“ PIDATO BOSS PADA RUMAH DAN TETESAN “

Sanggar Lidhie Art Forum (LAF) Mojokerto akan mementaskan tiga naskah monolog dalam agenda pementasan keliling. Probolinggo adalah kota pertama yang akan dijadikan tempat pentas pertama mereka. Dengan menjalin kerja sama dengan pihak SMAN 4 Probolinggo, pentas digelar di aula SMAN 4 Probolinggo, Jl. Slamet Riyadi Kanigaran Probolinggo, Minggu, 25 Januari 2008 pukul 19.00 WIB.

“Apa kamu percaya kalau kamu tertawa tapi sebenarnya kamu menangis ..? tidak ..? kalau begitu kamu bahagia. Tidak seperti kami, tidak seperti robot ini, bangkai ini, badut besar ini..! kami harus tetap yakin dan setia meskipun tahu semua ini salah. Kamu dengar ..? kami bahkan tidak punya hak untuk merasa berdosa , itu tabu ..!!. sebagaimana semua sistim, ini adalah pembunuhan diri, tapi kami tidak berhak mati , kami harus hidup, karena kami harus menang.

“ Sebuah petikan naskah Boss karya Putu wijaya”

Riang sorak ramai ketika itu , langit mulai menggumpal dengan awan hitam “ tak terasa hari telah menginjak malam! Sebuah sanggar teater yang sederhana telah melakukan aktivitas (latihan) ketika itu, sebuah proses running tiga naskah monolog yang disutradarai oleh Bagus Mahayasa mewarnai suasana di Jl. Benteng Pancasila 62 Kota Mojokerto setiap hari.

Tiga naskah monolog ini dimainkan oleh tiga orang aktor masing-masing Mach. Novianto dalam naskah “Boss” karya Putu Wijaya, pendiri teater Mandiri Jakarta. Naskah Boss ini ditulis dan dihadiahkan untuk almarhum Alimin Lasasi yang meninggal pada tanggal 28 september 1989, Ia merupakan salah satu aktor terbaik dari Teater Mandiri. Buyung Akhirul Akbar dalam naskah “Pidato” Karya Putu Fajar Arcana, seorang wartawan seni budaya harian Kompas dan Siti Mafruka dalam naskah “Rumah dan Tetesan” karya Riris K. Toha Sarumpaet, seorang guru besar tetap di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Ketiga reperoar akan ditampilkan sekaligus pada satu panggung oleh Lidhie Art Forum dan berlangsung satu hari saja.

Dalam naskah Pidato karya Putu Fajar Arcana, Buyung Akhirul Akbar berperan sebagai sesosok pemuda yang telah dirasuki oleh roh seorang korban kekejaman masa pemberontakan PKI, yang mana ia tidak suka dengan hal yang berbau politik dimana ia menganggap bahwa orang-orang politik merupakan orang yang suka mencla-mencle. Seorang politikus yang dengan mudah mengumbar impian pada rakyat kecil yang mengatakan pada mereka bahwa mereka sanggup melepaskan penderitaan rakyat kecil yang selama ini dijerat hutang oleh para tuan tanah. Dengan tubuh yang diperankan oleh Buyung inilah ia mencoba berpidato dihadapan semua orang untuk menyampaikan semua hal yang menjadi keluhannya saat itu.

Sedangkan naskah Rumah dan Tetesan yang diperankan oleh Siti Mafruka, berbicara tentang seorang Ibu yang berperan dalam rumah tangga yang harus ia jalani sendiri tanpa seorang suami yang menemaninya dalam kehidupan. Ia harus berkorban untuk kedua anak yang dicampakkan dan dibiarkan oleh sang Ayah serta kehilangan kasih sayang. Dia tak sanggup memikirkan apa yang terjadi pada anak-anaknya hanya dengannya, Ia merasa, bagaimana impian mencapai tertinggi tidak sepenuhnya membuat dia lengkap. Siti Mafruka disini mencoba menggambarkan seorang Ibu yang bingung memahami posisi seorang Ibu dalam rumah tangga , tapi meski demikian akhirnya Ia menemukan bahwa ternyata bukan sebuah keluarga kokoh, Ia mendamba bahagia banyak orang, karena bahagia adalah kita semua, yang menerima dan yang menyerahkan, yang serumah dengan perbedaan.

Dalam naskah Boss karya Putu Wijaya yang diperankan oleh Mach. Novianto ini bercerita tentang kesenjangan antara Boss dan bawahannya di dalam suatu pekerjannya. Tersiksa dengan apa yang telah dilakukan oleh si Boss tersebut dan merasa cemburu dengan bawahannya. Hidup yang tidak tenang telah dialami terus setiap hari, kadang terasa jenuh dengan pekerjaannya, kadang merasa tidak nyaman dengan hidupnya yang telah dijalani. Kekhawatiran yang dialaminya seperti terjerat, terperosok ke dalam lubang pikirannya yang dalam dan jauh. Kesulitan yang terhindar oleh si bawahan ternyata sudah tak terbendung lagi bahwa ia harus tutup mulut tak peduli apa dan siapa yang ada dihadapannya.

Pentas monolog tiga naskah ini merupakan salah satu agenda pentas keliling 5 kota yang dipimpin oleh Adrian Dwi C sebagai pimpinan produksi. Kelima kota tersebut adalah Probolinggo, Nganjuk, Pasuruan, Ponorogo, dan Blitar. Agenda pementasan keliling ini merupakan agenda rutin dari sanggar Lidhie Art Forum (LAF) Mojokerto yang dipimpin oleh Bagus Mahayasa. Probolinggo adalah kota pertama yang akan dijadikan tempat pentas pertama mereka. Dengan menjalin kerja sama dengan pihak SMAN 4 Probolinggo, tiga naskah monolog ini akan dipentaskan di aula SMAN 4 Probolinggo yang beralamat di Jl. Slamet Riyadi Kanigaran Probolinggo pada hari Minggu tanggal 25 Januari 2008 pukul 19.00 WIB. Disamping agenda pentas keliling 5 kota ini, Lidhie Art Forum (LAF) Mojokerto memliki agenda rutin lainnya seperti workshop keaktoran, diklat teater pelajar, dialog budaya, dll.

Untuk lebih menjalin hubungan dengan pihak Lidhie Art Forum (LAF) Mojokerto dapat lewat contact person Lidhie Art Forum (LAF) Mojokerto : 0856 486 10191 (Buyung), 0852 308 88303 (Siti Mafruka), 0856 457 45176 (Adrian Dwi C) atau e-mail pada alamat : komunitas_laf_ mr@yahoo. co.id atau add as friend via alamat friendster : lidhieartforum@ gmail.com. (***)

NB: Terima kasih buat Cak Malik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: