Halte Sastra Putaran Satu

Berpijak dari perkembangan dan kendala kesusastraan di Surabaya dan sekitarnya, Komite Sastra Dewan Kesenian Surabaya menggagas acara pembacaan puisi dan diskusi sastra bulanan bertajuk ‘Halte Sastra Dewan Kesenian Surabaya’. Acara ini dijadwalkan digelar setiap Sabtu malam, minggu kedua, yang akan diawali Sabtu (11/7), mulai pukul 19.00 – 22.00, di Galeri Surabaya, Kompleks Balai Pemuda, Jl. Gubernur Suryo 15 Surabaya. Akan tampil di acara perdana ini dua penyair muda, yaitu Umar Fauzi (asal Kota Sampang, Madura) dan Arif Djunianto (Surabaya).

Adapun Halte Sastra Dewan Kesenian Surabaya sebenarnya terinspirasi dari kegiatan serupa yang pernah digelar di tahun 1990-an. Pada masa itu kesustraan di Surabaya dan sekitarnya mengalami kemajuan pesat. Banyak muncul sastrawan bertalenta tinggi dengan beragam eksplorasi karya.

Tercatat di era itu lahir Saiful Hadjar, Arif Bagus Prasetyo, Mardi Luhung, S. Jai, Leres Budi Santoso, W. Haryanto, Sony Karsono, Riadi Ngasiran, Tjahjono Widarmanto, Tjahjono Widijanto, Rusdi Zaki, Zainuri, Budi Palopo, Tengsoe Tjahyono, R Giryadi, Bonari Nabonenar, Ratna Indraswari Ibrahim, Sirikit Syah, Shoim Anwar, Djoko Prakosa, Widodo Basuki, S. Yoga, dan sebagainya. Seiring berkembangnya waktu, menyusul generasi baru sastrawan di Surabaya mulai bermunculan. Tercatat nama-nama seperti Indra Tjahyadi, Mashuri, F. Aziz Manna, Muhammad Aris, Imam Muhtarom, Deni Try Aryanti, Sinta Yudisia, dan Lan Fang.

Mereka eksis karena tak lain ditunjang oleh dukungan berbagai lembaga kesenian. Misalnya Dewan Kesenian Surabaya, Kelompok Seni Rupa Bermain, Bengkel Muda Surabaya, dan berbagai komunitas kesenian di kampus. Keberadaan media massa juga turut memberi andil bagi proses kreatif sastrawan. Tercatat ada beberapa media di Surabaya yang menyediakan ruang sastra bagi sastrawan lokal di masa itu. Misalnya Surabaya Post, Karya Darma, Jawa Pos, Mimbar Pembangunan Agama, “Kayu Roya” Memorandum, Majalah Kidung, Bende, Buletin DKS.

Tak mau kalah dari generasi sebelumnya, di era sekarang, yang sampai saat ini masih berproses, muncul pula sastrawan-sastrawan yang lebih muda. Ada nama-nama seperti A. Muttaqien, Ahmad Faisal, Dheny Jatmiko, Didik Wahyudi, Alex Subairi, Kukuh Yudha Karnanta, Arif Djunianto, Dodi Kristanto, Umar Fauzi, Winarti, Nisa Ayu Amelia, Siti Fatimah, Aziz, Timur Budi Raja, M Fauzi, Benazir Nafilah, Andreas Wicaksono, Paul Javed Syatha, Dadang Ari, Fahrudin Nasrullah, Nurel, dan masih banyak lagi.

Bedanya, keberadaan kolom esai sastra di media massa kini tidak berperan maksimal seperti dulu lagi khususnya dalam hal membangun kritik atau apresiasi sastra secara sehat. Juga tak ada lagi ruang publik yang menggelar diskusi sastra secara ajeg. Padahal ruang diskusilah yang kerap menelorkan kritik dan apresiasi karya sastra. Karena itu, boleh dikata, para sastrawan muda di masa sekarang ini akhirnya berkembang tanpa kritik sastra. Halte Sastra Dewan Kesenian Surabaya diharapkan bisa memediasi kebutuhan itu.

Surabaya, 10 Juli 2009

a/n Dewan Kesenian Surabaya
Hanif Nashrullah

Pertemuan Sastrawan Muda I
HALTE SASTRA
Dewan Kesenian Surabaya

Penyaji:
Penyair Umar Fauzi (RBS-Unesa)
Penyair Arif Junianto (CDR-Unair)

Pemusik:
Kharisma L Junandharu

Moderator:
Saiful Hadjar

Tempat dan Waktu:
Galeri Surabaya, Balai Pemuda
Jl Gubernur Suryo 15 Surabaya

Acara ini diselenggarakan oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Surabaya dengan didukung oleh Dewan Kesenian Jawa Timur, Dewan Kota Surabaya, dan Surabaya Post.
CP: Sabrot D Malioboro (08123143332), Hanif Nasrullah (08174802453), Didik Wahyudi (03177570816), Ribut Wijoto (081331114544)

Catatan Tambahan:

Wahyu Yang Nyasar Pada Diriku
Oleh Umar Fauzi

Sesuatu yang terus menggelitik dalam hidup dan kenyataan hidup ini adalah berjubelnya ribuan misteri yang sepenuhnya tak dapat saya pahami. Siapa bilang bahwa hidup ini berjalan sealur dengan kepastian-kepastian? Tidak juga! Beberapa hal kadang tidak saya mengerti, mengapa begini dan mengapa begitu.

Termasuk jatuhnya saya ke lembah sastra. Tak pernah terpikirkan. Bercerita mengenai bagaimana saya berproses, sama halnya menanyakan mengapa saya bisa begitu mencintai dunia yang telah saya akad 8 tahun lalu itu. Tentu saja di saat-saat tertentu saya berfikir bagaimana seandainya saya cerai dengan sastra. Artinya, sampai detik ini saya terus meragu menerima cinta semacam ini. Kebimbangan demi kebimbangan terus menggelayut dalam benak saya.

Saya lahir di tengah-tengah keluarga agamis, terlampau agamis, tentu tidak pernah berfikir tentang seni (yang jauh dari Tuhan). Semua anak-anaknya di-pesantrenkan, setidaknya belajar Islam dengan tekun. Keluarga kami –di lingkungan kami tinggal– adalah keluarga “kiai” di sebuah kampung bernama Tapsiun (plesetan lidah dari “stasiun”) Sampang. Tepat di depan rumah kami, ada stasiun kereta api. Tetapi saya hanya mendengar cerita-ceritanya yang menakjubkan itu. Sebab bersamaan ketika saya lahir, kereta api sudah lenyap. Musholla paling besar di Tapsiun adalah yang berada di rumah kami. Karena itu, setiap ba’da magrib selalu berjubel anak-anak mengaji, bahkan dari kampung sebelah.

Lingkungan primer itulah yang tertanam sampai sekarang dan (sebagian) membentuk diri saya. Sastra adalah lingkungan tersier yang saya “beli” waktu duduk di kelas satu MAN (setara SMA) Sampang. Kelas 1 –awal-awal memakai putih abu-abu– ibu guru saya dengan telaten menjelaskan kepenyairan Chairil Anwar, tiga karyanya Do’a, Penerimaan, dan Cintaku Jauh di Pulau dibahas dalam dua kali pertemuan dengan sangat mengesankan, terutama tentang nikmatnya kematian yang dikabarkan melalui puisi.
Nah, inilah awal saya jatuh cinta pada sastra. Begitu ibu guru itu keluar kelas –pada pertemuan terakhir– entah kenapa, sekonyong-konyong (pinjam kata-kata khas Budi Darma) saya menulis sebuah puisi tertanggal 14 Februari 2002 yang kemudian saya beri judul Garis Kehidupan.

Garis Kehidupan
Hai Manusia
Yang makin indah rupa
Yang pikiran menyapa
Merakit yang sulit
Mencari nama

Sudahlah di buang perbedaan
Mengambanglah hakikat cinta
Di udarakan keyakinan… Sedang
Banyak nama mencari hari

Hai manusia
Jika ingat waktu, ingatlah!
Dunia panggung sandiwara
Jangan dahului yang terdahulu

Wahai…Yang mencari tahta
Mengada-ada
Mengembara di lain kaki
Telah kalian ikuti itu
Sedang dengan keyakinanmu
Engkau edan.

Karena itu di mata saya 14 Februari bukanlah hari Valentine, melainkan hari di mana saya menerima wahyu kepenyairan. Sejak itu entah kenapa saya lebih suka bergaul dengan buku-buku dari pada dengan teman-teman. Saya membaca filsafat Islam, Tarikh Rasulullah, Minhajul ‘Abidin Imam Ghazali, Kahlil Gibran, dan banyak novel. Selain itu saya juga mulai mencintai dunia seni budaya secara umum.

Saya akhirnya tahu, bahwa ternyata keluarga besar kami, bukan hanya religius, melainkan juga berjiwa seni. Kakak sepupu saya sering bikin kaligrafi, pun ketika malam Haflatul Imtihan, kami menggarap konsep acara dan dekor sendiri. Ini terjadi bahkan ketika saya masih kanak-kanak. Kecuali kesenian di luar itu, hanya saya sendirilah yang berusaha untuk memahami setiap kakak sepupu saya, menari, di saat keluarga lain mencemooh. Ya, dia adalah penari –mungkin satu-satunya– yang ternama di Sampang. Dia juga satu-satunya yang mendukung saya memilih jurusan Sastra Indonesia dari pada jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra.

Mengigau dan Wahyu
Proses “sekonyong-konyong” itulah yang terjadi sampai sekarang. Seringkali saya seperti mengigau, lalu saya merasa bahwa kata-kata itu indah, maka saat itulah ia minta dilahirkan; dituliskan menjadi karya bernilai.

Apakah seni itu haram, misalnya, pertanyaan ini kadang mengusik proses yang sedang saya jalani. Ternyata saya benar-benar tidak bisa meninggalkanNya. Setiap tindakan yang saya lakukan selalu saya kaitkan dengan Islam. Saya yang secara tiba-tiba mencintai dunia sastra itu, kemudian teringat bagaimana Rasulullah gemigil menerima wahyu pertama. Analogi inilah yang terus saya yakini, bahwa setiap kali saya mengigau, di saat itulah apa yang saya igaukan harus ditulis. Dalam artian ini, saya harus mensyukuri nikmatNya yang berupa keinginan menulis itu, apa pun bentuknya.
Saya menemukan ungkapan yang tepat untuk fenomena ini, adalah yang pernah dikatakan Budi Darma dalam Solilokui: “Saya menjadi pengarang karena takdir… karena itulah, tanpa menulis saya merasa berdosa.”

Saya didik untuk menghormati ilmu. Maka, ketika saya mencintai sastra, saya meyakini menulis puisi itu tidaklah sembarang menulis. Pada awal-awal itulah saya mencari buku tentang ilmu menulis, karena selama di MAN tidak ada yang perhatian dengan kegiatan ini. Untuk itu saya berterima kasih kepada, Suminto A. Sayuti yang menulis Berkenalan dengan Puisi dan Hernowo yang memotivasi dalam Mengikat Makna. Sampai akhirnya saya memilih jurusan Sastra ketimbang Pendidikan, dengan pertimbangan di sanalah saya akan menjadi penyair.

Di sastra Indonesia Unesa –sebagaimana ternyata dialami banyak penulis– merasa salah jurusan. Ini karena tidak ada mata kuliah teknik menulis puisi, prosa, dll. Maka jadilah saya tukang esai. Menjadi mahasiswa baru, saya sudah menulis esai berjudul Do’a dan Kematian Chairil Anwar di muat majalah jurusan, Widyawara. Anehnya, saya menulis esai pun kadang karena “mengigau”. Sering kali saya harus setor tugas kuliah, tapi saya kerjakan malam harinya. Tapi hasilnya paling bagus di kelas.

Bunyi dan Suspence
Disadari atau tidak, ada satu hal penting yang saya perjuangkan dalam menulis puisi adalah kehadiran Adanya bunyi-bunyian yang meski tak seketat konvensi tradisional, saya selaku tuhan bagi karya-karya saya, harus menciptakannya. Tentu saja kerja semacam ini memiliki konsekuensi keterpenjaraan terhadap model yang telah saya jaga ketat itu. Tapi apa boleh buat, justru igauan yang gampang meluncur maupun gampang diingat itu, karena berbunyi merdu.

Selain itu, sejak awal menggauli puisi –dengan segala keterbatasan intelektual estetik– saya selalu berbisik, agar saya tidak membuat puisi yang rumit dipahami, sebagaimana saya sulit merasakan keindahan puisi-puisi semacam Sutardji. Tapi kemudian saya memahami bahwa dalam kerangka estetik, bukan hanya dipahami tidaknya sebuah puisi lantas disebut indah, akan tetapi saya merasakan kenikmatan berbahasa. Inilah suspence.

Suspence lebih akrab dalam istilah kajian prosa sebagai efek keterkejutan. Kejutan inilah yang saya nikmati dari puisi-puisi karnavalnya (istilah Mikhail Bakhtin) Mardi Luhung. Maupun berterbangannya benda-benda Afrizal Malna. Atau barangkali kesunyian Gunawan Mohammad dan kecanggihan bahasa Nirwan Dewanto. Sehingga puisi yang memang tidak sederhana itu, bisa saya nikmati, terlepas dari kondisi apakah saya benar-benar memahami maksud puisi tersebut. Kejutan ide dari apa yang tertuang dalam puisi itu pun adalah estetika lain yang cukup memikat untuk dinikmati.

Konon, Rasulullah pernah memohon kepada Allah SWT, agar wahyu yang beliau terima, tidak dicicil-cicil, melainkan agar segera ditumpahkan semuanya. Akan tetapi dari sana Allah sebenarnya hendak mendidik Rasulullah. Saya memang memunyai dua jurus(an) menulis, kerja spontan dan kesengajaan menciptakan. Namun sering kali lama tidak menulis membuat saya gelisah, apakah harus terus-menerus menunggu turunnya wahyu!

Ah, Fauzi! yang turun kepadamu itu bukan wahyu tapi ilham…

(Sampang, 7 Juli 2009)

Umar Fauzi lahir 2 Juli 1986 di Sampang. Merampungkan studi Sastra Indonesia di Unesa. Waktu hijrah ke Surabaya menetap di pon-pes Sabilillah Lidah Wetan. Pernah berbagi ilmu sebagai pendamping dosen untuk matakuliah Penulisan Kreatif di Unesa dan pembicara tamu untuk mata kuliah yang sama di STKIP Bangkalan. Sekarang menetap di tanah kelahiran.

Ketidakmasukakalan Hidup dan Kejaiban Puisi
Oleh Arif Junianto

1

Beberapa tahun lalu, tepatnya ketika saya masih belum seliar sekarang, saya menganggap puisi adalah cengeng. Bagi saya menulis puisi adalah pekerjaan orang lemah, pekerjaan seorang penyendiri yang tidak memiliki teman sebagai tempat untuk mencurahkan segala persoalan, pekerjaan sang pesimistis yang seolah enggan mendongakkan kepala menatap jauh makna hidup, dan juga (yang pasti) pekerjaan seorang yang rela waktunya dihabiskan hanya untuk sekadar menghayalkan sesuatu yang begitu jauh berada di atas awang-awang.

Akan tetapi, semakin bertambahnya usia saya, maka semakin paham juga saya akan makna sebuah keliaran. Saya pun semakin sadar bahwa yang namanya liar itu baik untuk kesehatan, apalagi untuk pikiran. Semakin liar, saya merasa kebebasan semakin menjalari setiap ruang dalam kehidupan saya.
Justru sebaliknya, saya seolah menyadari bahwa apa yang saya alami (dulu) adalah bukti bahwa sebenarnya ada kematian saat kita tengah menjalani hidup. Kematian dimana nafas kita masih setia pada raga, kematian dimana ruh juga masih setia pada raga, hanya tubuh yang ‘dipaksa’ untuk menerima segala kenikmatan, segala kenyamanan tanpa diberi kesempatan untuk menolaknya.

Mungkin terdengar sangat abstrak, namun itulah, segala keliaran sebagai wujud dari ketidakmasukakalan yang dalam hidup saya memang susah dijelaskan dengan segala sesuatu yang masuk akal.
Keliaran di sini tentu saja bukan semacam keliaran tanpa arah dan tanpa makna. Keliaran yang saya alami tentu saja adalah keliaran yang sarat akan makna. Hanya saja waktu itu saya masih belum bisa menemukan apa makna dari keliaran itu.

Setelah berbagai peristiwa yang bagi saya sangat tidak masuk akal terjadi berkelindan dalam hidup saya, maka perlahan pun saya tergelitik untuk mencari tahu apa makna dari keliaran itu.
Di sinilah kemudian saya menyadari bahwa kembali, ada semacam ketidakmasukakalan dalam dunia nyata, yang memang tidak bisa dijelaskan dengan sesuatu yang masuk akal.

Karena memang saya sadar bahwa semua itu tidak bisa dijelaskan dengan sesuatu yang masuk akal, maka saya pun tidak bisa menjabarkannya dalam bentuk yang masuk akal pula. Baru setelah itulah saya mencari sebuah formulasi untuk mengungkapkan segala ketidakmasukakalan tersebut menjadi sebuah makna baru yang nantinya saya harapkan akan bisa bermanfaat bagi saya.

Lalu, saya menemukan sebuah bentuk tulisan, yang bagi saya cukup unik. Dengan setiap kata yang seolah memiliki kekuatan sendiri-sendiri dalam menciptakan keterkejutan bagi pembaca seperti saya, puisi seperti mampu menciptakan sebuah makna baru yang teramat kuat meski terasa sangat samar. Justru kesamaran itulah yang semakin menantang saya untuk merenangi puisi semakin dalam.

Sejak itu, saya semakin tertarik, atau lebih tepatnya penasaran dengan yang namanya puisi. Setiap hari saya selalu menyempatkan diri untuk menyisihkan sebagian peristiwa yang saya alami, untuk kemudian saya lebur bersama kata-kata ajaib untuk memunculkan sebuah makna baru.

2

Memang, berbicara mengenai puisi, saya teringat dengan pernyataan Sapardi Djoko Damono. Dalam menjelaskan apa dan bagaimana puisi itulah yang membuat saya kemudian begitu menikmati dalam menulis puisi.

Sapardi mengatakan bahwa dalam dunia nyata, boleh saja tidak masuk akal, tapi jika sudah berada dalam dunia rekaan, haruslah masuk akal.

Awalnya saya tidak sepakat dengan pernyataan tersebut, namun setelah lebih jauh membaca apa alasan Sapardi mengutarakannya, saya jadi benar-benar sepakat.

Memang, seperti yang saya jelaskan di atas, dalam dunia nyata, terkadang ketidakmasukakalan kerap muncul. Ibarat alur cerita dalam sebuah novel, fragmen kehidupan kerap tidak bisa dinalar. Inilah yang membuat saya berkeyakinan bahwa dunia nyata tidak lebih nyata ketimbang dunia rekaan.
Bagi saya, dalam dunia rekaan, khususnya puisi, saya menemukan sebuah makna yang sarat akan kejadian yang terasa begitu dekat dengan saya. Memang, orang pasti akan berpendapat bahwa makna itu adalah modal awal saya dalam menulis. Sekalli lagi saya katakan itu salah.

Menurut saya, makna saya temukan ketika saya mencoba menjungkirbalikkan kata, membuat keniscayaan-keniscayaan pada sebuah diksi, (berusaha) menghidupkan setiap kata, bahkan setiap huruf, sehingga saya mengharapkan kata tersebut, huruf tersebut mampu terbang, berenang, karam, bahkan mati karena lebam. Pendeknya, saya hanya menginginkan kata itu bisa bebas. Bukan bebas dari makna, tapi bebas untuk mencari makna.

Itulah salah satu alasan saya menulis puisi. Peristiwa yang berada dekat dengan saya yang ternyata baru saya sadari, hanya merupakan pemicu dari munculnya makna baru yang tentunya akan benar-benar mengejutkan saya sendiri sebagai penulisnya.

Meski multi-interpretated, makna tersebut merupakan sebuah hasil persenyawaan dari sekian banyak ketidakmasukakalan dalam dunia nyata dengan kata-kata ajaib yang saya ciptakan begitu saja—entah darimana kekuatan kata itu, yang pasti ketika kata bersinggungan dengan kata lainnya, muncul sebuah kekuatan. Karena semakin keranjingan terhadap makna tersebut, saya juga semakin keranjingan untuk menulis puisi.

Jadi, intinya, dalam menulis puisi, saya merasa seperti memformulasikan segala ketidakmasukakalan dalam hidup dengan kata-kata ajaib yang (saya harapkan) mampu mengejutkan pembacanya.
Kata-kata itu kadang saya temukan juga tidak jauh dari segala yang ada di sekitar saya. Akan tetapi lebih seringnya, saya malas untuk mengais kata-kata yang ada di sekitar saya, karena untuk mengambil sebuah kata, saya memerlukan semacam ‘ritual’, yakni berupa kenyamanan terhadap esensi kata tersebut.

Oleh karena itulah akhirnya kenapa saya lebih banyak menggunakan kata yang terdengar begitu jauh dengan keberadaan saya saat ini. Saya memang jarang sekali menggunakan kata yang beraromakan perkotaan. Saya lebih menyukai memakai kata dengan beraromakan pegunungan dan alam.

3

Bagi saya, makna dekat dan jauh bukan perkara jarak. Lebih dari itu, jauh dan dekat lebih bersifat subjektif. Artinya, meski gunung, kabut, senja, bulan, matahari, dan cantigi berada jauh dari kebiasaan saya, namun mereka terasa akrab bagi saya.

Keakraban ini muncul karena saya lebih merasa nyaman dengan mereka ketimbang dengan gedung kaca, jembatan, dan mobil. Saya merasa kata-kata itu tidak ubahnya sekadar kata mati yang terlampau susah bagi saya untuk menunggu mereka bergerak-gerak

Dengan kata-kata yang saya ambil dari alam terbuka, saya seperti menemukan sebuah kedamaian, kebebasan, dan kelapangan. Memang, ini masalah rasa (taste). Akan tetapi, bagi saya, dalam puisi aspek rasa ini sangat penting. Ini berkaitan dengan seberapa besar kemampuan kata untuk bergerak dan memberi kejutan-kejutan pada pembaca.

Bagi saya, kata seperti gunung, kabut, senja, bulan, matahari, dan cantigi ketika saya gunakan, begitu cepat saya melihat reaksinya, ketika kata itu saya senyawakan dengan peristiwa-peristiwa berikut dengan segala ketidakmasukakalannya. Dengan cepat saya melihat kabut terlipat-lipat, senja terpotong-potong, dan gunung melompat-lompat.

Singkatnya, seperti karya sastra lain, saya masih sepakat jika puisi memang lebih bersifat ke dalam. Hal ini disebabkan puisi memang bisa dikatakan pengalaman batin yang dialami oleh penulisnya, dimana pengalaman tersebut bisa diperoleh jika penulis bisa dekat dan akrab dengan segala ketidakmasukakalan dan kata-kata ajaib itu.

Maka, jika ada yang mengaitkan puisi—atau karya sastra lain—dengan sebuah kelompok masyarakat, menurut saya bukan hal yang salah. Akan tetapi, tetap saja, yang disentuh pertama kali oleh keajaiban puisi adalah aspek personality yang lebih bersifat ideologis.

Biodata:

A. JUNIANTO. Lahir di Surabaya, 4 Juni 1984 dengan nama lengkap Arief Junianto. Menyelesaikan studinya di Fakultas Sastra Universitas Airlangga Surabaya.
Aktif di berbagai komunitas kajian Sastra, Kebudayaan dan Sejarah, antara lain Komunitas Pecinta Seni Sastra dan Budaya LIMA Jogjakarta; Historian Institute for Society Transformation (HISTra) Surabaya. Selain itu, kini tengah belajar menulis di forum diskusi Cak Die Rezim (CDR) Surabaya dan Forum Studi Sastra dan Seni LuarPagar (FS3LP)
Saat ini tercatat sebagai anggota Majalah Kidung Dewan Kesenian Jawa Timur.
Karya-karyanya berupa puisi dan essai-essai sastra dan budaya tersebar di berbagai media massa lokal maupun nasional, seperti di Suara Karya, Bali Pos, Lampung Pos, Surya, Surabaya Pos. Puisinya juga terdapat di antologi bersama Monolog Kelahiran (HMD Sasindo, 2005), dan Senjakala (Komunitas Lima, 2006). Puisinya yang berjudul ‘Pernikahan Sunyi’ menjadi puisi terbaik dalam Pekan Seni Mahasiswa Regional Jawa Timur 2008.
Sekadar untuk memperpanjang nafas, kini tengah bekerja sebagai wartawan Surabaya Post.

Satu Tanggapan

  1. mantab.majulah sastra JATIM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: