Multisosok Henky Kurniadi dalam Bingkai

Puluhan lukisan di Gedung Merah Putih, kompleks Balai Pemuda Surabaya, itu menceritakan perjalanan batin seorang laki-laki muda bernama Henky Kurniadi. Sejumlah lukisan yang dipajang di gedung bersejarah itu merupakan tafsir para pelukisnya mengenai multisosok Henky Kurniadi, pengusaha yang dikenal memiliki kepedulian besar pada dunia seni dan budaya.

Para pelukis itu menampilkan obyeknya dalam berbagai sosok yang berujung pada cerita pengembaraan tanpa ujung. Pengembaraan sang pengusaha yang memaknai hidup sebagai pengembaraan, yang dimulai sejak dalam kandungan ibu.

“Sepanjang hayat di dunia pun demikian. Lantas, usai sukma meninggalkan raga, kita tetap mengalami pengembaraan. Pengembaraan yang sifatnya abadi,” kata Henky yang juga kolektor lukisan itu.

Sebagai pengembara, ia mengaku banyak bergaul dengan sosok maupun pemikiran dalam lintas budaya, etnis, agama, dan batas-batas negara. Karena itu lukisan penggambaran tentang dirinya berasal dari beragam latarbelakang.

Ada Zawawi Imron yang melukis Henky dalam posisi berdoa. Zawawi yang lebih dikenal sebagai penyair dan ulama itu menggambarkan doa Henky sebagai pengharapan untuk negeri ini.

Tedja Suminar, pelukis asal Surabaya yang kini tinggal di Bali, melukisnya dalam “Tokoh-tokoh Pengubah Dunia”. Pada lukisan itu, Henky disandingkan dengan sejumlah tokoh, seperti Ibnu Sina, Bunda Theresa, Ibnu Chaldum, Plato, Socrates, dan lainnya.

“Pemikiran-pemikiran yang bervariasi dari para tokoh dalam lukisan saya tetap memiliki kekuatan yang menginspirasi dan menyemangati manusia hingga saat ini dan Henky Kurniadi menggunakan semangat itu,” kata Tedja.

Natalini Widhiasi, anak Tedja, melukis Henky dalam konteks multidimensional. Bagi Natali, pengembaraan sunyi yang dilakoni Henky memberikan kesempatan yang luas baginya untuk berfikir. “Saya berfikir, maka saya ada,” katanya.

Uwie Long membawa Hekny ke masa lalu tentang tokoh-tokoh pejuang negeri ini, seperti Soekarno, Tan Malaka, Jenderal Soedirman.

“Selalu ada perbedaan-perbedaan, namun pasti ada yang menyatukan, yakni visi untuk menjaga dan merawat tanah air tercinta. Ini yang ingin saya ungkapkan. Gunung itu menyatukan,” kata Uwie tentang lukisan Henky di tengah tokoh-tokoh besar.

Iwan Yusuf lebih reflektif dalam menggambarkan sosok Henky. Henky dihadirkan dalam posisi merenung di atas batu cadas di pinggir pantai. Henky sedang menggenggam telur dalam sarang, sementara tangan kanannya memegang dagu.

Tidak hanya itu. Iwan menghadirkan sekawanan lebah di kepala Henky. Lukisan itu bisa diterjemahkan sebagai pengembaraan batin dan pikiran Henky yang begitu bergemuruh seperti suara sekumpulan lebah. Sementara telur adalah lambang kehidupan.

Ivan Haryanto mengabadikan Henky dalam balutan warna penuh gemuruh dengan latar belakang burung rajawali. Sejumlah sosok Henky ada dalam posisi merenung, berdiri, berjalan, atau sedang menatap jauh ke arah sang rajawali.

Bagi Ivan yang pernah menjadi ketua presidium Dewan Kesenian Surabaya (DKS), tidak mudah memahami sosok Henky. Ia butuh waktu tujuh bulan untuk menangkap “apa dan siapa” sang obyek sekaligus subyek lukisannya.

“Henky itu begitu komplit kehidupannya. Ia berjalan di tiga jalur, yakni politik, usaha, dan kebudayaan. Ketiganya dijalani seperti ia berenang di air sungai,” katanya.

Sarwo Prasodjo menghadirkan Henky dalam sosok yang penuh dengan kegelisahan. Wajah Henky yang diselimuti bayangan-bayang seperti ikan atau janin manusia adalah wujud bagaimana kegelisahaan itu selalu hadir dalam dirinya.

“Saya ingin mengimajinasikan seseorang yang selalu gelisah ingin mengejar mimpi-mimpi untuk ditundukkan dan diwujudkan. Ada ketegangan, kecemasan, dan rasa gelisah dalam perjuangan itu agar menjadi kenyataan,” kata Sarwo.

Asri Nugroho begitu lembut menggambarkan Henky dalam posisi keintimannya dengan sang pencipta. Dalam doa, Henky menerima aliran butiran embun yang begitu jernih.

Ada pengembaraan fisik, ada juga pengembaraan batin. Jansen Jasien lebih memilih bagaimana Hakny berkelana ke banyak tempat, sementara Elyezer lebih terpesona pada pengembaraan pemikiran dengan menghadirkan Henky dalam tumpukan buku.

Tidak hanya puja-puja dan penggambaran basa-basi yang hadir dalam pameran bertema “Pengembara Batin” itu. Endang Wiliati “mengingatkan” semua, termasuk Henky agar tidak terlena dengan uang.

Ia melukis sosok Henky dengan menggunakan peci dalam bingkai uang kertas. “Hidup Memerlukan Uang, tapi Perlu Hati yang Bijak untuk Menguasai Uang”. Begitu Endang memberi judul lukisannya.

Masuki M. Astro
antarajatim, Jumat, 13 Mar 2009 15:08:08

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: