Parade Tokoh dalam Lakon Joko Berek

Pergantian Tahun, Pemkot Tampilkan Ludruk Urban
SURABAYA – Lakon Jaka Berek Nglurug Taman Surya yang dihelat Pemkot Surabaya pada 31 Desember boleh jadi bukan ludruk kebanyakan. Betapa tidak, pentas yang dilabeli sebagai ludruk urban itu bak parade tokoh Surabaya dalam panggung kesenian tradisional tersebut. Bersama-sama, mereka bakal adu akting pada pentas yang diadakan untuk menyambut 2008 itu.
Sejatinya, ludruk urban tersebut disutradarai Bawong Suatmadji Nitiberi. Namun, seniman teater itu sudah berpulang pada 26 November lalu. Peran Bawong digantikan Tri Broto Wibisono, seniman tari.
Sebagai ludruk urban, pentas itu tak semata-mata membawa unsur tradisional. Ada aroma modern yang menyembul pada garapan musiknya. Musik itu adalah gabungan gamelan dan musik modern. “Musik digarap siswa SMKN 9 dan beberapa seniman lainnya,” kata Tri, penari yang memperoleh Penghargaan Seniman Jatim 2005 itu.
Unsur modern tersebut juga tampak pada isi cerita. Yang diangkat bukan semata-mata legenda Joko Berek. “Isu yang diangkat menyangkut problematika kondisi Surabaya saat ini,” ujar Tri. Misalnya, soal kebersihan, kedisiplinan, dan pergaulan.
Bukan cuma musiknya yang diberi sentuhan modern. Panggung dan properti pun diupayakan tidak kuno. Background panggung tidak dibuat dari kain yang berganti-ganti sesuai dengan adegan. Layar tersebut digantikan peranti multimedia yang dipandu komputer. “Yang penting, itu bisa memotivasi ludruk yang lain,” ungkapnya.
Yang cukup menarik pada ludruk tersebut adalah parade tokoh yang menjadi pemeran. Tak cuma tokoh ludruk, tokoh politik, sosial budaya, dan media pun ikut main. Di kalangan punggawa ludruk dan kesenian tradisional, ada Kartolo, Sidik Wibisono, Agus Kuprit, Supali, Kancil, dan Kirun.
Tokoh politik yang manggung adalah Caryn McClelland (konsul jenderal AS di Surabaya), Arif Afandi (Wawali), dan Sukamto Hadi (Sekkota). Orang media yang berpartisipasi adalah Nany Wijaya (direktur Jawa Pos) dan Dhimam Abror (Pemred Surya).
Soal kolaborasi itu, Agus mengatakan bahwa hal tersebut tidak ditujukan untuk menghidupkan ludruk. Bagi dia, kata yang tepat adalah mengembangkan. “Sebab, ludruk Surabaya tidak mati,” katanya.
Agus mengatakan, di Pulo, Wonokromo, masih terdapat kelompok ludruk yang tetap eksis. Kelompok itu ialah Irama Budaya.
Meski begitu, Agus mengungkapkan keprihatinannya pada respons kaum muda terhadap ludruk. “Mbok yo mereka itu mau berpartisipasi main ludruk,” ungkap Agus. (bro/dos)

Jawa Pos, Rabu, 19 Des 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: