Perupa Muda Surabaya Bangkit Lewat Pameran

Denpasar – Kurator, Agus Koecink mengemukakan, perupa muda Surabaya yang selama ini merasa belum sejajar dengan rekan-rekannya di Yogyakarta, Bandung dan Jakarta, mencoba bangkit dengan menggelar pameran “Underdoc” di Ubud, Bali.

“Underdoc yang diambil dari istilah olahraga, yakni ‘underdog’ atau tidak diperhitungkan ini, menunjukkan dimana posisi para perupa Surabaya saat ini,” katanya di Ubud, Kabupaten Gianyar, Sabtu.

Namun, katanya, pameran yang seperti digarap oleh Kecil Art Studio pimpinan Djunaidi Kenyut ini, juga menunjukkan adanya gairah setahap demi setahap bahwa perupa Surabaya berkeinginan untuk maju.

“Arus baru seni rupa Surabaya ditandai dengan munculnya generasi-generasi perupa muda potensial yang tidak lagi berorientasi pada penciptaan karya seni lukis saja, tetapi juga merambah fenomena seni yang bersinggungan dengan teknologi.

“Orientasi berkarya itu telah membuka kesadaran para perupa muda untuk melakukan proses eksplorasi terhadap apa yang telah ditemukannya dalam proses berkarya,” katanya.

Ia memberi contoh karya Arif Londo yang berkarya melalui media seni patung menampilkan sosok manusia yang sebenarnya adalah gambaran diri sendiri dengan berbagai bentuk visual, seperti kepala manusia dan botol sebagai badannya.

Asmuliawan, katanya, yang juga pematung muda, memaknai idiom seni pop untuk mengerjakan beberapa karyanya. Pada pameran kali ini Asmuliawan lebih berwacana tentang perenungan atas sesuatu yang telah terjadi yang berhubungan antara dirinya dengan pelukis Affandi.

“Bony Suwandi, lebih banyak menekankan pada seni rupa urban, sedangkan Betara Gludug banyak menyuguhkan persoalan-persoalan sosial dan kehidupan dirinya di tengah Kota Surabaya. Romy Setiawan banyak berbicara tentang cinta,” katanya.

Ia menegaskan bahwa Kecil Art Studio terus bergerak untuk menyuarakan kegelisahan dan protes terhadap situasi seni rupa di Surabaya. Kegelisahan terhadap masih tertinggalnya perupa-perupa yang dianggap potensial dalam dunia seni rupa saat ini adalah pekerjaan rumah semua yang peduli pada proses kreativitas.

“Sayang sekali jika para perupa muda ini tenggelam dan hilang lagi dalam pusaran seni rupa yang semakin maju. Bila perupa-perupa muda ini tidak ada yang mengelola, maka bibit yang telah tumbuh itu akan hilang, tumbuh dan hilang kembali,” katanya.

Sementara peserta pameran “Underdoc” yang digelar di Hanna Art Space, Ubud, 12 – 30 Juni 2009 itu adalah, Betara Gluduk Banyu Murti, Catur Hengky Koesworo, Arif C. Tamam, M. Yunizar Mursyidi, Q-usta, Romy Setiawan, Sutarno Masteng, Syalaby Asya, Arif Londo, Asmuliawan Bogel, Woro Indah, Bony Suwandi dan Endy Lukito.

Koordinator Kecil Art Studio, Surabaya, Djunaedi Kenyut menambahkan, Bali merupakan pulau yang banyak disinggahi tamu-tamu mancanegara, dan Ubud merupakan satu desa yang sangat terkenal dengan dunia seni rupa.

“Kami memilih Ubud sebagai salah satu ruang berekspresi, ibaratnya menyelam sambil minum air. Di Ubud teman-teman perupa bisa bertemu dengan perupa dari negara lain yang tinggal dan berkarya di desa itu dan juga bisa bertemu dengan penikmat seni dari seluruh dunia,” katanya.

Masuki M. Astro
antarajatim, Jumat, 19 Jun 2009 22:10:24

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: