Kiat Komunitas Perupa Situbondo Pertahankan Eksistensi

Meski Jarang Laku, Tetap Aktif Gelar Pameran

Mengabdi pada dunia seni membutuhkan kesabaran bahkan pengorbanan. Tak terkecuali para seniman di dunia seni rupa. Jangankan mengharapkan hasil, setiap kali kegiatan pameran mereka harus merogoh kocek pribadi dalam-dalam.

Edy Supriyono, Situbondo

Pameran bersama bertajuk ‘Peduli Merah Putih’ adalah kegiatan pameran kali terakhir di gelar Komunitas Perupa Situbondo (Komperasi) pada November 2008 silam. Pameran yang digelar di GOR Baluran itu bisa dikatakan cukup spesial dibandingkan pelaksanaan pameran-pameran sebelumnya.

Dibilang spesial karena katalog peserta pameran yang bentuk dan formatnya sudah cukup lux. “Biasanya katalognya difotokopi Mas. Kadang ya diprint yang tintanya sering luntur jika kena air,” ungkap Irwan Kurniadi, salah satu perupa di Situbondo.

Jumlah pengunjung yang hadir juga lebih banyak. Rangkaian acara-acara yang ada juga lebih variatif dan mengena. “Kebetulan saat itu kita kerja sama dengan pemkab yang berhasil menggaet sponsor,” imbuhnya.

Supari, salah satu pelukis senior di Kota Santri mengatakan, perupa di Situbondo kali pertama menunjukkan eksistensinya pada 2001 lewat sebuah pameran di pendapa kabupaten saat Bupati masih dijabat Diaaman. Saat itu yang tergabung baru 13 seniman. “Yang hadir tak sampai 50 orang. Maklum kita nggak ada biaya publikasi,” ungkap Supari.

Kepanitiaan kegiataan, kata dia, saat itu hanya punya uang Rp 1 juta. Rp 500 ribu disumbang Pemkab. Sedangkan sisanya merupakan hasil patungan antar Perupa. “Katalognya masih hitam putih. Sehingga, lukisan yang ada di dalamnya warnanya jadi hitam putih. Wajah pelukisnya juga gak jelas,” kenang seniman yang seorang guru itu.

Dwi Pilian G, perupa lainnya mengungkapkan, para perupa yang tergabung dalam Komperasi tidak pernah terpikir untuk mengedepankan kepentingan profit dalamsetiap pelaksanaan pameran. Mereka lebih menginginkan bagaimana eksistensi Komperasi bisa terus bertahan bahkan meningkat.

Diakui, dalam penyelenggaraan sebuah pameran memang ada satu-dua lukisan yang laku dibeli oleh pengunjung ataupun kolektor lukisan. Namun, kalau dihitung-hitung, lebih banyak yang tidaklaku ketimbang yang laku. “Namun itu tak masalah, bisa menyelenggarakan sebuah pameran bagi kita adalah segala-galanya,” ungkapnya.

Bahkan, kata dia, ada pelukis yang tidak mau melepaskan lukisannya meski sudah ditawar Rp 2,5 juta. Penyebabnya lukisan tersebut mempunyai nilai yang cukup bersejarah bagi pelukisnya.

Untuk menunjukkan eksistensinya, perupa Situbondo juga aktif mengikuti kegiatan pameran di luar daerah. Tidak hanya di kabupaten tetangga, tapi juga sampai di Surabaya bahkan di ibu Kota Jakarta.

Bahkan, pada 2003 silam lukisan Irwan Kurniadi berjudul ‘Nyi Roro Inul’ pernah menyedot perhatian pengunjung pada saat ikut pameran di Solo. Saat itu, kasus goyang ngebor Inul sedang ramai dibicarakan.

Lukisan yang menggambarkan perempuan berdandan ala Nyi Roro Kidul sedang goyang ngebor itu lalu ditawar salah satu pengunjung. Namun Irwan tidak memberikannya. “Saya lebih tertarik meletakkan karya saya itu di geleri di Solo dari pada dijual. Saya eman terhadap lukisan itu. Saya menilainya cukup fenomenal,” kata Bapak dua anak itu. (aif)

Radar Banyuwangi, Kamis, 29 Januari 2009 ]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: