Djojo Sunjoto, Tekuni Dunia Lukis di Usia Kepala Enam

Sejak lama Djojo Sunjoto ingin belajar melukis. Tapi, kesibukan mengurus bisnis membuat pria kelahiran Surabaya, 13 April 1948, itu melupakan minat tersebut. Namun, sebuah “teguran” yang bersumber dari hati nurani mengingatkan agar dia mulai menggoreskan tangan di atas kanvas pada sisa hidupnya itu.

“Saya menganggapnya bisikan dari Yang Di Atas. Sejak itu, saya mulai belajar melukis,” tuturnya saat ditemui di rumahnya di kawasan Manyar Rejo, Minggu (1/2).

Djojo menceritakan perjalanan spiritual yang menuntun dirinya untuk berkarya. Itu bermula pada Januari 2008 di Beijing, Tiongkok, saat mengantarkan anak bungsunya, Christian Sunjoto, 20, yang melanjutkan kuliah di sana. “Saya nginap di semacam guest house dalam lingkungan kampus,” tuturnya.

Di tempat tersebut, Djojo bisa melihat aktivitas para mahasiswa. Suatu pagi, seperti biasa, dia menjalani hari dengan semangat. “Nggak tahu kenapa. Tiba-tiba saja ada suara dalam hati yang mengatakan saya telah menghabiskan waktu dengan sia-sia,” ujarnya.

Dalam benaknya langsung terpikir bahwa dirinya bisa mulai mengubah hidupnya. Dia mampu menjalani kehidupan baru yang menyenangkan serta dinamis seperti para mahasiswa Tiongkok tersebut. Itu adalah hal yang tak sempat dia rasakan setelah drop out kuliah di Jerman 40 tahun silam. “Waktu itu kuliah saya berhenti di tengah jalan. Saya harus pulang ke Indonesia. Mengurus bisnis keluarga,” ungkapnya.

Sejak itu, dia sadar banyak waktu yang telah dibuang. Apalagi, sejak 2003, sebetulnya Djojo sudah tak sepenuhnya mengurus bisnis. Usaha keluarga tersebut mulai diserahkan kepada anak-anak. Waktu luang yang dimiliki jadi makin banyak.

Suami Ratna Widjaja Halim itu langsung berpikir untuk mulai menekuni dunia lukis. “Kapan lagi saya bisa mulai melakukan kegiatan yang saya suka kalau nggak mulai sekarang. Umur saya sudah nggak muda. Sudah kepala enam,” ujarnya.

Sebelum pulang ke Surabaya, Djojo pun memborong buku-buku tentang melukis. Begitu sampai rumah, dia mengontak beberapa kolega untuk mendapat info belajar melukis. “Itu saya lakukan pada awal Februari 2008,” jelasnya.

Djojo lantas belajar kepada Nur Sulizkotto. Dia mendapat pelajaran dasar tentang cara melukis menggunakan cat minyak, cat air, atau acrylic paint. Semula, aliran Nyoto adalah naturalis. Dia banyak menggambar isi alam semesta seperti burung dan bunga. “Sebab, saya sangat senang menikmati pemandangan alam,” ucapnya.

Satu hari, dia didatangi teman bernama Yongki yang juga seorang seniman. Teman itu menanyakan apa yang dirasakan Djojo saat melukis. Pertanyaan sederhana memang. Tapi, pertanyaan tersebut sanggup menggugah kesadaran Djojo yang lantas mengubah gaya melukisnya. “Setelah saya pikir, ternyata melukis naturalis memang tidak menyenangkan. Tidak ada kepuasan batin yang saya rasakan,” katanya.

Yongki lantas memberi saran. Melihat beberapa hasil karya lukisan Djojo, Yongki menyatakan bahwa kakek tiga cucu itu adalah pribadi yang tidak bisa dikekang. Sejak itu, Djojo memutuskan memilih aliran abstrak.

Lukisan abstrak pertama dibuat pada pertengahan Februari 2008. Pagi buta pukul 04.30, Djojo berada di depan sebuah kanvas kosong. Niat hati ingin segera menggoreskan kuas. Tapi, dia bingung mulai dari mana. “Saya berdoa saja pada Tuhan agar diberi petunjuk,” katanya.

Tak berapa lama, Djojo bisa menyapukan kuas di atas kanvas. Semua dilakukan berdasar suara dalam hati. Selama seharian dia bergulat di depan kanvas. Lukisan itu pun jadi pukul dua dini hari keesokannya. “Selama melukis, saya tidak istirahat sama sekali,” ucapnya.

Begitu selesai, karena kelelahan, Djojo lantas tidur. Dia tak sempat melihat dengan detail warna yang telah ditorehkan. Saat bangun, dia kaget atas hasil karyanya. Dia takjub dengan lukisan abstrak yang didominasi warna biru, kuning, dan hitam. “Saya baru sebulan belajar kok bisa ya membuat lukisan itu. Saya percaya ini ada Pihak Ketiga yang membantu. Karena itu, saya beri judul lukisan itu Tangan Tuhan,” ujarnya lantas memperlihatkan lukisan yang tersimpan dalam rumahnya.

Dengan kombinasi warna yang mengalir dan timbul tenggelam, banyak yang mengira itu bukan hasil karya seseorang yang baru belajar. Bahkan, pernah seorang seniman mengamati lukisan Tangan Tuhan tersebut semalaman untuk meyakinkan bahwa itu benar-benar buatan Djojo. “Mulai pukul tujuh malam sampai lima pagi, dia depan lukisan. Dia baru percaya setelah melihat detailnya. Dia juga mengaku detail lukisan itu sulit dipahami,” ujarnya. (dio/ayi)

Jawa Pos, Jum’at, 06 Februari 2009

3 Tanggapan

  1. assalammulaikum wr,wb

    maaf saya mau tanya bagaimana cara supaya hasil lukisan cat minyak bisa timbul

  2. yang terhormat,pak Djojo Sunjoto.
    maaf saya mau tanya,bagaimana cara hasil lukisan itu di katakan lukisan cat air dan lukisan cat minyak.serta cara termudah tuk bisa melukis.makasih……….mohon di ajarkan!!!

  3. Assalamu alaikum Wr.Wb…sukses ucapkan buat bapak Djojo sunjoto….yg sudah utarakan segala kisah hidupnya ….semoga bermanfaat buat saya terima kasih saya,ingin mempunyai inspirasi seperti pak seniman…saya punya bakat melukis dari kecil hingga saat ini …tapi keberaniaan ntuk terjun langsung yg terkadang ..buat saya tidak yakin apakah saya mampu…semoga dengan …dengan saya membaca kisah hidup pak Djojo..saya terinspirasi….mungkin saat ini modal..yg menjadi kendala saya…terimaksaih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: