Egoisme Seni Kontemporer

SURABAYA – Seniman Didi Tirto Sari punya cara sendiri dalam menggambarkan kebanggaan seseorang yang baru saja mendapatkan pekerjaan. Memakai atasan putih dipadu celana hitam, Didi berjalan berkeliling area Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) kemarin (8/4).

Apa yang dilakukan Didi itu merupakan bagian dari rangkaian pertunjukan seni kontemporer bertajuk Surabaya International Performance Art Event (SIP-AE) 2008. Acara tersebut berlangsung mulai Senin (7/4) hingga hari ini.

Mungkin tak banyak orang yang tahu maksud Didi. Guru kesenian di SD YPPI 4 itu mengakui bahwa aksinya lebih mengacu pada “keakuan”. “Inilah seni kontemporer. Kesannya egois. Tidak semua orang bisa paham apa yang dimaksud pelakon,” kata Didi.

Menurut Didi, dalam seni kontemporer, seniman diperbolehkan berekspresi sebebas-bebasnya. Bahkan, di tengah acara pun, sang pelaku seni bisa saja mengubah konsep pertunjukan.

Seni kontemporer juga memungkinkan pelaku untuk berinteraksi langsung dengan penonton. Misalnya, yang dilakukan Didi. Dia meminta penonton untuk membubuhkan tanda tangan di pakaian putih yang dikenakan. “Sebagai tanda sepakat ada kebanggaan ketika kali pertama berangkat kerja,” ujar Didi yang berusaha menyampaikan tema kritik terhadap kehidupan masyarakat kota dalam karyanya itu.

Namun, kebanggaan akan pekerjaan baru itu tak berlangsung lama. Ada kekecewaan yang dialami seseorang setelah menjalani dunia kerja. Hal itu disimbolkan Didi dengan menggunting pakaian yang sudah ditandatangani. “Sebagai bentuk protes,” ujarnya.

Tak kurang ada 19 penyaji tampil di acara SIP-AE itu. Beberapa datang dari luar Surabaya, termasuk tiga orang dari mancanegara. “Mereka datang dari Malaysia, Taiwan, dan Spanyol,” kata Ilham J. Baday, ketua panitia.

Selain Didi, kemarin tampil penyaji dari Bandung. Namanya Yoyoyogasmana. Dia memakai bunga mawar sebagai media ekspresi. Hari ini, seniman Agus Koecink dijadwalkan ambil bagian. Agus akan mengajak penonton untuk terlibat aktif dalam pertunjukannya. “Saya akan ajak bermeditasi dan berbicara pada alam,” katanya. “Seperti apa itu, datang saja ke sini,” imbuhnya. (dee/ayi)

Jawa Pos, Rabu, 09 Apr 2008,

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
    http://infogue.com
    http://infogue.com/seni_budaya/egoisme_seni_kontemporer/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: