Sabrot D. Malioboro, Ketua Terpilih Dewan Kesenian Surabaya (DKS)

sabrot-1Sejak 18 Februari, Dewan Kesenian Surabaya (DKS) punya ketua baru, yakni Sabrot Dodong Malioboro. Dia wajah lama. Namun, pria yang dikenal lewat sajak berjudul Wartini Ledek Pasar Turi itu mengaku siap dengan berbagai macam perubahan. Itu demi menjadikan DKS lebih baik.

Ada pendapat, sebagai orang lama, Anda tidak bakal membawa perubahan. Apa sikap Anda?

Sebenarnya saya memang tidak ingin mencalonkan diri. Tapi ketika musyawarah berlangsung, saya melihat kandidat-kandidat belum berpengalaman mengorganisasi orang. Mereka juga kurang bisa berdiplomasi kalau bertemu pejabat. Karena melihat calon ketua lainnya belum sepenuhnya memenuhi kriteria, saya berani mencalonkan diri. Paling tidak, saya memiliki pengalaman. Sejak awal berdiri, saya sudah terlibat dalam DKS. Saya tidak pernah menjadi ketua umum, tapi sempat jadi Sekjen DKS.

Apa pendapat itu memengaruhi Anda?

Saya orangnya praktis. Tidak mau terlalu memikirkan hal-hal seperti itu. Mungkin, orang akan membicarakan track record saya atau apa. Tidak apa-apa. Yang penting, saat menjadi ketua, saya berusaha melakukan yang terbaik. Kepengurusan kali ini harus berjalan dengan penuh keterbukaan dan manajemen yang baik. Ini memang tidak bisa dilihat sekarang. Tapi nanti. Akan terbukti dengan sendirinya.

Yang saya inginkan sekarang adalah ending yang baik. Maksudnya, semua hal yang saya lakukan bisa berakhir dengan baik. Termasuk kepemimpinan saya di DKS ini.

Bagaimana mewujudkan kepengurusan yang memenuhi standar tersebut?

Saya memasukkan orang-orang yang profesional di bidangnya. Misalnya, Pak Suko Widodo. Dia ahli komunikasi. Dia saya jadikan ketua bidang komunikasi dan pengkajian. Lalu, ada Pak Hari Cahyono yang dikenal sebagai kolektor seni besar. Dia punya banyak program yang bagus untuk DKS. Karena itu, saya tempatkan beliau di ketua bidang pengembangan program. Saya juga merangkul anak-anak muda dari STKW (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta), SMKI, dan Unesa. Dulu kan mereka belum bisa bergabung.

Setelah kepengurusan terbentuk, apa langkah selanjutnya?

Ada tiga langkah penting yang saya siapkan. Pertama, membuat kepengurusan solid dan bisa bekerja sama dengan baik. Kemudian, mengomunikasikan DKS ke semua kalangan. Seniman, budayawan, dan semua jaringan komunitas yang ada di Surabaya. Lalu, membuat program yang menyentuh kehidupan seni dan budaya di Surabaya.

Saya ini punya niat memperbaiki image DKS. Dulu, DKS sangat dikenal. Kalau ada seniman atau budayawan dari kota lain, pasti njujug ke DKS. Tapi tiga tahun terakhir, semuanya tidak ada. Nah, inilah yang ingin saya perbaiki.

Apa program yang akan dilaksanakan DKS nanti?

Seperti yang saya jelaskan tadi, saya ingin memperbaiki kembali jaringan DKS dengan komunitas yang ada. Baik nasional maupun internasional. Saya ingin DKS bisa membawa nama Surabaya ke tingkat-tingkat tersebut. Lalu, saya ingin mewujudkan gedung kesenian. Selama ini Balai Pemuda yang dimanfaatkan sebagai gedung kesenian, tidak bisa menampung semuanya. Sekarang ini, konsep gedung kesenian itu sedang diusahakan Pemerintah Kota Surabaya. Dan yang berikutnya adalah mendirikan Institut Kesenian di Surabaya.

Program riilnya?

Mungkin, mengorganisasikan kegiatan seni dan budaya di Surabaya. Sekarang kita punya banyak festival. Ada Festival Seni Surabaya, ada Festival Cak Durasim, ada Cros Culture Festival, dan sebagainya. Penyelenggara acara-acara itu kan orangnya berbeda. Saya ingin mengajak semuanya duduk satu meja dan mengagendakan kegiatannya dengan baik. Jadi, nanti, orang di luar Surabaya bisa tahu. Misalnya, kalau Januari, Surabaya ada FSS, lalu Februari Cak Durasim, begitu seterusnya.

Anda yakin sumber daya yang ada mampu mewujudkan semua itu?

Kalau sumber daya kami iya. Seniman di Surabaya masih muda-muda. Mereka memiliki pemikiran luar biasa. Mungkin dari masyarakatnya. Lebih tepatnya apresiasi terhadap kegiatan seni dan budaya. Surabaya ini kota pedagang. Semuanya ada nilainya. Kecenderungan yang ada, sesuatu yang gratis sering diasosiasikan dengan kualitas yang tidak baik. Padahal, tidak begitu.

Pengalaman ketika menyelenggarakan FSS, kami menggratiskan biaya masuk karena semuanya sudah tercukupi oleh sponsor. Ternyata, yang datang tidak terlalu banyak. Ketika FSS berikutnya, kami menarik biaya. Eh, ternyata yang datang membeludak.

Mungkin, orang berpikir kalau ditarik bayar, pertunjukannya bagus. Padahal, tidak begitu. Banyak pertunjukan yang bagus yang digratiskan karena memang semua biaya sudah dipenuhi pendukung. (any rufaidah/dos)

Tentang Sabrot

Nama Lengkap: Sabrot Dodong Malioboro

Nama Asli: Slamet Sanusi Broto

Tanggal Lahir : 14 Agustus 1945

Nama istri : Retno Wijayanti

Nama anak : – Karana Anugerah

– Idayu Widuri

– Citra Romadhoni

– Era Natarhati

Pendidikan : – SDN Ketandan Surabaya

– SMP Saka Surabaya

– SMA Mahasiswa Surabaya

Karya : – Antologi pusi berjudul Antologi Empat Penyair bersama Hardjono WS, Jil P Kalaran, Abdul Qodir

– Antologi puisi berjudul Derai Cemara

– Antologi puisi berjudul Jaman Sonyaruri

– Mempersiapkan antologi puisi berjudul Raja Kampung

Jawa Pos, Minggu, 01 Maret 2009

Satu Tanggapan

  1. dewan kesenian gresik lagi berbenah dari kemacetan
    PENGURUS YANG BELUM LEGITIMATE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: