Perjuangan Melestarikan Mocoan Lontar di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah

Gelar Pelatihan Sepuluh Hari, Gaet Minat Anak Muda

Melestarikan peninggalan sejarah bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya yang dilakukan warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi ini. Demi mempertahankan tradisi mocoan lontar yang hampir punah, warga menyelenggarakan pelatihan mocoan lontar untuk anak-anak muda.

ALDILA AVRIKARTIKA, Banyuwangi

—————————————————————

Gelapnya malam, hawa dingin, dan hujan turun deras di Desa Kemiren, tidak menyurutkan semangat beberapa pemuda yang tinggal di lereng gunung Ijen. Mereka tetap antusias mengikuti pelatihan mocoan lontar yang diselenggarakan di rumah salah satu tetua adat, Adi Purwanto.

Dengan nyincing sarung, mengenakan jaket dan ada juga yang bercelana pendek agar tidak basah, mereka berduyun-duyun mendatangi rumah di pinggir jalan tersebut. Setelah semua peserta berkumpul, satu per satu diberi lembaran kertas fotokopian. Sambil duduk lesehan di karpet hijau, mereka mendengarkan penjelasan dari tiga instruktur. Ketiga pelatih itu adalah Adi Purwanto, Amun, dan Sutar.

Meski sudah uzur, suara Sutar masih terdengar merdu. Tidak hanya Sutar, suara Kang Pur–panggilan akrab Adi Purwanto, juga enak didengarkan. Berbekal suara merdu itu, dengan telaten Kang Pur memberi contoh bagaimana membaca mocoan lontar yang sudah ratusan tahun jadi tradisi desa tersebut.

Meski pelatihan itu ditujukan bagi pemuda dan remaja Desa Kemiren, ternyata da anak-anak yang berminat. Dia tetap percaya diri, meski berbaur di tengah-tengah kegiatan yang didominasi remaja itu. Bocah itu adalah Awang Setiadi Aji, 10.

Siswa kelas 3 SD itu tampak serius mendengarkan Kang Pur menembang. Awang terlihat sangat menikmati ketika mulutnya komat-kamit menyuarakan mocoan lontar itu. Meski masih bocah, kemampuannya menembangkan mocoan lontar tidak kalah dengan peserta yang lebih tua usianya. Setelah membaca lontar bersama, mereka mengadakan sesi tanya jawab. Yang dibahas adalah pupu’ (materi, Red) mana yang masih susah dipelajari. Suasana pun bertambah gayeng ketika mereka saling mengajari antara peserta satu dengan yang lainnya. Saking serunya, tidak terasa jarum jam sudah mengarah ke pukul 21.00. Tidak terasa sudah dua jam pelatihan mocoan lontar itu berlangsung.

Begitu belajar mocoan lontar itu bubar, mereka tidak langsung beranjak dari tempat duduknya. Peserta memilih duduk sejenak sembari menikmati segelas kopi yang disuguhkan tuan rumah. Bagi peserta dewasa, kopi hangat itu disruput sembari diselingi menghisap rokok.

Imam, salah satu peserta mengaku sangat tertarik dengan mocoan lontar. Keindahan makna dan cara membacakan lontar mampu menarik hatinya. ”Kalau tidak kita-kita, siapa lagi yang akan melestarikan tradisi ini,” ujarnya usai pelatihan kemarin malam.

Selama ini, tutur Imam, mocoan lontar selalu didominasi bapak-bapak yang sudah tua. Mereka rela berjalan kaki berkilo-kilometer, untuk mengikuti tradisi mocoan yang diadakan dua kali seminggu di Desa Kemiren. Sedangkan pemudanya memilih nongkrong daripada ikut mocoan. ”Saya mengacungi jempol dengan adanya pelatihan ini,” cetus pemuda itu.

Beda Imam, beda Awang. Peserta paling muda itu punya alasan tersendiri untuk menggemari seni baca lontar. Menurutnya, mocoan lontar di Desa Kemiren memang unik. Nadanya berbeda dengan mocoan yang ada di Solo, Jogjakarta, dan daerah lainnya. ”Makanya saya suka, ” ujarnya polos.

Sementara itu, Kang Pur merasa prihatin lantaran saat ini regenerasi mocoan lontar di Kemiren bisa dihitung dengan jari. Padahal, mocoan merupakan peninggalan sejarah yang harus dilestarikan. Untuk itu, dia berinisiatif menggelar pelatihan mocoan untuk kalangan anak muda. Sebab, selama ini mocoan hanya diikuti kalangan bapak-bapak. “Mocoan ini terbuka untuk siapapun. Bukan untuk kalangan tertentu saja. Semua orang memiliki kemampuan untuk membaca, asalkan mau belajar,” tuturnya.

Anggota Dewan Aliansi Masyarakat Adat Nasional (AMAN) Jawa Timur itu menegaskan bahwa kaum wanita juga boleh ikut mocoan. Sayangnya, selama ini masih belum ada yang mau belajar mocoan. Padahal, tidak ada larangan perempuan membaca lontar. “Tetapi, selama ini masih dibacakan kaum pria saja,” ujarnya.

Pelatihan itu mengajarkan empat materi, yakni Kasmaran, Pangkur, Durmo, dan Sinom. Setahap demi setahap, peserta dituntun dan dibimbing. Selanjutnya, mereka bisa belajar di rumahnya masing-masing. Rata-rata dalam tiga kali pertemuan sudah mampu menguasai satu materi.

Apa kendalanya selama ini? Kang Pur mengakui, kendalanya mencari peserta. Setelah kegiatan itu berjalan, ternyata pesertanya semakin banyak. Bahkan, banyak peminat dari luar Desa Kemiren. Saat ini, pesertanya sudah mencapai 20 orang. Mereka berasal dari berbagai macam profesi. Ada yang bekerja di bengkel. Ada juga yang masih pelajar. Kang Pur berharap, dengan adanya pelatihan itu bisa melestarikan tradisi mocoan di Kemiren.(irw)

Radar Banyuwangi, Jum’at, 30 Januari 2009 ]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: