Mbok Karsinah, 60 Tahun Mengabdi pada Seni Tradisi Ludruk

Usia 78 Tahun Masih Ikuti Tanggapan Keliling Naik Truk

Tidak ada pendidikan khusus untuk menjadi pemain ludruk. Semangat serta keinginan yang kuatlah yang membuat Karsudin, 78 tahun, yang lebih akrab dengan nama panggung Mbok Karsinah itu, sampai sekarang masih menerima job tanggapan keliling. Istimewanya, dia merupakan pemain yang multi talenta.

———-

TIDAK sulit untuk menemui rumah Mbok Karsinah di Kelurahan Kebonagung, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Radar Mojokerto yang mendapatkan ancer-ancer alamat rumahnya, langsung bisa njujug tanpa banyak bertanya. ”Sebelum mapolres ada jalan belok kiri lurus saja, notok terus belok kiri. Rumahnya banyak pot bunga,” kata seorang seniman kepada koran ini.

Dan benar. Di rumah yang sederhana tersebut, Mbok Karsinah tinggal bersama cucu dan cicitnya. Saat wartawan koran ini datang, dia ditemani oleh cicitnya yang bernama Luluk Alfiah. ”Kulo mboten kawin. Tapi, kulo mupu keponakan anak mbakyu yang sekarang sudah punya cucu ini,” ujarnya seraya menunjuk Luluk yang selama wawancara menemani sang kakek ini.

Dengan pendengaran yang mulai pas-pasan, wawancara pun dibantu oleh sang cucu ini. ”Kulo milai main ludruk tahun 48. Tumut Ludruk Sekar Enggal,” katanya mengawali pembicaraan.

Saat itu, usia Mbok Karsinah masih belia. Sekitar 18 tahun. Karena menurut pengakuannya, dia lahir pada tahun 1930 dengan tanggal dan bulan kelahiran yang tidak diketahuinya.

Kelompok Ludruk Sekar Enggal ini beralamatkan di kelurahan tempatnya tinggal. Bakat dan talentanya ini ternyata menurun dari garis sang ayah yang seorang seniman penabuh gamelan di kelompok ludruk tersebut. Karena sering mengikuti sang ayah inilah, bakat terpendam yang dimiliki Mbok Karsinah diketahui pimpinan ludruk waktu itu, Mbah Pariyadi. ”Sekarang semua pemain Sekar Enggal sudah meninggal. Tinggal saya seorang,” ujarnya. Sehingga, kelompok ludruk ini pun hilang seiring dengan kematian para pemain dan pendirinya.

Meskipun Mbok Karsinah lahir dengan jenis kelamin laki-laki, namun dia selalu mendapatkan peran sebagai perempuan. Dia memang cukup luwes dengan balutan pakaian perempuan. Ini terlihat dari beberapa foto kenangannya yang masih disimpan. ”Ini foto saya tahun 1951 saat itu saya ngidung (menembang, Red),” kata bungsu dari 6 bersaudara ini seraya menunjukkan fotonya yang berkebaya.

Sehingga, selain sebagai pemain utama, pemain pembantu, Mbok Karsinah juga merdu menembang. Semua tembang ludruk dia kuasai. Beberapa lakon yang sudah pernah dijalankannya mencapai ribuan kali. Sehingga, dia melupakan satu per satu peran yang dia bawakan. Beberapa yang masih diingatnya adalah, Lakon Bawang Abang Bawang Putih, Bader Bang Sisik Kencono, dan lain-lain.

Kapan terakhir dia manggung? Rencananya, 26 Juli besok dia masih menerima tanggapan. Yakni, di sebuah hajatan di Kabupaten Sidoarjo. Seiring dengan usianya yang kian uzur, dia mendapatkan kepercayaan untuk membawakan banyolan sebelum pentas ludruk dimulai. ”Saya sekarang bagian melawak. Untuk lusa, saya bersama Mbak Marliah dari Surabaya,” ungkapnya.

Lakon apa yang akan dipentaskan pada hari itu? Ternyata, Mbok Karsinah mengaku tidak tahu. Karena pada setiap kesempatan manggung, semuanya dilakukan secara spontanitas. Alur cerita hanya diberikan sutradara sehari beberapa saat sebelum manggung. ”Biasanya hanya diarahkan sebentar sebelum manggung. Setelah itu, semuanya berjalan dengan sendirinya. Apalagi saya dengan Mbak Sumarliah sudah nyambung dan sering melawak bersama. Semuanya muncul dengan sendirinya,” kata Mbok Karsinah.

Dari sekian job manggung yang pernah dilakoninya, tampaknya hanya peran sebagai sutradara yang belum pernah menghampirinya. Beberapa kelompok ludruk di Mojokerto sudah tidak asing lagi baginya, karena dia pernah bergabung di situ. Termasuk Ludruk Karya Budaya pimpinan Cak Edy Karya. Namun, kini dia memilih bergabung dengan Ludruk Karya Baru yang berlokasi di Desa Mlaten, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.

Meskipun berusia senja, namun tidak tampak raut kelelahan dari wajah Mbok Karsinah untuk terus bergelut di dunia seni tradisi. Ada kegembiraan pada saat dia berkisah tentang perjalanan karirnya yang bisa menghidupi keluarganya hingga kini. Seakan ini lakonnya yang sudah digariskan Yang Maha Kuasa. ”Karena saya senang,” tuturnya ramah.

Dukungan dari pihak keluarga tampaknya cukup memberikannya ruang berkreasi. Hal ini diakui Luluk. Keluarga membiarkan sang kakek untuk terus bermain ludruk. Dalam usianya yang sudah senja, sang kakek cukup mandiri. ”Kalau ada tanggapan, biasanya dijemput di Pertigaan Kebondalem, lalu naik truk,” ungkap Luluk. Untuk mencapai pertigaan yang dimaksud jarak tempuh lebih dari 1 kilometer itu dijalani Mbok Karsinah dengan berjalan kaki. (in/nk)

RADAR MOJOKERTO [ Minggu, 27 Juli 2008 ]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: