Agung Tato, Juara Dua Patung Outdoor

Sumbangan dari Sudut Pandaan
oleh Kuss Indarto

Meteor' yg turun di ds Duren Sewu, Pandaan.tepatnya di ICC Pandaan. (dok Agung Tato)ANDRES Busrianto protes keras. Karya tiga dimensinya, Menyentil Kiblat Pendidikan, tidak terdisplai dengan semestinya. Ada 6 “podium” yang telah dibuat (dari kumpulan boks kemasan berbagai produk konsumsi) dan dikirimkannya ke panitia, ternyata hanya terpajang sebuah. Belum lagi materi lain seperti karpet hijau, sajadah, dan mikrofon, yang semua direncanakan untuk menggenapi karyanya itu, tak ada. Inilah salah satu gambaran kecil yang memberi warna pada suasana pengumuman pemenang acara Young Sculpcure Competition 2010 di Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur, Jumat petang, 5 November 2010. Kompetisi ini dihelat pertama kali oleh International Culture Centre (ICC) milik seorang pengusaha Korea Selatan, Sang Ki Kim, yang telah menetap di Surabaya selama sekitar 15 tahun.

Kompetisi ini sendiri akhirnya memunculkan para pemenang dari dua kategori, yakni karya-karya patung indoor (dalam ruang) dan patung-patung outdoor (luar ruang). Untuk indoor, terpilih sebagai juara pertama Arief Tousiga lewat karyanya, A Paradigmatic Example of Found-Art, dan juara kedua Ostheo Andre. Tim juri yang terdiri dari Anusapati (sebagai ketua), Asmudjo J Irianto dan Asikin Hasan juga menentukan para pemenang kategori patung outdoor, yang masing-masing adalah Benny Messa sebagai juara pertama dan Agung “Tato” Suryanto (lewat karya bertajuk Meteor) sebagai pemenang kedua. Para pemenang pertama dan kedua untuk semua kategori masing-masing mendapatkan hadiah berupa uang sebesar Rp 30.000.000 dan Rp 20.000.000.

Para pemenang tersebut sebelumnya bersaing ketat dalam tahap final yang melibatkan 30 seniman dan kelompok seniman untuk kedua kategori. Sedang secara keseluruhan, para seniman yang mengajukan proposal karya kepesertaan kompetisi ini masih di bawah angka 200 peserta. Fakta ini tentu sangat bisa dipahami karena batasan usia yang diberlakukan bagi peserta, yakni maksimal 35 tahun, sudah pasti tidak memungkinkan meraup lebih banyak peserta di atas usia tersebut yang bisa jadi populasinya jauh lebih banyak. Lalu jenis karya, yakni patung (3 dimensi) yang penuh kompleksitas teknis yang lebih sedikit digeluti ketimbang jenis karya dua dimensi seperti lukisan. Tapi sebagai perhelatan yang bertendensi untuk memberi peluang sebesar-besarnya bagi para seniman muda (yang berkreasi dengan karya patung), tentu patut diacungi jempol bagi ICC.

Karya-karya para finalis, dan khususnya para juara, sebetulnya juga cukup menarik, meski belum bisa dibilang sangat istimewa. Mereka rata-rata berupaya keras untuk berseberangan dengan kategori dan batas-batas yang begitu definitif atas sebuah karya patung dalam versi yang konservatif, khususnya karya yang cenderung menjadi monumen. Misalnya karya Benny Messa. Karyanya yang dirancang akan berukuran lebar 140 cm, panjang 380 cm dan tinggi 340 cm ini (dalam pameran hanya dipajang miniaturnya yang mungil) mengetengahkan gagasannya tentang obyek keseharian yang sederhana. Ada citra buah pisang yang disangga oleh pantat dan kaki sesosok boneka Beruang Teddy. Sementara tubuh seutuhnya seperti tengah berakrobat dengan memposisikan kepalanya di bagian bawah. Benny, lewat karyanya ini, seolah hendak berpesan bahwa kondisi dan kekuatan global (yang direpresentasikan oleh Beruang Teddy) mampu dengan semau-maunya bermain untuk mengonstruksi semua permainan, termasuk “mempermainkan” barang-barang konsumsi: yang minor menjadi dominan, yang dominan dipatahkan menjadi minoritas.

Sedang karya pemenang kategori indoor (masih) berkutat dengan ihwal yang berbau konseptual, yakni mengapropriasi karya fenomenal tokoh dadaist dunia Marcel Duchamp, Fountain, yang dibaca ulang dalam perspektif dan konsep estetik baru.

Perhelatan yang tampaknya dikonsep dengan serius ini, sayangnya, belum cukup menemukan titik tumpunya yang kuat di tingkat praktik. Paling tidak, ada beberapa problem teknis yang sederhana namun itu berimbas pada problem konseptual. Misalnya pada soal pendisplaian yang sangat bersahaja. Pengunjung yang menyaksikan di main hall ICC yang berarsitektur kontemporer dan bermandi cahaya itu seperti digiring menyaksikan karya dua dimensi atau lukisan. Karakter karya patung pada sebagian karya kurang mengena karena konsep pendisplaian yang belum membuat karya-karya itu menjadi kuat dan mandiri.

Tak sepenuhnya salah, memang, kalau kemudian Andres Busrianto sewot dan memuntahkan baanyak kekesalannya pada tim juri yang terdiri dari para seniman dan kurator tangguh itu. Pun dengan Maslihar Panjul, Robert, dan beberapa kawannya yang tergabung dalam Kelompok Seni Hitam Manis. Anak-anak muda ini menjadi tidak antusias mengikuti acara seremoni pembukaan setelah mengetahui karyanya terongok di sudut ruang terbuka yang “nyempil”, kurang terlihat, dan sendirian. Dan tatkala malam menjelang, karya itu kian kurang terlihat karena tak tersiram cahaya yang memadai. Belum lagi dalam katalogus yang sederhana cetakan dan disainnya itu, nama Kelompok Hitam Manis sama sekali tidak tercantum. Ya foto karyanya, ya biodatanya.

Curah hujan yang cukup tinggi, apalagi di kawasan wisata yang dingin itu, membuat beberapa seniman yang dikecewakan tersebut tidak terhangatkan situasinya meski lambungnya telah digelontor beberapa sloki anggur impor. Tapi, apapun, kawasan ICC Pandaan seluas 4 hektar dan “ngumpet” di antara kota Surabaya dan Malang, telah berupaya memberi kontribusi yang bagus bagi dunia seni rupa di Indonesia. Kita tunggu perhelatan berikutnya yang, semoga, jauh lebih serius. ***

sumber: http://www.indonesiaartnews.or.id/newsdetil.php?id=164
Foto: ‘Meteor’ yg turun di ds Duren Sewu, Pandaan.tepatnya di ICC Pandaan. (dok: Agung Tato)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: