Kongres Budaya Jatim Hasilkan Kesepahaman Politik Kebhinnekaan

Surabaya – Kongres Kebudayaan Jawa Timur 2010 menghasilkan kesepahaman tentang tema besar, yakni politik kebhinekaan. Ketua Panitia, Ayu Sutarto, Minggu, mengatakan, poin – poin kesepahaman yang dihasilkan antara lain tentang pentingnya menghormati kebudayaan lokal sebagai pembangunan karakter bangsa.

“Kita berharap, kebhinekaan bisa memunculkan pemimpin yang berkarakter dan memberi tauladan,” ujarnya di sela dialog publik “Temu Pikir Kebudayaan dari Jatim untuk Indonesia” di Gedung Budaya Cak Durasim.

Guru besar Universitas Negeri Jember tersebut juga menjelaskan, politik kebhinekaan harus menjadi “mainstream” pembangunan bangsa dengan pendekatan kebudayaan yang berkebhinekaan.

“Untuk mengurai masalah bangsa yang kusut ini, perlu melalui pendekatan kebudayaan dan tidak semata-mata politik praktis,” tukasnya.

Sementara itu, Direktur Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI), Endo Suanda, mengungkapkan poin lain yang telah menjadi kesepahaman bersama adalah tentang lintas generasi kebudayaan lokal.

“Yang jelas, lokalitas kebudayaan warisan budaya perlu ditranformasikan dalam generasi berikutnya,” papar pria yang juga pakar tradisi tersebut.

Poin – poin itu dihasilkan melalui kongres selama tiga hari yang digelar di Hotel Cendana, Surabaya, sejak 10-12 Desember.

Ada empat sub pokok bahasan penting yang dibahas, yakni kearifan lokal, warisan budaya, lintas generasi, dan politik bhinneka tunggal ika sebagai politik identitas dan jati diri bangsa.

Sementara panitia kongres, Riadi Ngasiran, mengatakan semua sub bahasan menghasilkan poin yang sifatnya bukan resolusi atau semacam rekomendasi, tetapi masih berupa draf atau rancangan.

“Ini masih merupakan draf dan perlu dibahas lagi oleh berbagai pihak yang berkomitmen terhadap masa depan kebudayaan Indonesia,” ungkap dia.

Kongres tersebut dihadiri sekitar 100 seniman dan budayawan dari Jawa Timur, antara lain Endo Suanda (pembicara), Taufik Rahzen, Radhar Panca Dahana, Nur Syam, Rahma Ida, dan Melani Budianta.

antarajatim, 12 Des 2010 18:15:26| Budaya & Pariwisata | Penulis : Fiqih Arfani

Satu Tanggapan

  1. kEBUDAYAAN JATIM BUKAN ADA DARI SEMINAR-KESEMINAR. YANG TERCEKAT SEBAGAI KONSEP YANG TIDAK PERNAH TERAPLIKASIKAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: