Kopi Jombang, Geliat Kehangatan Pelukis Jombang

JOMBANG – Di tengah geliatnya kegiatan Seni Lukis di Indonesia selama ini baik berupa pameran atau semacam festival sangat berimbas di daerah, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Para pelukis berkompetisi kreatif, terlihat dari jumlah dan kualitas karya yang disertakan.

Beberapa even itu, antara lain Indonesian Art Award, Jakarta Art Award yang diadakan setiap 2 tahun sekali,Kompetisi Mondekor Jakarta, Jogja Gallery, juga pameran lukisan di kota-kota besar seperti Jakarta, Jogja, Surabaya, Bali. Even-even ini mendapatkan perhatian luar biasa dari media, baik cetak maupun elektronik. Sehingga, pembaca di daerah pun ikut tersulut semangat.

Sebut saja Bang Wetan Surabaya. Salah satu komunitas yang mengompori par pelukis muda Jatim untuk eksis berkarya dengan sajian-sajian karya yang “fresh”. Belum lagi pameran yang diselenggarakan tiap hari di Gedung Merah Putih Surabaya, begitu juga Gallery atau tempat lain di Surabaya dengan penyelenggara yang berbeda. Itu sebatas Surabaya! Begitu padatnya jadwal pameran. Sayang, hiruk pikuk tersebut masih belum banyak mengusik pelukis Jombang untuk ikut mewarnai semaraknya dunia seni lukis minimal di tingkat Jawa Timur.

Dibandingkan dengan teater (penulis membatasi pembanding sebatas teater), mulai dari tingkat pelajar, Jombang selalu berprestasi pada Pekan Seni Pelajar yang diselenggarakan tiap tahun. Tercatat antara lain Cak Imam Ghazali pernah mendapatkan penghargaan sebagai sutradara terbaik kedua tingkat nasional, Nugroho yang juga pelukis adalah penulis naskah teater, juga pernah memperloleh predikat terbaik untuk teater remaja tingkat Nasional serta seabrek prestasi dari pementasan grup-grup teater Jombang di berbagai kota. Prestasi ini belum lagi melongok seperti Cak Asmuni almarhum dan seniman teater lain yang berasal dari Jombang, sungguh membanggakan!

Bukan satu alasan bila karena Ludruk berasal dari Jombang maka banyak embrio pelaku teater atau budayawannya. Tetapi konon, seni gambar-menggambar (menurut Mas Dian Sukarno, Koordinator Forum Seniti Jombang) di Jombang juga pernah berkembang pada zaman pemerintahan Kerajaan Majapahit. Yaitu dengan adanya juru gambar istana yang bernama Sungging Purbangkara. Dan, bila ini diyakini kebenarannya maka serasa naif bila pelukis Jombang masih terlelap dengan mimpi indahnya.

Meski tidak sebanyak pelukis-pelukis dari daerah lain yang begitu menohok, patut disyukuri bahwa di Jombang pernah juga ada letupan-letupan kecil tentang keberadaan kelompok-kelompok pelukis atau pelukis secara perorangan beserta kegiatannya dalam rangka menumbuhkembangkan bidang Seni Lukis. Tercatat seorang Ngudi, pelukis asal Kudu Jombang yang namanya sudah banyak dikenal pelukis Jawa Timur. Karyanya yang sudah merambah ke berbagai daerah di Indonesia serta totalitasnya sebagai seorang pelukis sudah diakui. Sehingga kalau boleh disebut Ngudi adalah “pabrik” lukisan (mungkin satu-satunya di Jawa Timur), mengingat hampir tiap hari berkarya, menerima pesanan, sampai-sampai tidak ada karya baru terpajang di dinding rumah karena selalu diborong pembeli khususnya dari Jakarta dan Bali.

Karena tempat tinggal yang lebih merapat dengan Mojokerto serta lebih bergairahnya bidang seni rupa, sehingga beliau lebih merapat dengan perupa Mojokerto. Begitu pula Cak Waji Iwak asal Mojoagung yang menapaki kreatifitasnya di Surabaya. M Yanan yang asli Sumobito pun menetap di Ubud Bali (Ketua Himpunan Pelukis Ubud). Dan yang terakhir penulis ketahui dari sekian banyak pelukis asal Jombang yang hijrah ke kota-kota besar lain adalah Khoirudin dari Tambak beras Jombang, pernah belajar melukis pada Ngudi (5 terbaik pelukis muda Jawa Timur versi Bang Wetan, tahun 2008) juga menetap di Surabaya.

Terlintas bahwa sebenarnya potensi pelukis Jombang tidak kalah dengan pelukis dari daerah lain. Baik dalam jumlah pelukis maupun kualitasnya. Tetapi untuk memunculkannya berikut nama Jombang mungkin diperlukan dukungan yang kuat dari stack holder dan kepedulian para pelukis Jombang untuk segera menyikapinya.

Menurut Wahjudi D.Soetomo “Bonsai” yang nota bene orang Jombang yang kini menetap di Surabaya, di Jombang pernah dibentuk Sanggar Lukis Jalatunda sekitar tahun 70-an. Wahjudi salah satu anggotanya selain itu ada Warih B, Hari dan Suranto. Tetapi sanggar ini bubar perlahan 3 tahun kemudian.

Pada tahun 1990 berdiri Sanggar Seni Rupa Anggapati Asri yang dimotori Suwarno, Legianto, Nanar, Purwadi, Ekotomo (penulis) dan duduk sebagai penasehat adalah Eric Z. Berdirinya sanggar ini bersamaan dengan kegiatan pameran Seni Rupa pelukis Jombang 28 Oktober 1990. Dibentuk pula Dewan Kesenian Jombang(DKJ). Tetapi karena antara lain tidak adanya tempat kedudukan beserta kepengurusan yang selalu di bawah kendali birokrasi, akhirnya DKJ pada masa itu pun memudar 2 tahun kemudian dan mati hingga kini.

Berbeda dengan Sanggar Anggapati Asri, melalui berbagai kegiatannya (pameran, lomba lukis, pembinaan, jasa dekorasi, hunting fotografi, saresehan) masih bertahan sampai kini dengan kepengurusan yang mengalami 3 kali pergantian.

Tetapi sangat disayangkan Sanggar Anggapati masih seperti katak dalam tempurung karena kiprahnya belum bisa mewarnai geliatnya seni lukis di luar Kabupaten Jombang. Meskipun beberapa pelukisnya pernah berpameran di GMP Surabaya dalam Orat-oret Ijo Abang Pelukis Jombang. Tetapi kondisi ini diperparah dengan bekunya program kegiatan hampir 4 tahun!

Akhirnya ada kegelisahan dari beberapa anggotanya yang mengkhawatirkan Sanggar Anggapati mendekati nazaknya! Bila pelaku seni seperti Anggapati saja tidak mampu menopang kelangsungan hidup berkesenian berarti pula pudarnya semangat untuk menumbuhkembangkan seni lukis khususnya di Jombang. Sehingga ada keinginan merakit semangat baru melalui wadah baru yang lebih fokus ke bidang lukis dengan merangkul para pelukis Jombang yang benar-benar pelukis. Gayung pun bersambut…beberapa pelukis muda dan pelukis Jombang yang sebelumnya mingslep mengamini gagasan tersebut. Maka pada awal Januari 2009 dibentuklah Komunitas Pelukis Jombang (Kopi Jombang).

Bukan berarti ‘mematikan’ Anggapati ataupun menyainginya, karena Kopi Jombang lebih fokus ke bidang lukis dan keberadaannya justru sebagai mitra dalam berkesenian. Maka Alhamdulillah melalui dukungan Dinas Porabudpar Kabupaten Jombang yang dipercayakan pada Cak Nas (Nasrulilah), Kopi Jombang difasilitasi antara lain pemanfaatan Bale Kambang Tirta Wisata Keplaksari Jombang sebagai sarana pertemuan atau kegiatan di bidang seni lukis serta dukungan fasilitas adanya program pameran lukisan pada bulan Juni 2009. Dengan wajah-wajah baru, semangat baru dan keanggotaan yang terbuka bagi pelukis Jombang, berharap Kopi Jombang dapat menghangatkan pelukis Jombang dalam berkarya atau berprestasi.

(Penulis: Eko Utomo, Sanggar Lukis E.K. Estetik dan guru Seni Budaya SMPN 3 Jombang)
(Radar Mojokerto, Minggu, 22 Maret 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: