Ayu Sutarto, Budayawan, Jember, Bukan Sekadar Peneliti

Bertanyalah perihal suku Tengger, maka Ayu Sutarto siap menerangkan panjang lebar luar kepala. Dia bukan sekadar akademisi yang terus menerus melakukan penelitian, tetapi sebagai budayawan dia selalu tampil ke depan membela masyarakat minoritas yang tersisihkan oleh gelombang jaman. Tengger, adalah salah satu etnis di lereng pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, yang relatif sering jadi obyek berbagai pihak. Maka Ayu Sutarto bagaikan pembela bagi mereka, sekaligus juru bicara bagi siapa saja yang ingin memahami kesehariannya. Bahkan hasil penelitiannya tentang masyarakat Tengger, pernah menjadi Juara dalam pemilihan naskah humaniora Balai Pustaka, Jakarta.

Sebagai ahli folklor, namanya sangat dikenal di kalangan akademisi dan forum-forum ilmiah. Ia adalah salah satu dari hanya empat ahli folklor di negri ini. Karena itu, peneliti masalah-masalah tradisi dan penulis produktif ini sering diundang ke berbagai forum di tanah air, bahkan juga mancanegara. Bahkan, bukan hanya sebagai ilmuwan, Ayu Sutarto bahkan sering diposisikan sebagai budayawan yang mampu memberikan perpektif budaya dalam berbagai hal.

Dr. Sutarto, SS, MA, populer dipaggil Ayu Sutarto, lahir dan sekolah hingga SMA di Pacitan, meneruskan ke Universitas Gadjah Mada Yogyakarta jurusan Sastra Inggris hingga tingkat Sarjana Muda. Meneruskan pada jurusan yang sama di Universitas Jember hingga lulus Sarjana tahun 1978. Kemudian berlanjut lagi mengikuti program Magister Humaniora Pascasarjana, serta kursus Post Graduate Rijks Universiteit Leiden, Nederland tahun 1993-1994. Pada saat belajar dan mengadakan riset di Belanda itulah Ayu Sutarto sempat mengajar bahasa Jawa kepada orang-orang Suriname yang bermukim di Rotterdam. Tahun 1997, berhasil menyelesaikan studi program Doktornya di Universitas Indonesia dengan predikat cum laude.

Sejumlah buku yang memuat tulisannya antara lain: TheLegends of Madura. Sudirman: A Simple Man, A Great General. Queen Kilisuci: Stories of Reog. Kamus Khusus Inggris – Indonesia. Legenda Kasada dan Karo Orang Tengger Lumajang. Disamping itu, juga buku mengenai mitos Gunung Bromo. Sastra Jawa Sebagai Sastra Lisan. Kumpulan makalah dan artikelnya yang tersebar di berbagai media pun di kumpulkan dan diterbitakn dalam buku “Menjinakkan Globalisasi” Selain karya ilmiah, Ayu Sutarto juga menulis novel. Diantaranya trilogi “Dua Hati Menuju Matahari.”

Meski aktif meneliti dan menulis, toh Ayu aktif berorganisasi, diantaranya Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia Komda Jember, anggota Masyarakat Pernaskahan Nusantara, Wakil Ketua Masyarakat Peduli Bromo, ketua Kelompok Yayasan Untukmu si Kecil (Memberdayakan Akar Rumput). Dalam penyusunan Sejarah Kebudayaan Indonesia, Ayu Sutarto dipercaya sebagai salah satu utusan Jawa Timur. Bahkan di rumahnya di Jember, Ayu juga aktif melestarikan dolanan anak-anak dengan berbagai acara. (hn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: