Tragedi Bumi Rungkut dalam Lakon Ludruk

Kisah kepahlawanan dari kampung Rungkut Surabaya, bakal dimainkan oleh Ludruk RRI Surabaya dengan judul lakon “Tragedi Bumi Rungkut”, di Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya, Sabtu malam, 26 Maret. Sehari sebelumnya, Jumat 25 Maret, ludruk Warna Jaya Sidoarjo memainkan lakon “Sri Gunung Pengandaran” di Taman Krida Budaya (TKB) Jatim, Jalan Soekarno Hatta, kota Malang.

Menurut Haryanto, sutradara ludruk RRI yang sekaligus menuliskan lakon tersebut, kisah itu baru pertama kali ini dipentaskan. Ini memang bukan legenda, melainkan karangan sendiri, yang mengambil inspirasi semangat kepahlawanan warga Rungkut bernama Mat Gender. Tokoh utama yang juga dimainkan oleh sutradara dan penulis naskah ini, diceritakan melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda yang berusaha menguasai bumi Rungkut.

Dikisahkan, Mat Gender melarikan diri ke Wonoayu, mengumpulkan kekuatan untuk kemudian melakukan perlawanan kembali. Kisah menjadi romantik karena sang lakon terlibat asmara dengan anak Lurah setempat. Dan ternyata, Carik desa itu adalah mata-mata Belanda. Perjuangan Mat Gender melawan Belanda akhirnya menjadi rumit. Tidak sekadar mengandalkan kekuatan otot belaka, melainkan harus berhadapan dengan bangsa sendiri. Inilah romantikanya perjuangan.

Nama-nama populer dari ludruk RRI Surabaya bakal meramaikan pertunjukan ini, diantaranya Agus Kuprit, Tawar, Momon, Mu’ali, dan juga Kukuh Setyo Budi yang menjabat sebagai pimpinan ludruk RRI. Diantara sekian banyak ludruk yang timbul tenggelam, keberadaan ludruk RRI Surabaya masih tetap eksis dengan pementasan rutinnya.

Dalam gelar pentas ludruk periodik yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Jatim ini, ludruk Warna Jaya pimpinan Mulyo Mustofa dari Sidoarjo mengangkat kisah yang mirip dengan legenda awal usul kawah gunung Bromo. Pementasan di TKB Jatim di Malang ini disutradarai oleh Suwono.

Kisahnya berangkat dari legenda tentang seorang wanita bernama Rara Anteng yang meminta syarat pada seorang pemuda agar dibuatkan sebuah telaga dalam tempo semalam sebelum ayam berkokok. Ketika danau hampir selesai, terdengar bunyi ayam berkokok yang disengaja untuk menggagalkan usaha pemuda itu. Maka alat untuk membuat kawah itupun dilemparkan hingga telungkup menjadi Gunung Batok. Kira-kira begitulah inti ceritanya.

Ludruk Warna Jaya, juga tergolong ludruk yang tangguh dari sedikit jumlah ludruk yang masih mampu bertahan sekarang ini. Pementasan di TBJT dan TKB Malang ini semuanya terbuka untuk umum, gratis. (*)

Info lebih lanjut:
Hengky Kusuma, inisiator Paguyuban Ludruk Jatim
HP: 081 730 7190

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: