Upaya Manusia Pertahankan Kehidupan

SANDHI NURHARTANTO/RADAR SURABAYA

SANDHI NURHARTANTO/RADAR SURABAYA

Seni instalasi Ruang Sidang dan patung berjudul Menerjang Badai yang menyambut para pengunjung di halaman depan CCCL.

SURVIVAL: Seni instalasi Ruang Sidang dan patung berjudul Menerjang Badai yang menyambut para pengunjung di halaman depan CCCL.

SURABAYA – Pusat Kebudayaan Prancis (CCCL) Surabaya mulai Selasa (3/2), tampil sedikit beda dari biasanya. Puluhan patung maupun seni instalasi tertata rapi di beberapa sudut ruang di bangunan kuno penuh sejarah di Jl Darmokali 10 itu.
Kalau dihitung, total ada 25 karya seni yang dipajang dalam berbagai pose. Karya-karya tiga dimensi itu, 19 di antaranya merupakan hasil tangan terampil Noor Ibrahim, pemahat kesohor negeri ini yang pernah mengikuti Biennale Venezia, Italia, tahun 2005.
Sementara enam karya lainnya adalah buah karya Aripin Petruk, seniman asli Suroboyo. Keduanya memang diundang secara khusus oleh CCCL untuk menggelar pameran bareng bertajuk Survival.
Jelas terlihat ada kolaborasi unik antara Noor Ibrahim dan Aripin Petruk. Meskipun beda ranah seni, namun keduanya sepakat berkolaborasi mengusung karakter berkesenian sendiri-sendiri. Keduanya tampak sepakat menampilkan ketidaksempurnaan kondisi alam, sekaligus realita yang ada di sekitar kita.
Ada dua patung berukuran besar yang dipajang di teras CCCL, sekaligus sebagai ucapan selamat datang kepada seluruh pengunjung pameran. Kedua patung itu berjudul Menerjang Badai dan Malaikat dari Pasar Kembang yang merupakan karya besar Noor Ibrahim. “Patung ini (Menerjang Badai, red) inspirasinya dari kondisi alam yang rusak akibat tragedi luapan Lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo,” jelas pemahat itu, kemarin.
Dalam karyanya itu, Ibrahim yang pernah mengadakan perjalanan seni ke Jepang dan Malaysia ini membuat patung seorang perempuan mengendarai sepeda kumbang sebagai simbol marginalisasi. Semuanya berbahan dasar tembaga. Rambut si perempuan tampak sampai menggelung ke belakang karena tertiup angin saking kencangnya ia bersepeda. Namun, Ibrahim membuat roda sepeda itu terpotong sebagian seperti sedang terendam lumpur. Baik sepeda maupun tubuh si perempuan, juga diberi warna kecoklatan seolah terbalut lumpur. “Lihat saja raut wajahnya.
Tampak gelisah karena bencana lumpur (Lapindo),” lanjutnya. Makna yang tidak jauh berbeda juga menjadi penggambaran dari patung berjudul Malaikat dari Pasar Kembang yang dibuat setinggi lima meter. Wujud seseorang yang tidak jelas berjenis kelamin apa, karena memiliki buah dada dan alat kelamin pria, membawa ikan dan pistol. (opi/art/nga)

Radar Surabaya, 4 Februari 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: