Eks Museum Mpu Tantular Mangkrak

Jadi Tempat Tinggal Pengemis dan Gelandangan
SURABAYA – Surabaya tak jadi memiliki museum seni yang representatif. Rencana menyulap eks Museum Mpu Tantular menjadi tempat yang prestisius tersebut kandas. Gedung di Jalan Taman Mayangkara itu pun kini tidak terurus.

Pada Agustus 2006, Gubernur Imam Utomo mengeluarkan SK yang menetapkan gedung eks Museum Mpu Tantular itu sebagai museum seni. Dalam SK itu disebutkan susunan organisasi dan kepengurusan beserta pembagian tugas masing-masing.

Namun, baru bertahan dua bulan, SK tersebut dibatalkan sendiri oleh gubernur melalui surat yang dikeluarkan Dinas P dan K Jatim. Dalam surat tersebut, gubernur membentuk kepengurusan baru yang dinamakan panitia pemanfaatan aset.

“Dengan keluarnya surat itu, otomatis pengurus eks Museum Mpu Tantular yang ditetapkan sebelumnya dinyatakan bubar,” kata seorang sumber di kalangan seniman Surabaya kepada Jawa Pos kemarin (12/5).

Namun, meski telah ada SK baru, pemprov belum juga mengambil tindakan apa pun terkait dengan pengelolaan gedung cagar budaya tersebut. Akibatnya, museum itu tidak terurus. Rumput-rumput liar tumbuh di sana-sini. Pintu gerbangnya hanya dibuka di bagian timur dan barat yang menjadi akses ke kantor Dewan Kesenian Jatim. Tapi, sampah tidak sampai menggunung karena setiap hari ada yang membersihkan.

Di dalam gedung itu, terlihat tumpukan barang-barang seperti peralatan melukis yang digeletakkan begitu saja. Pintu sisi belakang ruang utama museum digunakan pengemis dan gelandangan sebagai tempat tinggal.

Mantan Ketua Pengelola Harian Eks Museum Mpu Tantular Achmad Fauzi saat dikonfirmasi membenarkan adanya pencabutan SK tersebut. Dia juga mengaku tidak tahu peruntukan gedung tersebut setelah pembatalan kepengurusan yang dia pimpin.

“Karena ada SK baru, kami tidak lagi punya kewenangan mengutak-atik gedung tersebut,” ujarnya.

Selama dua bulan SK berlaku, beberapa kegiatan seni telah dilangsungkan. Di antaranya, pembacaan puisi dan diskusi Detik-Detik Indonesia oleh Martin Jankowsy (seniman Jerman), pameran seni rupa kampus, pameran bersama museum daerah, serta pameran foto kesejarahan. (eko/ari)
Jawa Pos, Selasa, 13 Mei 2008,

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: