Seniman Batu Temukan Galeri Alternatif


Kalangan seniman Batu menyambut positif penyelenggaraan Festival Putri Bulan yang berlangsung sehari penuh, Minggu, 14 Agustus 2011. Meski belum berlangsung maksimal seperti rencana semula, namun mereka menganggap bahwa lokasi Putri Bulan Cottage tempat berlangsungnya acara tersebut merupakan bentuk galeri alternatif dibanding galeri seni rupa pada umumnya. Artinya, perupa bukan hanya menyerahkan karya untuk dipajang begitu saja melainkan ada proses berkesenian yang menyertainya.

Festival itu sendiri berlangsung tanpa seremonial sama sekali. Peserta dan pengunjung datang dan pergi sepanjang acara berlangsung. Beberapa murid SD kelas satu hingga kelas enam menyanyi bergantian dengan iringan Orkes Kroncong Sahabat Remaja. Disusul sajian tari Kuda Lumping dari grup Citra Karya Budaya dari Desa Kaliputih, Kec. Sisir, Kota Batu, yang semuanya dimainkan anak-anak. Sedangkan seniman topeng Jumadi Reksodono asyik memberikan workshop membuat topeng di salah satu gazebo yang ada di halaman cottage tersebut.

Tanpa batasan waktu, sejumlah anak-anak mengikuti lomba melukis dan mewarnai dengan pola yang sama sekali berbeda dengan lomba biasanya. Mereka bebas menggambar di tempat yang dipilih, bahkan ada yang menyerahkan hasil lukisan lebih dari satu. Toh ada juga anak kecil yang penasaran ingin menabuh gamelan. Lantas di sebuah sudut nampak Widi dari Nabila Acrilyc memajang kerajinan bunga akrilik, dan di sudut lain disediakan kerajinan souvenir kura-kura dari kayu.

Hari beranjak sore, giliran para penyanyi dewasa menyanyikan keroncong dengan iringan Orkes Keroncong Sahabat Lama. Ini memang orkes yang sama dengan yang disebut di atas, namun khusus untuk orang-orang dewasa.

Sementara itu di beberapa lokasi bergerombol sejumlah pengunjung asyik bercengkerama dengan komunitasnya masing-masing. Termasuk juga, kalangan seniman, khususnya perupa yang membahas serius berbagai persoalan seni rupa. Dalam perbincangan santai namun serius itulah tercetus pengakuan bahwa forum seperti festival ini sangat diperlukan sebagai alternatif baru kantong budaya di kota Batu.

Beberapa seniman yang nampak hadir antara lain, Endung, Yunus, Pak Pier, Slamet Henkus, Yon Wahyuono, dan beberapa nama lagi. Tentu saja Addy Prana dan Henri Nurcahyo sebagai Management Officer acara ini. Mereka berharap festival semacam ini diselenggarakan lagi dengan persiapan yang lebih tertata dan dengan acara yang lebih beragam. “Tahu begini kan saya demo melukis,” ujar salah seorang perupa. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: