Sketsa Rudi Isbandi dalam Bingkai Waktu

Sebuah sketsa tidak sekadar garis dua dimensi di atas selembar kertas atau kanvas. Sketsa bisa diapresiasikan ke dalam bentuk tiga dimensi dengan berbagai media. Pemahaman ini coba disampaikan perupa Rudi Isbandi dalam pameran bertajuk “Bingkai Waktu”, di House of Sampoerna (HoS).

Dalam pameran yang berlangsung mulai 16 Juli hingga 15 Agustus, Rudi menampilkan 213 karya seni yang mengajak pengunjung membaca makna yang tersirat di dalamnya. “Saya mencoba mendobrak paham seni rupa lama bahwa sketsa bukan cuma sebuah garis,” kata Rudi.

Kebebasan dalam berekspresi pun ditampilkan seniman yang juga budayawan ini. Berbagai media digunakan, seperti panel, kayu bekas, wayang, tali kekang anjing dan jam dinding. Sepintas, orang mungkin sulit memahami apa pesan yang ingin disampaikan Rudi.

Seniman kelahiran Jogjakarta ini mengakui, dirinya memang tidak menampilkan karya yang bisa langsung dipahami orang begitu melihatnya. Orang harus menyelami karya itu untuk memaknainya. Namun seluruh karya yang ditampilkan sebenarnya tidak jauh dari kehidupan masyarakat.

“Karya saya memang tidak menampilkan keindahan tapi fakta yang ada di masyarakat, seperti perputaran waktu yang kadang tidak disadari orang merupakan bagian dari hidup mereka,” kata Rudi.

Keunikan pun muncul dari karya seni yang ditampilkan seniman yang dinobatkan sebagai maestro seni rupa oleh Dewan Kesenian Jakarta ini. Seperti gambaran peta dunia dari berbagai bentuk jam dinding. Uniknya, jam dinding yang dipakai tidak memiliki jarum penunjuk detik, menit dan jam.

Sementara perjalanan hidup dituangkan dalam sketsa wajah Rudi dari waktu ke waktu hingga ia berusia 73 tahun. Sketsa itu dipasang pada latar di setiap jam dinding. “Saya selalu ingin menampilkan sesuatu yang lain dalam karya-karya saya,” kata Rudi.

Pengamat seni Freddy H Istanto mengatakan, karya Rudi Isbandi kali ini merupakan karya pemberontakan di mana estetika tidak selalu sebuah keindahan. Suatu keindahan seni juga tidak selalu berupa karya yang rajin. “Karya ini bertutur mengenai konsep tentang rekonstruksi,” kata Freddy.

Pameran “Bingkai Waktu” juga dijadikan sarana memperkenalkan Trienal Sketsa yang digelar tahun depan. Trienal Sketsa merupakan kegiatan seni rupa dengan alur konsistensi penyelenggaraan tiap tiga tahun sekali. Hingga saat ini, belum pernah ada kegiatan serupa yang digelar di Indonesia. Terutama untuk karya seni sketsa.

“Belum adanya ajang apresiasi berkala untuk memfasilitasi beragam proses kreatif atas visualisasi dan presentasi sketsa merupakan salah satu pemicu lemahnya apresiasi karya sketsa,” kata Rully Anwar, Direktur Museum Karya Seni Rupa Rudi Isbandi selaku penyelenggara acara ini.

Rencananya, Trienal Sketsa 2011 hanya terbuka bagi seniman di Jawa Timur. Selain pameran, pengenalan Trienal Sketsa 2011 juga dilakukan melalui diskusi dan workshop sepanjang tahun ini. rey

surabayapost, Kamis, 15 Juli 2010 | 12:12 WIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: