Angkat Musik Gamelan

Malam Ini SFM Tampilkan ASA dan Tadulakota

SURABAYA – Seni karawitan tidak hanya didominasi orang-orang tua. Banyak remaja yang juga menyukai dan menggeluti. Setidaknya, itulah yang terlihat pada Parade Gamelan II, Surabaya Full Music (SFM) 2008, di Taman Budaya Jawa Timur kemarin (20/6).

Sedikitnya ada sepuluh sekolah Surabaya di antara 18 penampil yang meramaikan parade gamelan itu. Sepuluh sekolah tersebut adalah SDK Kristus Raja, SDN Koalisi Nasional Barata Jaya, SMP YPPI-1, SMPN 12, SMPK dan SMAK Santa Agnes, SMP dan SMA Santa Maria, SMKN 9, serta SMAK ”Untung Suropati” Sidoarjo.

Penampilan siswa-siswi kelas VII F SMPK Santa Agnes termasuk menarik perhatian penonton. Mengenakan kaus hitam dipadu kain jarit yang melilit, 30 pelajar itu tampil apik. Mereka memainkan tembang karya sendiri, Menyang Endi Paranku.

Menurut pembina SMPK Santa Agnes, Roedy Eko B.J. SSn, tembang itu terinspirasi seringnya pergantian menteri di Indonesia. Dalam pertunjukan berdurasi 9 menit tersebut, mereka juga membawakan lagu Cublak-Cublak Suweng. ”Sengaja saya masukkan lagu dolanan anak-anak itu karena sudah jarang dinyanyikan,” katanya.

Selain parade gamelan, tadi malam SFM menampilkan kelompok musik kontemporer Wedang Jahe (Surabaya). Mereka membawakan komposisi berjudul Pilkada dan KPU. Menurut Aris Setiawan, sang komposer, dua nomor itu merupakan bentuk respons atas kondisi yang terjadi sekarang.

Dalam dua karyanya tersebut, Wedang Jahe menggambarkan suasana suka cita, kesibukan sampai kemarahan dan ketidakpuasan para pendukung calon karena pilkada. Mereka menggambarkannya dalam alunan musik yang dinamis serta rancak. Bahkan, suasana quick count mereka gambarkan dengan musik. Mereka menggunakan alat musik kabasa untuk menghasilkan suara yang menggambarkan suasana sibuk di KPU saat penghitungan suara.

Sementara itu, nanti malam (21/6), panggung SFM menampilkan Aliansi Seni Surabaya (ASA) dan Kelompok Musik Tadulakota (Sulawesi Tengah). ASA pimpinan Solichin Jabar akan menyuguhkan komposisi Emosi, Prahara, Sumpek, dan Rasaku Nama. Tadulakota menyiapkan komposisi musik ruwat. Komposisi itu terilhami upacara ritual penyembuhan penyakit di pedalaman Kota Palu.

Pagi ini, I Wayan Sadra dari Solo memberikan materi dalam workshop musik perkusi. (jan/obi/ari)
Jawa Pos, Sabtu, 21 Juni 2008

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Salut dengan event tsb.tapi apakah ada penyebaran undangan? bisa didapat dimana ne? tx. Lucky wijayanti.Sanggar Tari AYU Surabaya. Jl.Siwalankerto 76 Surabaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: