Petakan Budaya Dengan Konsep Obat Nyamuk

Melihat Kegiatan Pemetaan Budaya oleh Lembaga Kebudayaan Lamongan (LKL)
Banyaknya budaya Indonesia yang diklim Malaysia memantik keprihatinan mendalam. Untuk mengantisipasi kasus seperti itu terjadi terhadap kebudayaan Lamongan, para seniman Lamongan yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Lamongan (LKL) berinisiatif melakukan pemetaan budaya asli Kota Soto tersebut.

B. FEBRIANTO, Lamongan

Sekitar 30 seniman Lamongan dari berbagai komunitas seni, seperti ludruk, wayang, jaran kepang, teater, paguyuban permadani pada 7 September lalu terlihat berada di tiga kecamatan. Mereka sedang melakukan safari sekaligus pemetaan budaya.

Perjalanan mereka diawali dari Kecamatan Modo kemudian dilanjutkan ke Sukorame dan perjalanan diakhir di Desa Songowareng Kecamatan Bluluk. Di setiap kecamatan tersebut mereka bersilaturahmi ke rumah para seniman di masing-masing kecamatan sekaligus mendata serta menanyakan perkembangan aktivitas seni yang mereka geluti.

Beberapa aktivitas seni yang didatangi antara lain seni sandur, ludruk, hingga campursari. Mereka kemudian mendiskusikan hasil safarinya tersebut di halaman rumah Kepala Desa Songowareng dengan lesehan.

Menurut penasehat LKL, Viddy AD Daery, Desa Songowareng dipilih sebagai tempat diskusi karena desa itu dulu dikenal kaya dengan seni ornamen rumah penduduk.. ”Memandang Desa Songowareng saya merasa ada kesan, bahwa dulu desa ini desa kaya karena banyak terdapat peninggalan rumah-rumah yang terbuat dari kayu jati berukir indah, dengan bentuk joglo atau bucu sesuai dengan teori Antropologi Desa yang pernah saya pelajari sewaktu kuliah,” ungkapnya.

Namun saat ini, ujar budayawan nusantara tersebut, ada kesan menjadi terlantar. Rumah-rumah tradisional tersebut satu persatu dijual kepada orang kota yang ingin mempunyai rumah ala desa. Sebaliknya orang desa bangga mengadopsi gaya kota dan ramai-ramai membangun rumah tembok yang tidak akrab lingkungan. ”Padahal di Thailand,Malaysia bahkan negara-negara Eropa dan Australia, desa tetap desa dan kota tetap kota. Desa adalah alternatif kota, sehingga kalau orang kota bosan dengan suasana kota, mereka menjadi turis yang berkunjung ke desa. Desa menjadi makmur karena menyewakan homestay-homestay untuk orang kota,” paparnya.

Menurut Viddy, di Indonesia sebenarnya juga mulai digalakkan program Desa Wisata.. Tapi sayangnya desa-desa sudah kadung rusak karena berusaha menjadi kota. Mereka merasa malu jika tetap berbentuk desa. ”Sungai-sungai dan jublang-jublang yang dulu asri ramai-ramai diurug dijadikan tempat membuang sampah,” tukasnya.

Sementara itu menurut penasehat LKL laonnya, Haris Asito, kunjungan silaturahmi ke kantong-kantong budaya itu akan terus digalakkan LKL untuk memetakan kebudayaan Lamongan sebelum diklaim komunitas lain. ”Buktinya masih ada kesenian Jepaplokan atau disebut juga Jaran Sepaplok serta Jaran Kepang Dor di Songowareng yang hidupnya kembang kempis sehingga mudah diklim pihak lain yang bersedia memberi perhatian,” paparnya.

Menurut Ketua LKL, Hidayat Iksan, kunjungan silaturahmi budaya tersebut persis dengan ketika dewan (DPRD) mengadakan kunjungan hearing. ”Bedanya hearing ala LKL ini tampak lebih serius dan tulus, sedang yang dilakukan oleh dewan tampak cuma “abang-abang lambe” ,” tukas pria yang juga mantan anggota DPRD Lamongan itu.

Sekretaris LKL, Rokhim ED menambahkan, konsep pemetaan budaya yang dilakukan LKL tersebut seperti makan bubur atau menyalakan obat nyamuk bakar. Yakni mulai bergerak dari pinggir kemudian ke tengah. Harapannya agar bisa menyatukan energi kebudayaan lokal yang masih kuat di wilayah pinggiran. ”Karena baru kali perama dilakukan, hasil pemetaan budaya tersebut belum bisa disimpulkan. Kesimpulannya setelah safari budaya ini selesai di semua wilayah. Selanjutnya hasilnya bisa dipikirkan lebih lanjut menyangkut pengamanan budaya asli Lamongan tersebut,” tukasnya.

Aktifis seniman dan budayawan yang hadir pada kesempatan itu antara lain Haris Asito, Hidayat Iksan, Maruwa Naya, Viddy AD Daery, Rokim ED, Fanani Mosah, Is Kasihady, Kris Yanto dan Jumartono. Diskusi yang dimulai pukul 16.00 tersebut diakhiri dengan berbuka puasa bersama.(*)

Radar Bojonegoro-Jawa Pos Group
[ Sabtu, 12 September 2009 ]

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: