Mengunjungi Lokasi Rencana Kampung Seniman di Watudodol

watudodol

Terbengkalai, Ruas Jalan Tertutup Rumput

Ada ruas jalan buntu yang menanjak sepanjang 300 meter di kawasan wisata Watudodol, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro. Sedianya jalan dengan kemiringan luar biasa yang menghabiskan dana ratusan juta rupiah itu akan digunakan sebagai akses menuju Kampung Seniman atau Antogan Seni.

SIGIT HARIYADI, Banyuwangi

RERUMPUTAN yang tumbuh subur di perbukitan di kawasan Wana Wisata Watudodol itu terlihat menutupi sebuah jalan menanjak di tengah bukit. Maklum, ruas jalan tersebut memang tak pernah digunakan warga. Akibatnya, jalan selebar tujuh meter itu kini kondisinya hampir mirip jalan setapak.

Wartawan koran ini yang mencoba menyusuri jalan tersebut menggunakan motor terpaksa berhenti di tengah jalan. Sebab, kondisi jalan sudah hampir sepenuhnya ditutupi rerumputan. Tak hanya itumedan jalan tersebut terasa semakin sulit dilalui akibat tingkat kemiringan yang hampir mencapai 45 derajat.

Jalan yang dibangun sekitar tahun 2003-2004 itu pada mulanya direncanakan sebagai akses menuju Kampung Seniman atau juga disebut Antogan Seni (tempat penyelenggaraan seni). Kawasan di atas bukit itu dulu juga akan dirancang sebagai media para seniman Bumi Blambangan untuk menggelar hasil karya.

Kawasan itu dirancang mirip sebuah pasar seni di atas bukit. Tetapi, rencana pembentukan pasar seni itu tak pernah terwujud. Padahal, pemkab sudah membangun akses menuju bukit itu. Sayangnya, jalan itu dianggap cukup membahayakan. Bentuknya lurus tanpa belokan dan kemiringannya luar biasa. Seandainya kendaraan melaju dari puncak dengan keadaan rem yang blong, maka sangat berpeluang terjadi kecelakaan. Bahkan, tidak menutup kemungkinan kendaraan yang blong dari puncak itu langsung nyelonong hingga pantai.

Hingga kini, belum ada kejelasan apa sebenarnya penyebab gagalnya pembangunan Kampung Seniman itu. Ada spekulasi yang menyebut, sarana dan prasarana mendasar di bukit itu menyulitkan para seniman. Selain kondisi jalan yang berbahaya, tidak adanya pasokan air bersih dan suplai listrik juga menjadi penyebab gagalnya rencana pasar seni itu.

Ada juga yang menyebut, kampung seni itu tak terwujud karena belum ada izin dari Menteri Kehutanan. Muncul pula spekulasi bahwa pembangunan jalan di kawasan hutan lindung itu belum mendapat izin dari Menteri Kehutanan. Namun, dengan alasan penerapan otonomi daerah (otoda), waktu itu pemkab merealisasikan pembangunan jalan menuju Antogan Seni itu.

Ketika terjadi pergantian bupati, pembangunan sarana kesenian tersebut tidak dilanjutkan. Jalan sepanjang sekitar 300 meter yang sudah telanjur dibangun itu pun akhirnya dibiarkan mangkrak.

Menurut seorang warga sekitar, Kushariyadi, 56, ruas jalan tersebut memang tidak pernah digunakan warga. Sebab, tingkat kemiringannya sangat curam. Warga takut melalui ruas jalan itu.

Akibat tidak pernah dilalui kendaraan, lama-lama sisi kanan kiri jalan itu ditumbuhi rumput. Bahkan, kini hampir seluruh badan jalan sudah tertutup rumput.

Menurut Kushariyadi, saat terjadi hujan deras di wilayah itu, jalan tersebut seringkali menyebabkan genangan di jalan raya Situbondo yang terletak tepat di bawah jalan tersebut. Sebab, dengan adanya jalan tersebut, air hujan dapat meluncur bebas dari puncak bukit menuju jalan raya.

Beruntung, pemkab cepat tanggap dengan efek negatif keberadaan ruas jalan itu. Sistem drainase di sekitar ruas jalan tersebut pun segera diperbaiki. Pemerintah sudah membuat saluran air yang memotong ruas jalan itu, sehingga bisa mengalihkan air hujan yang meluncur bebas dari puncak bukit. “Mungkin jika tidak segera diperbaiki, jalan raya Situbondo ini masih sering tergenang,” ujar Kushariyadi.

Kushariyadi menjelaskan, pada awal pembangunan, pihak Perhutani sudah menyarankan agar pembangunan jalan tersebut dibuat seperti ruas jalan di Gunung Kumitir. Posisinya berbelok-belok agar tidak terlalu curam dan tak begitu membahayakan keselamatan pengguna jalan. Tentu saja semua itu tetap perlu izin dari Menhut. “Namun kenyataannya, jalan tersebut tetap dibangun langsung menuju puncak seperti ini. Akibatnya, warga tidak berani menggunakan jalan ini karena dinilai terlalu berbahaya,” paparnya.

Sementara itu, para seniman Banyuwangi sebenarnya masih tetap mengharap adanya sebuah fasilitas kampung seni atau pasar seni. Konsep yang diusung dan lokasinya tidak harus berada di puncak bukit Watudodol itu. ”Saya pikir seniman masih mengharap adanya sebuah kampung seni,” ujar pelukis A. Wiyono. (bay)

radar banyuwangi, [ Selasa, 31 Agustus 2010 ]
foto: hasansentot.blogdetik.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: