Garin Nugroho Dukung Buku Isu Minoritas dalam Sinema

GarinSURABAYA – Sutradara ternama Garin Nugroho memberikan acungan jempol untuk buku berjudul Isu Minoritas dalam Sinema Indonesia Pasca Orde Baru yang disusun oleh beberapa dosen Departemen Ilmu Komunikasi Unair. Menurut Garin, buku tersebut banyak mengkaji perfilman di Indonesia dari sisi akademis yang sekarang jarang sekali dilakukan.

“Problem sinema Indonesia sekarang adalah tidak adanya kajian, baik secara akademis maupun dalam bentuk diskusi biasa. Kalaupun ada, antara yang dikaji dan hasil kajiannya tidak berhubungan sama sekali,” ujar Garin ketika menjadi pembicara dalam peluncuran buku yang diterbitkan Dewan Kesenian Jawa Timur itu di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair kemarin (8/5).

Dalam diskusi tersebut, Garin mengatakan bahwa sebuah prestasi ditorehkan oleh pembuat film jika yang bersangkutan bisa menyuguhkan ide spesial. Ide yang lain dari biasanya itu disebut Garin sebagai isu minoritas. “Sebuah film dikatakan mengangkat isu minoritas jika mampu menangkap gejala di masyarakat,” paparnya.

Garin menambahkan, saat ini banyak gejala di masyarakat yang tidak bisa ditangkap oleh pembuat film. Sebab, industri film masih terlalu bergantung pada pasar. ”Mereka membuat film bukan berdasar pada realita yang terjadi, tapi sekadar memenuhi permintaan,” ujar pria asal Jogjakarta itu.

Dia menilai, kondisi tersebut terjadi karena kurangnya keberanian sineas mendobrak kondisi yang ada. Sineas masih takut film garapannya tidak laku di pasaran. ”Dunia perfilman butuh sesuatu di luar kebiasaan agar semua menjadi lebih beragam. Jika semua mengacu pada pasar, yang ada hanya keseragaman,” ujarnya.

Dominasi permintaan pasar, menurut Garin, telah mengakibatkan lahirnya film-film kelas menengah dan berkualitas rendah. Dia mengatakan, jika kondisi semacam itu terus terjadi, kualitas perfilman Indonesia sangat sulit terangkat. ”Apa pun yang dihasilkan secara instan tidak akan mengangkat kualitas. Yang ada, profesionalisme malah turun karena segalanya cepat datang dan pergi,” jelasnya.

Selain Garin, diskusi kemarin menghadirkan beberapa pembicara lain. Di antaranya, Rachmah Ida yang berbicara dengan tema Quo Vadis Industri Sinema Indonesia Kini? dan Ratih Puspa yang membawakan tema Politik Tubuh, Kekerasan Seksual dan Pembalasan Dendam (Hantu) Perempuan: Jender & Adjection dalam Film Horor Indonesia. (alb/fat)

Jawa Pos, [ Sabtu, 09 Mei 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: