Perbedaan Dunia Seni dan Politik Versi Menkominfo

SURABAYA, MINGGU – Menkominfo, Mohammad Nuh mengemukakan bahwa dunia seni budaya adalah wilayah yang “nyaman” dibandingkan dengan wilayah kehidupan lainnya, terutama politik.
“Dalam dunia politik, meskipun ada AD/ART-nya, yang gegeran (ribut-ribut-red) bisa lebih banyak daripada yang akur,” katanya saat membuka Festival Seni Surabaya (FSS) 2008 di Balai Pemuda Surabaya, Minggu malam.

Namun, ujarnya, di dunia seni budaya yang terjadi adalah sebaliknya. Meskipun ada yang seharusnya diributkan, para seniman tidak lantas merasa perlu gegeran karena maqom (cara berpikir-red) seniman sudah melampaui pola pemikiran kelompok lainnya.

“Maqom berpikir seniman itu ada di posisi keempat. Pertama, orang yang hanya berfikir sesuai disiplinnya; kedua, adalah kombinasi dari berbagai disiplin ilmu; ketiga, berpikir kreatif atau melintasi disiplin tertentu dan kombinasi tadi,” katanya.

Keempat, lanjutnya, adalah berpikir yang selalu menghormati perbedaan sebagai konsekuensi dari kreatitivitas. Karena itu, maka posisi seniman setidaknya berada di maqom ketiga. Level paling tinggi ialah berpikir dengan berbasiskan etika.

“Sekreativitas apapun cara berpikirnya harus memperhatikan etika ini,” kata mantan Rektor Institut Teknologi Surabaya itu, yang ketika berpidato banyak menyelipkan bahasa Jawa dialek Surabaya.

Pada kesempatan itu ia juga mengemukakan bahwa bertemunya kebenaran dan keindahan akan memunculkan kesempuranaan atau setidaknya mendekati kesempurnaan.

“Kebenaran susah ditangkap gara-gara nilai keindahan tidak melekat di dalamnya. Ketidakbenaran dengan kuasa estetika tinggi mudah diterima. Saya kira FSS mengambil sisi keduanya,” ujarnya.

Pembukaan festival tahunan untuk memeriahkan HUT Kota Surabaya itu dihadiri Walikota Surabaya Bambang DH, Kapolwiltabes Kombes Pol Anang Iskandar, sejumlah perwakilan negara sahabat dan seniman.
WIP
kompas.com: Senin, 2/6/2008 | 00:41 WIB

Iklan

Satu Tanggapan

  1. —– “Sekreativitas apapun cara berpikirnya harus memperhatikan etika ini,” kata mantan Rektor Institut Teknologi Surabaya itu, yang ketika berpidato banyak menyelipkan bahasa Jawa dialek Surabaya

    Institut Teknologi Surabaya itu TIDAK ADA.

    Kalaupun yang dimaksud adalah ITS Surabaya, maka kepanjangan ITS adalah Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

    Ref:
    http://katamata.wordpress.com/2008/06/02/its/

    Salam,
    Katamata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: