Lestarikan Budaya, Ibu Rumah Tangga Bentuk Kelompok Bantengan

Satu-satunya di Malang Raya, Sukanya Nyeruduk “Duren”

Umumnya kesenian tradisional bantengan dimainkan laki-laki. Tetapi, tidak berlaku bagi Paguyuban Kesenian Tradisional Turonggo Mulyorejo Manunggal. Dari sepuluh pemain, semuanya kaum hawa. Kelompok bantengan perempuan ini juga satu-satunya di Malang Raya.

Ahmad Yahya

—————————–

Para ibu di Dusun Mojorejo, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, itu sebenarnya sibuk di dapur. Namun, di sela-sela kesibukan menjalankan kewajiban sebagai ibu rumah tangga, mereka tak mau ketinggalan mengambil peran menjaga kekayaan budaya negeri ini. Yakni bantengan.

Penampilan kaum hawa ini tidak kalah menarik dengan permainan yang disajikan kaum laki-laki. Mereka cukup lihai memainkan tarian banteng. Tak ubahnya laki-laki saat mainkan bantengan, kaum hawa juga kerap kerasukan.

Bukan menjadi pemandangan yang asing ketika tiba-tiba salah satu dari pemain bantengan ini mengerang dan menggelepar di atas tanah liat. Dengan tangan mencengkeram, tiba-tiba suara perempuan itu berubah menjadi aneh. Tak lama kemudian, sang perempuan yang kerasukan dipegangi beberapa orang dan ditidurkan menghadap langit sambil diselimuti kain. Setelah ditangani seorang pawang, dia kembali siuman.

Kondisi tersebut juga tersaji saat kelompok kesenian itu menjalankan latihan rutin mingguan di lapangan sepak bola Pendem. Meski hanya latihan, banyak juga peminatnya. Sesi latihan itu juga menjadi tontonan menarik warga setempat. Bukan hanya orang dewasa yang datang menonton, tapi juga kalangan anak-anak. Di antara deretan penonton atraksi gratisan itu, banyak juga dari kalangan keluarga para pemain seperti suami maupun anaknya.

“Kami senang bisa menjadi penjaga kelestarian kesenian bantengan. Keluarga memberikan dukungan kok,” kata Mujiati, salah satu pemain bantengan yang saat pertunjukan kerap kerasukan.

Aksi pementasan bantengan perempuan ini memang memiliki ciri tersendiri. Jika umumnya bantengan suka menyeruduk penonton kalangan wanita, kelompok ini suka malah menyeruduk kaum lelaki. Apalagi kalau menemukan duren alias duda keren dan pria ganteng, bantengan ini tak henti-hentinya menyeruduk. “Ya tahu. Kan ada yang membisiki,” kata Mujiati lalu tertawa.

Pemain banteng memang diapit dua pemain lainnya. Dua pemain pemegang tali di samping pemain inti bantengan, selain berfungsi mengendalikan gerak banteng, juga kerap memberikan bisikan. Tak jarang juga penonton ikut memberi tahu.

Kehadiran pemain bantengan perempuan ini memberikan daya pikat tersendiri. Maklum, dari sekitar 110 kelompok bantengan yang ada di kota wisata ini, kelompok bantengan perempuan di bawah naungan Paguyuban Kesenian Tradisional Turonggo Mulyorejo Manunggal itu merupakan satu-satunya kelompok bantengan dengan personel perempuan. Bahkan, di tingkat Malang Raya, baru paguyuban ini yang memiliki grup bantengan perempuan.Keberadaan bantengan perempuan itu sebenarnya belum lama. Mereka resmi mendeklarasikan diri pada Agustus 2008. Sebelumnya, mereka sudah lama bermain bantengan hampir sebelas tahun. Tetapi masih campur dengan pemain laki-laki. “Memang tidak semuanya lama bergabung dalam kesenian ini,” sambung Tri Wahyuni, anggota yang dituakan.

Dari sepuluh pemain bantengan, enam di antaranya sudah lama berkecimpung di Paguyuban Kesenian Tradisional Turonggo Mulyorejo Manunggal. Empat lainnya belum lama bergabung. Meski belum lama bergabung, mereka cukup memahami permainan bantengan. Maklum, suami mereka juga pelaku kesenian bantengan.

Nyaris tak ada kesulitan saat memainkan bantengan. Apalagi, sebelum terjun menjadi pemain bantengan, kaum hawa ini juga pemain jaran kepang. “Kami ingin memberikan warna yang berbeda dalam kesenian bantengan,” kata Misto Ari Wibisono, pembina dan pelatih paguyuban tersebut.

Kesulitan hanya didapati saat menyadarkan pemain yang kerasukan. Soalnya, proses penyadaran tidak berbeda dengan kaum laki-laki. Terkadang harus memegang pusar. Padahal, tidak ada pawang perempuan yang mengikuti perjalanan grup bantengan perempuan ini. (yn)

Radar Malang, Rabu, 28 Januari 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: