Cerita Kehidupan dalam Bingkai Lukisan

SURABAYA – Isu-isu kehidupan, kerusakan lingkungan, dan penggunaan daur ulang dihadirkan secara cantik oleh empat pelukis asal Ma­lang di Emmitan Ca. Gallery, Surabaya. Mulai kemarin (23/5) hingga 6 Juni mendatang, publik bisa menikmati atau menginterpretasi pesan yang ingin disampaikan Dhudung, Isa Ansory, Djoeari Soebardja, dan Gatot Pudjiarto lewat karya mereka yang menggunakan aneka media.

Karya para pelukis itu memiliki karakter yang sangat kuat. Misalnya, Gatot Pudjiarto. Dia menggunakan kolase kain perca yang dipadukan dengan sulaman. Dia cukup jeli dalam pemilihan warna dan motif kain, perpaduan yang diciptakan, serta pengaturan intensitas sulaman sehingga tercipta sosok abstrak yang mengerikan sekaligus indah. Karena itu, karya Gatot terlihat menonjol.

Sedangkan Isa Ansory memanifestasikan kekinian lewat sosok boneka beruang yang menggantikan perwujudan manusia dalam kehidupan masyarakat pinggiran. Boneka beraneka warna itu digambarkan terjepit dalam peliknya kehidupan. Ia tinggal di dalam kardus atau terjerat tali. Meski boneka, ekspresi yang tergambar melalui matanya terasa seperti manusia. Ia menatap penuh harapan atau tertunduk sedih.

Dhudung juga menggunakan sosok boneka dalam guratan cat minyak dan charcoal di atas kanvas. Hanya, yang dipilih adalah Barbie, boneka perempuan dengan kecantikan dan bentuk tubuh sempurna. Dalam empat lukisan yang dibawanya, Dhudung menghadirkan Barbie bersama bocah perempuan yang tampak sedih. Bocah tersebut seakan-akan memendam kepedihan karena tak memiliki keunggulan ragawi seperti sang idola.

Masalah perusakan lingkungan menjadi sorotan Djoeari Soebardja. Pelukis yang berusia 49 tahun tersebut menyuguhkan kontradiksi. Misalnya, gelondongan kayu jati yang disandingkan bersama sosok nenek yang membawa bibit pohon jati. Lukisan tersebut berisi pesan tentang panjangnya waktu yang dibutuhkan untuk mengganti rimbunnya hutan yang kian berkurang. Ada pula lukisan Lintang, bocah kecil yang harus bermain di satu-satunya cabang pohon tersisa.

Menurut Wahyudin, seorang kurator, karya empat pelukis tersebut bisa disebut berhasil mengangkat isu-isu yang berkembang sekarang. Mereka juga menggunakan teknik yang jarang digunakan. (any/c8/aww)

jawa pos, [ Senin, 24 Mei 2010 ]
foto: andhi l hamsan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: