Agar Surabaya Tidak Hilang seperti Dupa

SURABAYA – Pembukaan pameran sketsa Soerabaia di Oejoeng Doepa karya Jansen Jasien di House of Sampoerna kemarin berlangsung unik. Selain torehan tinta, pameran dibuka dengan pembacaan puisi oleh Chairman/CEO Jawa Pos Dahlan Iskan bersama novelis Lan Fang.

Para tokoh yang menorehkan tinta sketsa di kanvas adalah Rektor Universitas Ciputra Surabaya Toni Antonio, Dirut SS Media Soetojo Soekomihardjo, General Manager Sales & Customer Service Telkomsel Tavadi Rimayuda, serta Dahlan Iskan. Sesuai tema pameran, mereka menorehkan tinta di kanvas dengan menggunakan ujung dupa seperti yang dilakukan Jansen. Gambar yang dihasilkan berbentuk jantung hati (kasih sayang), amplop merah (angpao, rezeki melimpah), dan tulisan Mandarin berarti langit.

”Wah, yang dlewer-dlewer itu malah yang asyik lho, Pak,” ujar MC Indah Kurnia mengomentari goresan Toni Antonio yang tintanya meluber.

Sejumlah seniman menghadiri pembukaan pameran yang akan berlangsung sebulan itu. Di antaranya sketser Tedja Suminar dan anaknya, pelukis Natalini Widhiasih, pematung Tholib Prasojo, Ketua Yayasan Seni Surabaya Kadaruslan (Cak Kadar), pelukis Asri Nugroho, serta Agus Koecing dan seniman keramik Jenny Lee. Ada juga beberapa kolektor lukisan Jasien. Di antaranya Ketua Forum Pers RSU dr Soetomo dr Urip Murtejo serta Ny Teguh Kinarto, istri mantan ketua DPD REI Jatim.

Pada pembukaan tersebut, Dahlan Iskan dan Lan Fang membacakan puisi berjudul Karena Belum Berjudul (3) karya Lan Fang secara bergantian. ”Wah, saya dapat bagian yang sulit. Maaf kalau tidak lancar,” ujar Dahlan.

Pembacaan puisi yang dilakukan secara spontan itu mampu menjadi prolog yang baik untuk pameran sketsa karya Jasien yang dikuratori Freddy H. Istanto itu.

Sketsa-sketa Jansen Jasien kali ini terbilang unik. Proses penggoresan kanvasnya menggunakan ujung dupa yang telah dibakar. Tarikan garisnya cenderung pendek-pendek dan banyak. Sketsanya tidak hanya membentuk objek gedung-gedung tua Surabaya, tetapi juga dipadu dengan tulisan-tulisan Jawa. Selain itu, Jasien banyak memotret kehidupan warga Tionghoa dengan berbagai ritualnya.(ign/ari)

Jawa Pos, Kamis, 29 Januari 2009 ]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: