Jember – Penari Jember, Adinda Miranti, peraih Hibah Seni Kelola Hivos 2009, menampilkan seni drama dan tari (sendratari) untuk melestarikan kesenian khas Jember, seperi Can Macanan Kadhuk dan Lengger, yang terancam punah.
“Saya melihat kesenian tradisional Jember sudah punah, sehingga saya mencoba untuk mengenalkan kembali kepada masyarakat Jember, khususnya ‘Lengger’ dan ‘Can Macanan Kadhuk’,” kata Adinda, Jumat.
Tiga karya terbaik Adinda Miranti yakni “Besini”, “Cemplung” dan “Napel” sudah ditampilkan dalam gelar seni kontemporer (gertak) di aula Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Jember (Unej) selama dua hari (11-12) Juni.
Menurut dia, masyarakat sudah bosan dengan tarian Lengger dan Can Macanan Kadhuk, sehingga harus ditambahkan inovasi dalam gerakan kedua tarian yang hampir punah tersebut.
“Saya akan mencoba melakukan gerakan-gerakan tari yang inovatif untuk menyajikan kesenian ‘Lengger’ dan ‘Can Macanan Kadhuk’ lebih menarik lagi,” katanya.
Lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu, merasa prihatin ketika kembali ke Jember karena kesenian tradisional Jember jarang ditampilkan dalam beberapa acara daerah.
“Pelu adanya kreasi tari dan seni yang bagus untuk menarik minat generasi muda mempelajari kedua kesenian rakyat asli Jember,” katanya.
Sendratari “Napel” yang disajikan Kamis (11/6) malam pernah ditampilkan di Festival Cak Durasim di Surabaya, sedangkan sendratari “Cemplung” peraih Hibah Seni Kelola-Hivos 2009, dipentaskan secara perdana di Jember.
Zumrotun Solicha
antarajatim, Jumat, 12 Jun 2009 14:11:43
DIarsipkan di bawah: Seni Tari



















penyelenggara’e di tulis juga dunk…………………..