Budaya Pesisir Selatan Jawa Terancam Punah

Penulis : Destyan
Pacitan – Budaya atau tradisi “kejawen” di kawasan pesisir selatan Pulau Jawa, khususnya di desa-desa yang ada di pesisir pantai Pacitan, Jawa Timur, terancam punah.

Sinyalemen itu disampaikan sejumlah pelaku budaya setempat, Rabu, usai mengikuti ritual acara sedekah bumi dan “genggongan” yang digelar masyarakat pantai di Dusun Tawang, Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan (3/11).

“Dulu hampir setiap lingkungan masyarakat memiliki tradisi bersih desa. Tapi sekarang sudah banyak yang meninggalkan,” kata Mbah Kasim, 61, Ketua Paguyuban Seni Musik dan Tari Tradisional Kabupaten Pacitan.

Dia lalu mencontohkan pergeseran budaya yang terjadi di Kecamatan Lorog, tempatnya bermukim.

Dikatakannya, dulu saat dia masih kecil hingga remaja, tradisi bersih desa, seperti menjadi ritual “wajib” bagi setiap lingkungan masyarakat.

Tapi tradisi yang bersifat “kejawen” itu kini atau sejak empat dekade sejak terjadinya gerakan 30 September PKI (G30S PKI) pada era tahun 1965, perlahan namun pasti mulai luntur.

Hanya satu atau dua lingkungan perkampungan warga saja yang masih mempertahankan tradisi leluhur tersebut.

Itupun dikarenakan kelompok sepuh (usia lanjut/tua) yang memegang teguh pranata budaya Jawa sebagian masih hidup.

“Meningkatnya intensitas pengaruh Budaya Islam melalui ajaran-ajarannya yang ketat, perubahan generasi dari generasi tua ke generasi muda, meningkatnya ilmu pengetahuan serta kualitas pendidikan masyarakat, dan faktor-faktor lain merupakan variabel-variabel yang mempengaruhi terjadinya pergeseran budaya itu secara perlahan,” kata Mbah Kasim.

Pandangan serupa juga disuarakan oleh seniman lokal di Kecamatan Lorog, seperti Heri Ganceng dan Ketua Seksi Tari Kabupaten Pacitan, Ki Woto.

Keduanya melihat, pergeseran budaya tidak hanya terjadi di tingkat lingkungan masyarakat saja, tapi sudah merambah ke satuan lebih kecil, yakni individu-individu.

Buktinya, tradisi “nyadran” atau memberi sesaji ke makam leluhur ataupun ke tempat-tempat yang dikeramatkan kini sudah tidak banyak ditemui.

Ritual memberi makan atau sesaji pada anggota keluarga yang mengalami kesusahan karena ada keluarganya yang meninggal dunia selama tujuh hari tujuh malam juga sudah tidak banyak dilakukan masyarakat.

“Masih banyak lagi contoh lainnya. Kalaupun sebagian masih ada, mungkin jumlahnya bisa dihitung dengan jari,” katanya.

antarajatim, Rabu, 04 Nov 2009 12:49:48|

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: