Manusia menjadi obyek favoritnya. Tak ayal, hampir seluruh lukisannya berobyek manusia. Dan KH Hasyim Asyari, tokoh pendiri NU itu memang sosok yang dia kagumi.

Konon, dari tangan Badri lah tercipta lukisan wajah KH Hasyim Asyari versi paling baru beredar. Lukisan wajah KH Hasyim Asyari yang dijadikan background panggung Konferwil NU Jatim di Ponpes Zaha Genggong dua tahun lalu adalah karya Badri juga.

Saat ini Badri tengah membuat lagi lukisan kedua KH Hasyim Asyari. “Cuma kali ini saya buat lebih dari yang pertama. Sekedar tahu saja, saya membuatnya dengan mencontohnya dari foto,” katanya.

Apakah masih ada foto KH Hasyim Asyari itu ? “Ada. Tapi burek. Nah, di situlah tugas saya untuk menyempurnakan lagi. Sudah saya kerjakan kok. Tapi belum selesai. Namun saya belum bisa menunjukkan ke sampeyan. Kalau sudah waktunya, nanti saya tunjukkan,” ucapnya membuat penasaran.

Lalu sambil menyiapkan minuman, Badri menyebutkan satu persatu judul lukisannya yang ada di ruang tengah rumahnya. Ada lukisan yang dia beri judul Buah Bibir, Menu Sehari-hari, Perkara Pisang, Provokasi, Pakai Otak Dong dan lainnya.

Semua lukisan itu obyeknya manusia. Badri menyebut setiap lukisannya bebas diinterpretasikan. “Segala arti apapun nggak apa-apa. Yang penting ini semua adalah inspirasi saya semua,” katanya.

Lukisan berjudul Menu Sehari-hari memvisualkan seorang lelaki berbalut sarung tidur di sebuah piring oval beralaskan daun selada plus irisan tomat dan segelas air.

Badri mengartikan lukisan tersebut sebagai suasana politik yang sering terjadi di Indonesia. “Orang yang berada di lukisan itu terlihat seperti makanan empuk. Tak ubahnya seperti orang yang akan diperebutkan oleh politikus-politikus,” jelas Badri.

Dengan gaya realis, Badri berusaha menyampaikan kritik sosial lewat karyanya. Lukisan berjudul Menu Sehari-hari itu salah satunya. Badri memandang, obyek orang di lukisan itu sebagai sesuatu yang istimewa. Sebab, orang-orang sederhana macam itu bisa membuat politikus mengemis-ngemis suara pada pesta demokrasi nanti.

“Orang-orang dari kelas ini nantinya akan menjadi sasaran empuk politikus. Makanya saya bilang makanan empuk. Boleh dibilang, mereka akan dibutuhkan oleh para politikus nanti,” ujar Badri menjelaskan satire (sindiran) yang terkandung dalam lukisannya.

Soal obyek lukisan, Badri sepertinya tidak pilih-pilih. Ada seorang saudaranya yang wajahnya sampai muncul dalam beberapa lukisannya. “Kalau itu Pak No, saudara saya. Dia memang paling sering menjadi obyek saya ketika melukis. Saya senang lekuk tubuhnya,” terangnya.

Pak No, lanjutnya, sering diminta datang untuk menjadi obyek. Ternyata lelaki yang ia panggil Pak No itu juga senang jadi obyek lukisan. Tapi, kata Badri, Pak No tak selalu menjadi modelnya. “Seringkali juga saya melukis dari gambar foto. Dari foto, imajinasi saya keluar,” katanya.

Ia mencontohkan lukisan gambar artis Tyas Mirasih. “Lukisan itu saya buat karena teman saya dari Jakarta yang tak lain dosen artis tersebut meminta saya untuk melukiskan. Dan saya buat hanya melihat dari foto saja. Cuma, saya imajinasikan sendiri dan akhirnya mempunyai judul Tyas Mencari Tubuhnya,” terangnya.

Di samping orang lain, Badri juga menjadikan dirinya sebagai obyek lukisannya sendiri. Seperti dalam lukisan berjudul Buah Bibir yang menggantung di tembok. Wajah Badri terlihat di dalam mulut seseorang. “Itu impian saya nanti. Saya ingin menjadi buah bibir seseorang,”terang Badri tentang lukisannya itu.

Walau kelahiran Batu, Malang, Badri kadung cinta pada Pasuruan. Daerah Lekok bahkan menjadi daerah favoritnya. Masyarakat dan daerah pesisir itu memberinya banyak inspirasi. Maklum, sejak kecil daerah Lekok sudah menjadi tempat bermain Badri.

“Saya kagum melihat orang Lekok. Dan seringkali orang-orang Lekok menjadi inspirasi saya. Seperti ketika mereka memikul ikan ataupun sedang beraktivitas di pasar,” ujarnya.

Badri sampai pernah mengajak temannya pelukis asal Jakarta datang ke Lekok. Teman Badri itu juga mengakui keistimewaan Lekok. “Saya sampai dibilang pintar memilih tempat. Bagi semua orang, Lekok itu biasa. Tapi bagi saya, di sana saya bisa menemukan inspirasi terutama kehidupan sosial,” tuturnya.

Soal pameran, lelaki yang pernah kuliah teater di lembaga kesenian Jakarta (sekarang IKJ) ini sudah pernah beberapa kali mengadakan. Tercatat sejak 1997. Sayangnya ia menyebutkan apresiasi masyarakat Pasuruan terhadap lukisan masih kurang.

Untuk itulah ia mempunyai obsesi. Ia menginginkan adanya galeri seni Badri di Pasuruan yang nantinya berfungsi untuk menjadi tempat masyarakat Pasuruan menghargai karya lukisan. “Tidak hanya lukisan saya. Tapi semua pelukis di Pasuruan. Itu butuh kerja keras. Bukan sebuah galerinya. Tapi saya ingin dengan adanya galeri tersebut, masyarakat Pasuruan bisa tahu kalau sebenarnya Pasuruan itu kaya akan seni,” ujarnya bersemangat.

Untuk itu kini ia tengah merintis langkah dengan membangun komunitas pelukis. Dari komunitas nanti, ia yakin pelukis-pelukis Pasuruan dapat dikenal sampai internasionl. “Mungkin komunitas ini akan saya wujudkan dahulu di Pasuruan dan Probolinggo. Saya yakin di kedua kota ini, pelan-pelan obesesi saya terwujud,” tutur Badri. (*)

Radar Bromo, Rabu, 07 Januari 2009

About these ads

Satu Tanggapan

  1. Salam, salut buat komunitas Brang Wetan.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: