Gelar Padang Rembulan di Citraland

Tari Jaranan, Bujang Ganong, Chinese Percusion, Tari Dolanan, teatrikal gerak dan lagu, Musik Banyuwangi dan gelar Wayang Siswa (Wasis) menyemarakkan acara Gelar Padang Rembulan, Jumat malam, 18 Februari 2011, di G Walk Food Garden, Citraland Surabaya. Dalam acara rutin Dinas Pendidikan Jawa Timur tersebut kali ini juga disampaikan bingkisan tali asih kepada siswa dan guru dari manajemen Citraland Surabaya.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Dr. Harun, M.Si, MM, mengatakan, bahwa acara bulanan ini merupakan bentuk pembinaan dan pelestarian kesenian yang dilakukan sejak dini sebagai sarana pembentukan karakter melalui pembelajaran mengenai seni budaya yang meliputi tatanilai, norma dan budi pekerti yang sekaligus menumbuhkan nasionalisme pada anak-anak.

Kepala UPT Pendidikan dan Pengembangan Kesenian Sekolah (Dikbangkes), Drs. Karsono, M.Pd, menambahkan, para pengisi acara terdiri dari siswa-siswi dari SDN Al Fatah, Sanggar Tunggal Budaya, SDN Jambangan, Sekolah Ciputra, SDN Ketabang I, SDN Kandangan, SMKN IX Surabaya, SDN Sidomulyo I dan SDN Pakis 8 Surabaya. Acara yang dimulai sejak pukul 18.30 ini dipungkasi dengan pertunjukan wayang kulit oleh dalang Pringgo Jati Rahmanu, siswa kelas I SMKN IX Surabaya jurusan pedalangan, membawakan lakon Semar Mranggi.

Pringgo adalah salah satu dari tiga dalang terbaik dan penyabet terbaik dalam Festival Dalang Bocah se-Jatim tahun 2010, yang mulai mendalang sejak kelas I di SMP Negeri 5 Surabaya. Anak sulung tiga bersaudara ini sudah sering tampil mendalang, antara lain di pendopo Kabupaten Sidoarjo, di SMPN 29 Surabaya, dan terlibat dalam sosialisasi tertib lalu lintas di Polres Sidoarjo. Putra musisi dan dalang Ki Subiyantoro ini juga mahir memainkan alat musik biola, kendang dan perkusi, yang kemudian melibatkannya sebagai tim musik dalam sejumlah pergelaran, termasuk ke Riau.

Lakon Semar Mranggi itu sendiri, mengisahkan perihal hilangnya pusaka kerajaan Amarta berupa Jamus Kalimasada. Prabu Baladewa yang bermaksud meminjam pusaka itu harus bertanding dengan Bagong yang punya maksud sama, atas suruhan Semar. Peperangan semakin melebar, melibatkan para keluarga Pandawa yang membela Bagong, melawan para Kurawa yang membela Baladewa. Ternyata pihak Bagong kalah, meski sudah dibela oleh Gatotkaca, Wisanggeni, dan Hanoman. Bagong mengadu ke Semar, yang kemudian turun gelanggang dan berhadapan dengan Begawan Megalengkara, pendeta bayaran yang sakti, utusan Durna.

Kemudian muncullah Kyai Pancabalewa yang berjuluk Kyai Sadalima. Dinamakan Sadalima, karena Kyai sakti ini memiliki senjata berupa sada (batang lidi) sejumlah lima. Terjadilah dialog intens antara Semar dan Sadalima, yang akhirnya mengungkap jatidiri sebenarnya Kyai yang sakti itu. Sadalima artinya: Sodat (syahadat), Sholat, Solawat, Sobar dan Sodaqoh. Semar terperangah, karena itulah sebenarnya yang menjadi penyebab kekalahan para Pandawa dan pasukan Amarta. Mereka selama ini melupakan ajaran yang menjadi pusaka negeri, tidak mau belajar, tidak mau membaca, tidak menggubris lagi nilai-nilai luhur dalam Jamus Kalimasada. Senjata pusaka yang hilang itu, bukan berupa senjata tajam secara fisik, melainkan pusaka budaya berupa nilai-nilai luhur bagi kehidupan umat manusia. (*)

Info lebih lengkap, silakan kontak:
– Efie Wijayanti, S.Sos, Kepala Seksi Penyajian UPT Dikbangkes Dinas Pendidikan Prov Jatim, HP: 0813 5755 1063.
– Klik: http://www.dikbangkes-jatim.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: