Gebyak Bantengan Simbol Amukan Alam

BATU – Festival Gebyak Bantengan di Kota Batu kemarin (9/3) berlangsung semarak. Ratusan kelompok bantengan se-Malang Raya ikut andil memeriahkan acara yang baru pertama kali di gelar di Indonesia ini. Mereka menampilkan seni bantengan yang atraktif, serta menegangkan. Bahkan banyak seniman bantengan yang kalap sejak dimulai dari Stadion Brantas menuju balai kota itu.Ketua panitia festival Gebyak Bantengan Nuswantara, Agus Rahmat menyampaikan, festival ini sebagai upaya membangkitkan kembali budaya nusantara khususnya Jawa yang semakin terkikis. Katanya, Gebyak Bantengan ini termasuk kesenian yang unik karena mengandung unsur magis. Malahan, dipercaya mampu mendatangkan seluruh leluhur gunung se-Jawa dan nusantara. “Saat ini mereka hadir semua di Batu,” kata Agus.

Menurut dia, bantengan ini sebenarnya salah satu kesenian yang cukup tua. Sayangnya, kurang diperhatikan sehingga kurang dikenal masyarakat. Di Kota Batu, dia berharap kesenian ini semakin berkembang dan dikenal masyarakat.

Syaifuddin Zuhri, salah satu penggagas gebyak bantengan menyampaikan, festival ini sebagai simbol kemarahan alam yang dirusak manusia. Menurut Gus Udin, sapaan akrab Syaifuddin Zuhri, saat ini hutan yang ada di gunung-gunung sudah pada gundul, sehingga hewan-hewan yang ada di dalamnya seperti banteng, macan dan lainnya turun ke masyarakat. “Kata orang Jawa, kalau ada hewan liar turun dari gunung itu pertanda bahaya,” ujarnya.

Untuk itu, dia mengingatkan kepada semua masyarakat untuk peduli terhadap alam, seperti hutan gunung dan lainnya. Jangan sampai hutan dirusak dan lahannya disewakan atau dijadikan lokasi komersial. Menurutnya, biarkan alam itu seperti wujud asalnya, supaya ekosistem yang ada bisa terjaga. Dengan begitu gebyak bantengan ini juga sebagai simbol protes terhadap banyaknya bencana yang disebabkan oleh ulah manusia.

Wali Kota Batu Eddy Rumpoko yang ikut menyaksikan bantengan ini mengaku bangga dengan semangat para seniman Kota Batu itu. Katanya, ini menunjukkan masyarakat Kota Batu mencintai kesenian yang selama ini tidak dia ketahui. Diapun mengatakan, pemkot akan memfasilitasi kelompok-kelompok kesenian yang ingin mengembangkan kesenian di Kota Batu.

Sementara, festival tersebut juga dihadiri oleh ketua umum Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Wiranto, Presiden LiRa, Jusuf Rizal dan beberapa tokoh lainnya.

Usai menyaksikan festival, Wiranto berharap Gebyak Bantengan Batu ini segera dipatenkan, agar tidak diambil oleh orang lain atau negara lain. ” Jangan sampai kasus Reog Ponorogo terulang,” ujarnya.(lid/abm)

Radar Malang, Senin, 10 Mar 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: