Dewan Kesenian Surabaya Siap Bangkitkan Ludruk

Fransiskus Asisi Agung Setiawan
SURABAYA, KOMPAS.com — Dewan Kesenian Surabaya siap membangkitkan kesenian ludruk yang merupakan perpaduan antara lawak dan sandiwara yang mengandung unsur kritik. ”Kami siap (membangkitkan ludruk), tapi kami masih menunggu turunnya anggaran dari Pemkot Surabaya,” kata Ketua DKS Sabrot D Malioboro di Surabaya, Sabtu (6/3/2010).

Menurut Ketua DKS periode 2009-2014 itu, Wali Kota Surabaya sudah menjanjikan dana hibah untuk pengembangan DKS sebesar Rp 100 juta per tahun yang diberikan sebesar Rp 25 juta per triwulan. ”Kalau memang triwulan, bulan ini seharusnya sudah ada pencairan dana hibah itu, padahal kami sudah mempunyai program untuk pengembangan sejumlah komunitas kesenian, termasuk ludruk,” katanya.

Bahkan, kata ketua yang terpilih sejak 18 Februari 2009 ini, lembaga yang dipimpinnya sudah menyiapkan acara besar untuk menyambut HUT Surabaya pada akhir Mei mendatang. ”Meski begitu, komite sastra dan seni rupa sudah rutin menggelar diskusi karya-karya terbaru pada setiap bulan. Kalau anggaran turun, kami akan berikan dana untuk mereka,” katanya.

Ditanya tentang pengurus DKS yang tidak aktif, ia menyebutkan, hanya sekitar 15 persen dari 17 pengurus yang tidak aktif, tetapi aktivitas seniman memang tidak terjadwal. ”Kalaupun ada yang tidak datang ke Sekretariat DKS, mereka umumnya telepon ke saya. Contohnya, mereka bilang sedang ada pameran bersama di luar Jatim,” katanya.

Senada dengan itu, Ketua Bengkel Muda Surabaya Farid Syamlan, yang juga Sekretaris II DKS, mengatakan, kepengurusan DKS dalam kurun setahun memang berupaya memperoleh anggaran dari Pemkot Surabaya.

”Tapi, mungkin rekan-rekan DKS belum terbiasa bekerja secara organisasi sehingga pemberdayaan sanggar dan komunitas seniman yang menjadi kewajiban DKS terkesan ’mandek’ (terhenti),” katanya.

Peneliti ludruk, James L Peacok (1963-1964), mencatat, di Surabaya terdapat 594 grup ludruk, tetapi pada 1980-an diperkirakan tinggal sekitar 20 grup. Pemain ludruk yang cukup dikenal di Jatim adalah Markeso, Kartolo, dan sebagainya. Sedangkan pendobrak kesenian ludruk yang dikenal, antara lain, Cak Durasim.

Kompas, Sabtu, 6 Maret 2010 | 14:42 WIB

3 Tanggapan

  1. saya perlu untuk meminta informasi tentang fss 2010

  2. Dimana saya bisa dapat informasi, karya seni yang di hasilkan oleh almarhumah Veronika Tiwi Maradini (Tiwi, bilan tiwi), sekecil apapun peranya, saya ingin tahu/lihat/membeli , dalam bentuk/berbentuk apapun (teater,sastra,lukisan dll yg pernah dilakukan semasa hidupnya)

  3. Untuk teman-teman yg mengetahui karya dan peranserta dalam kancah seni di lingkungan wilayah Surabaya dan sekitarnya almarhumah Veronika Tiwi Maradini (Tiwi/bilan tiwi) semasa hidupnya, mohon informasinya dimana bisa kami lihat?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: