DKS Lumpuh, Seniman Gelisah

SUMENEP – Sejumlah seniman kabupaten ini mengaku resah. Pasalnya, wadah kesenian DKS (dewan kesenian Sumenep) seperti mati suri. Indikatornya, DKS lupa berkarya. Bahkan, reformasi DKS yang mestinya digelar 2005 belum digelar hingga paruh 2008 ini. Akibatnya, seniman gelisah ini membentuk FKS (Forum Kesenian Sumenep).

Jubir FKS Adi Purnomo mengakui, ada paradoks berkesenian di Sumenep. Menurutnya, seniman tertampung dalam wadah DKS. Tetapi, DKS dinilai lumpuh layu. Buktinya DKS gagal mengorganisasi seniman dan tak mampu memberi ruang ekspresi.

Sebagai warga negara, seniman berhak berkumpul dan berbeda pendapat. Karenanya, FKS dimunculkan untuk menjadi wadah alternatif. Alasannya, lembaga resmi seni pantas diduga sibuk dan tak sempat beraktivitas. “Kalau lembaga jalan di tempat apa bedanya dengan lumpuh?,” ujarnya di gedung dewan.

Menurut Adi, FKS yang diusungnya terdiri dari berbagai seniman. Dia katakan FKS bukan sebentuk budaya tanding. Tetapi, dia lebih suka menganggap lembaga baru tersebut sebagai tim SAR.

Adi berencana mengaktifkan kembali lembaga yang ada dengan melalui lembaga baru. “FKS ini hanya menjadi jembatan untuk mengaktifkan kembali DKS. Nantinya, FKS akan bubar setelah mengaktifkan DKS,” ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua DKS, Syaf Anton paham dengan sejawatnya yang berbeda pendapat. Penyair itu mendukung dibentuknya FKS.

Menurutnya, dia termasuk salah satu penggagas FKS. Selain itu, Anton mengakui kegiatan DKS agak sepi. Alasannya, DKS belum miliki payung hukum yang kuat. Akibatnya, faktor penggerak kegiatan tidak mengalir ke DKS.

Menurutnya, seniman sebagai warga, punya hak yang sama dalam berkumpul dan berbeda pendapat. Tetapi, dia berharap DKS tetap eksis dan digerakkan orang-orang yang ada di dalamnya.

Pria tegap itu juga menyadari DKS butuh reformasi untuk kepentingan masa depan peradaban. Namun, DKS harus didukung banyak kompenen. Diantaranya, dia contohkan yang wajib mendukung DKS antara lain seniman, dinas terkait, parlemen, dan masyarakat umum.

“Jadi butuh komitmen bersama untuk melestarikan kesenian,” paparnya. (abe/zr)
Radar Madura, Sabtu, 17 Mei 2008

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Tak usalah banyak berharap pada dewan kesenian, maju terus pantang mundur saudaraku dari sumenep, sebab waktu bergerak cepat, bahasa tandingan juga tak masalah, jika nantinya mampu membakar lemak dewan kesenian, sehingga malu dan lantas berbuat sesuatu. salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: