Jejak Sejarah Seni Rupa Jatim Pikat Wisatawan

Surabaya – Jejak sejarah seni rupa khas Jawa Timur kian memikat sejumlah wisatawan domestik dan manca negara seiring upaya Pemerintah Provinsi Jatim dalam meningkatkan kunjungan mereka ke beberapa objek wisata yang menyebar di berbagai wilayah.

Konsultan seni asal Surabaya, Freddy H. Istanto, menjelaskan, Jawa Timur memiliki basis potensi sejarah budaya lokal yang panjang. Bahkan, ada banyak ragam seni yang dapat ditelaah lebih lanjut oleh pencinta seni secara nasional dan internasional.

“Untuk merangkum sejumlah karya seni itu, kami merangkul Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim dan ‘House of Sampoerna/HOS’ melaksanakan pameran seni bertema ‘Mengurai Akar Budaya’,” katanya, di Surabaya, Selasa.

Dalam penyelenggaraan pameran seni rupa yang biasa disebut Biennale Jatim III, lokasi pameran itu akan menempati Galeri Seni “House of Sampoerna/HOS” di Jalan Taman Sampoerna Surabaya.

“Puluhan karya seni tradisional perupa Jawa Timur akan kami hadirkan di sana,” katanya.

Secara terpisah, kurator Agus Koecink, membenarkan, akan menampilkan karyanya di sana. Pihaknya mencontohkan, beragam karya seninya dan perupa lain seperti lukisan kaca Tulungagung, damar kurung Gresik keramik malo Bojonegoro, patung kayu punokawan Lawang, wayang beber Pacitan, dan lainnya direncanakan menghiasi ruang pamer tersebut.

“Puluhan karya seni kontemporer lain juga dipamerkan di empat galeri seni di Surabaya antara lain di Galeri Seni Orasis, Galeri Sozo, Galeri Surabaya, dan Seni Galeri di AJBS,” katanya.

Ia mengaku, kegiatan itu merupakan seni rupa kontemporer dengan alur konsistensi penyelenggaraan setiap dua tahun sekali. Sementara, penyelenggaraan ke-3 itu dilaksanakan sejak 2005. Perhelatan seni rupa ini mempresentasikan perkembangan seni rupa di Jatim.

“Kegiatan ini bisa mengenalkan masyarakat terhadap sejarah bergulirnya kebudayaan di pelosok Jatim,” katanya.

Tujuan kegiatan ini, kata dia, mengeksplorasi idiom budaya lokal sebagai semangat penciptaan karya seni rupa bersifat kekinian atau seni kontemporer dalam pengertian bukan sebuah mashab.

“Selama ini kesenian tradisi sebagai akar budaya telah dilupakan, terpinggirkan dan tidak dikelola. Padahal, budaya lokal dapat memberi kita pelajaran hidup tentang kearifan, kepandaian, dan kejeniusan lokal,” katanya.

Ia mencontohkan, seni rupa pada masa lalu itu terlihat menarik di beberapa bangunan kuno, relief candi, lukisan kaca, wayang beber, damar kurung, topeng tradisi, batik tulis, dan lainnya. Ia optimistis benang-benang akar itu akan menumbuhkan semangat karya seni rupa kontemporer yang berdasarkan kearifan lokal.

“Semoga seluruh karya tersebut dapat memberi inspirasi tersendiri bagi perupa pemula dan masyarakat Jatim,” katanya.

Pameran tersebut, lanjut dia, tidak lepas dari campur tangan instansi pemerintah dan “HOS” untuk memperkenalkan dan meningkatkan apresiasi masyarakat provinsi ini terhadap karya seni para seniman di Jatim. (Ayu Citra)

antarajatim: Rabu, 09 Des 2009 00:59:25| Budaya & Pariwisata |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: