Pentas Persembahkan untuk Bawong Nitiberi

SURABAYA – Pementasan monolog Butet “Sarimin” Kartaredjasa di Gedung Cakdurasim berlangsung meriah tadi malam. Raja monolog itu benar-benar menepati janji untuk tampil maksimal di hadapan penonton Surabaya.
Antusiasme penonton terhadap pementasan perdana Sarimin cukup tinggi. Sejak pukul 19.00, penonton telah mulai memadati gedung. Pertunjukan itu adalah aksi Butet setelah pentas lakon sebelumnya, Matinya Toekang Kritik, juga dipenuhi pengunjung.
Di bangku VVIP tampak Wawali Surabaya Arif Afandi, Chairman/CEO Dahlan Iskan, pengamat dari ITS Kresnayana Yahya, pengamat politik Unair Priyatmoko Dirdjosuseno, seniman Surabaya Cak Kandar, dan beberapa seniman lain yang ikut menyaksikan langsung penampilan teater asal Jogjakarta itu.
Sejak di pintu masuk gedung pertunjukan, para pengunjung sempat dihibur dengan penampilan Sarimin yang sesungguhnya. Benar, Sarimin di luar gedung Cak Durasim ini benar-benar monyet yang diberi nama Sarimin.
Pukul 20.00, pementasan naskah karya Agus Noor pun dimulai. Cerita Sarimin yang menjadi inti cerita tentang jungkir baliknya logika hukum di negeri ini dibangun lewat kisah penemuan KTP di tengah jalan saat Sarimin sedang berkeliling menjajakan hiburan.
Selanjutnya, anak Bagong Kusudiharjo itu menyetil kondisi hukum Indonesia yang “berengsek” bahwa yang benar bisa menjadi salah dan yang salah bisa menjadi benar. Dalam membawakan tema, kali ini Butet masih seperti biasanya, subur dengan ceplas-ceplos yang segar dan khas.
Pementasan yang kental dengan kritik kepada para penegak hukum itu mulai tampak berisi saat diketahui KTP yang ditemukan Sarimin ternyata milik seorang hakim agung. Sebagai prototipe orang kecil, Sarimin akhirnya menjadi bulan-bulanan polisi dan juga pengacara yang mestinya membela. Sarimin dipaksa untuk mengaku mencuri meski sebenarnya dia hanya menemukan KTP, harus mengaku bersalah meski dia berbuat benar. Sarimin terpaksa masuk penjara. “Karena kau benar, kau salah,” kata Butet.
Di akhir pertunjukan, Butet yang dikenal sebagai tokoh monolog Indonesia menyampaikan penghargaan kepada seniman Surabaya almarhum Bayong Suatmadji Nitiberi. Tokoh teater itu, diakui Butet, sering menjadi inspirator dirinya dalam berkesenian. “Pentas ini kami persembahkan bagi almarhum Bawong Nitiberi,” kata Butet, lantas menutup pertunjukan.
Mereka yang belum sempat menonton pertunjukan tadi malam masih punya kesempatan untuk menyaksikan Butet “Sarimin” Kartaredjasa malam ini. (top/leak)

Jawa Pos, Sabtu, 15 Des 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: