Rumah Ekspresi Hilang, Seniman Protes

MALANG, KOMPAS.com — Seniman asal Malang, Wukir Suryadi (29), dan seniman asal Surabaya, Ilham J Baday (30), Senin (11/5) di halaman Balaikota Malang, melakukan aksi teatrikal memprotes hilangnya rumah ekspresi seniman di Jawa Timur, termasuk di Kota Malang.

Wukir melakukan aksinya dengan memainkan alat musik tradisional kontemporer berupa tarmbu atau gitar bambu, sementara Ilham berteatrikal hingga mengikatkan diri di tiang bendera Balaikota Malang memakai pita kuning semacam police line bertuliskan danger (bahaya). Aksi selama lebih kurang 30 menit itu berlangsung di hadapan pegawai negeri sipil (PNS) dan pejabat Pemkot Malang yang baru usai melakukan apel pagi.

Kegiatan itu merupakan rangkaian Gerilya Tour Ambience Experiment Public Art oleh keduanya di sejumlah kota, seperti Surabaya, Malang, Lumajang, Kediri, Tuban, dan Semarang.

“Kami melakukan ini untuk mengkritisi hilangnya rumah kami para seniman. Sebab Taman Krida Budaya Jawa Timur misalnya, telah dialihfungsikan bukan lagi sebagai tempat seniman namun cenderung untuk kegiatan komersial sekaligus pelatihan-pelatihan. Seniman malah harus membayar kalau menggunakan Taman Krida,” ujar Wukir.

Menurut Wukir, seniman kini tidak memiliki ruang yang representatif untuk berekspresi, baik di bidang teater, seni tari, dan kesenian lainnya. Hal itu juga terjadi di Malang. “Untuk Gedung Dewan Kesenian Kota Malang (DKM) misalnya, apakah gedung itu bisa menampung banyak orang untuk pertunjukan-pertunjukan teater besar?” ujar seniman yang lebih banyak berdomisili di Bali tersebut.

Ilham menambahkan, aksi public art di tempat-tempat terbuka yang mereka lakukan itu diharapkan bisa menggugah hati pemerintah daerah sekaligus Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk memperhatikan seniman.

“Pemerintah saat ini seperti tidak mempedulikan soal budaya. Sehingga rumah seniman pun kini dianggap tidak penting lagi. Padahal kalau kita kaji, bangsa kita ini lahir dari seni dan budaya. Kalau kita melupakan seni dan budaya, mau jadi bangsa seperti apa kita ke depan?” ujar Ilham.

Wakil Wali Kota Malang Bambang Priyo Utomo yang meyaksikan penampilan dua seniman itu langsung mengomentari niatan kedua seniman itu. “Memang saat ini taman krida budaya Jatim berada dalam pengelolaan pemerintah provinsi. Mungkin nanti akan kami usulkan bagaimana kalau pengelolaannya diserahkan ke Kota Malang guna memfasilitasi kebutuhan seniman seperti yang diharapkan tersebut,” ujarnya.

DIA
kompas.com, Senin, 11 Mei 2009 | 18:30 WIB

Satu Tanggapan

  1. waaah…kok gitu sih?? kebebasan berekspresi seharusnya didukung dong~ Apalagi rumah ekspresi menurut saya merupakan sarana untuk para seniman menyalurkan ekspresinya…parah bgt dagh! Apa kabar seniman indonesia nih??

    http://whateverisaid.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: