Selamat Jalan Mbah Karimun

Oleh JAMSARI

Mbah Karimun, seniman topeng Malang yang mendapatkan gelar ketetapan maestro di bidang seni tradisional tahun 2007 dari Direktorat Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata telah pergi meninggalkan kita selamanya pada 14 Februari 2010 di Pakisaji, Kabupaten Malang.

Dia adalah salah satu dari 27 seniman tradisional se-Indonesia yang mendapatkan gelar kehormatan dalam seni tradisional. Mencari sosok figur seniman yang tekun dalam bidang tertentu seperti Mbah Karimun tidaklah mudah di Malang. Topeng Malang yang dikenal sebagai budaya topeng Malangan adalah salah satu ciri seni dan budaya yang dimiliki daerah Malang dalam tataran tingkat daerah, regional, dan nasional.

Seni tersebut merupakan aset tradisional sebagai budaya asli Malang-Indonesia yang mampu menembus dunia seni rupa yang kerap kali dikunjungi para wisatawan asing.

Meskipun dengan bentuk kayu yang tergurat dengan membentuk wajah dari berbagai tokoh pewayangan maupun tokoh lain, topeng malangan sering kali dikunjungi para pelajar dan mahasiswa dari Malang dan sekitarnya sebagai riset kebudayaan.

Mbah Karimun adalah seniman murni yang memiliki ketulusan hati dan ketekunan karya dalam menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi (nguri-nguri pawiyatan budaya adat) yang mengakar beberapa tahun silam di Malang.

Komunitas seni topeng malangan memang tidak luas dan jarang didengar oleh kalangan masyarakat yang memiliki budaya modern. Akan tetapi, secara epistimologi kesenian bahwa seni ini memiliki makna bentuk wajah manusia ketika memerankan dirinya dalam panggung kehidupan. Secara historis memang menjadi identitas. Saat manusia memakai topeng, wajah keasliannya tidak dapat terlihat kasat mata melainkan tersirat. Itulah gambaran makna topeng malangan dalam hidup.

Guratan yang membentuk wajah adalah karakteristik dalam perannya. Jika yang tergurat adalah wajah Ramayana, misalnya, ketika dikenakan atau diperankan dalam pentas teaterikal akan tampak sikap santun dan ksatria. Begitu juga sebaliknya jika yang tergurat adalah wajah dari Rahwana, peran yang dapat dipentaskan adalah sosok raksasa dengan wajah bengisnya. Itulah topeng malangan yang kita kenal sebagai nilai karya tradisional di Malang.

Seniman kawakan Mbah Karimun yang meninggal dunia di usianya yang ke 90 tahun menjadi detik-detik bela sungkawa terdalam bagi para seniman dan budayawan yang ada di Jawa Timur. Sebab, kiprah yang ditorehkannya dalam seni tersebut jika dilihat dari usianya adalah pengabdian yang cukup panjang dalam menjaga warisan budaya leluhur bangsa.

Dalam membuat topeng malangan, Mbah Karimun menjadi rujukan utama generasi selanjutnya ketika mengalami kesulitan dalam guratan. Tak segan-segan Mbah Karimun menerangkan detail (dalam seni rupa) sebagai diskripsi makna seni dan seperti apa dalam guratan kerupaan hingga ke pementasan.

Pertanyaannya apakah generasi muda seni itu sudah benar-benar matang dan dapat dijadikan salah satu ikon atau rujukan dalam berkemampuan seni tradisional tersebut seperti Mbah Karimun? Bagaimana kalau belum ada? Apakah seni tradisional tersebut akan mengalami kegersangan dan kemudian tidak lagi menjadi ciri-ciri budaya Malang untuk Indonesia.

Selama generasi muda sadar akan seni dan budaya sebagai nilai dan aset budaya bangsa, topeng malangan ini akan tetap ada dan mampu diteruskan sebagai warisan tardisi para leluhurnya.

Selamat jalan Mbah Karimun, semoga Tuhan memberkatimu. JAMSARI Mahasiswa FISIP UMM Penggiat Forum Rumah Baca Cerdas (RBC) Malang

Kompas jatim, Jumat, 19 Februari 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: