Maestro Tari: Lelang Topeng untuk Biaya Hidup

 KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN / Kompas Images Mbah Karimun (89), sang maestro tari Topeng Malangan yang tinggal di Pakisaji, Malang, Jawa Timur, Kamis (30/10), terpaksa menjual koleksi topeng, bahkan padepokan tarinya, untuk biaya pengobatan.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN / Kompas Images Mbah Karimun (89), sang maestro tari Topeng Malangan yang tinggal di Pakisaji, Malang, Jawa Timur, Kamis (30/10), terpaksa menjual koleksi topeng, bahkan padepokan tarinya, untuk biaya pengobatan.

Malang, Kompas – Rencana lelang topeng karya Mbah Karimun (89) awal November mendatang rupanya hanya sebagian kecil dari upaya keluarga Mbah Karimun untuk menggalang dana mencari biaya pengobatan bagi sang maestro tari Topeng Malangan tersebut. Bahkan kalau diperlukan, gedung Padepokan Panji Asmorobangun yang menjadi simbol kejayaan Topeng Malangan milik Mbah Karimun juga akan dilelang.

Siti Maryam (60), istri ketujuh Mbah Mun—sapaan Mbah Karimun—kepada Kompas, Kamis (30/10), menuturkan, pilihan melelang topeng dan kemungkinan juga gedung latihan tari atau padepokan milik Mbah Mun merupakan salah satu cara terakhir yang bisa dilakukannya. Gedung tersebut diresmikan oleh Bupati Malang Edy Slamet pada tahun 1982.

”Mau bagaimana lagi. Memang kehidupan kami semakin sulit. Saya juga sudah membuat topeng setiap hari. Namun, memang untuk makan dan biaya berobat tidak murah,” ujar Mbah Maryam, begitu Siti Maryam biasa disebut.

Topeng karya Mbah Mun yang akan dilelang, menurut Mbah Maryam, adalah sepasang topeng Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji. Dua topeng tersebut merupakan salah satu masterpiece Mbah Mun, sejak dia masih muda dan berjaya.

”Harapannya dulu, karya besar ini bisa terus ada dan bisa diwariskan pada generasi berikutnya,” ujar Mbah Maryam.

Adapun rencana melelang gedung latihan tari Padepokan Panji Asmorobangun milik Mbah Mun, menurut Maryam, juga untuk memenuhi biaya hidup sehar-hari.

Selama berbincang-bincang dengan Mbah Maryam, Mbah Mun tertidur di kasur di samping ruang tamu. Sesekali ia mengeluh kesakitan. Tubuhnya yang semakin kurus layaknya kulit pembalut tulang, sesekali bergerak-gerak mencoba mencari posisi yang lebih enak.

Sudah setahun ini, menurut Mbah Maryam, sang maestro Topeng Malangan itu sakit dimakan usia. Mbah Mun lebih banyak tiduran di kasur karena hampir seluruh sendi-sendi tubuhnya terasa sakit.

Sebelum sakit, yaitu Desember 2007, Mbah Mun sempat pergi ke Jakarta menerima penghargaan sebagai maestro Topeng Malangan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. (DIA)

Kompas, Sabtu, 1 November 2008 | 03:00 WIB

Iklan

2 Tanggapan

  1. waktu masih 14 tahun yang lalu…duh da lama banget ya…masih teringat,saya masih sempat liat mbah Karimun menari,dengan semangatnya yg tinggi….dan banyak bercerita tentang kesian.Jadi salud ama perjuangan mbah Karimun.

  2. Mudah-mudahan kedepan tidak terjadi seperti maestro mbah Karimun. Masih ada orang mbah. Semoga budimu berkepanjangan ke generasi selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: