“Jancuk, Cukimai, Sialan” itu Potensi Tradisi Lisan

Kata-kata pisuhan yang sering dianggap tabu dan tidak sopan itu ternyata merupakan potensi tradisi lisan yang belum digali secara maksimal. Orang Surabaya suka menyebut “Jancuk”, tapi apa maknanya? Bagaimana asal mulanya? Mengapa menggunakan sebutan itu? Di berbagai daerah memiliki pilihan kata pisuhan yang unik dan memiliki alasan kultural tersendiri, seperti Sialan atau Cukimai dan sebagainya. Dengan mengupas kata-kata “Jancuk” misalnya, dapat menjadi bekal untuk menjadi sarjana (S-1), Strata 2 dan bahkan Strata 3.

Dalam diskusi mengenai Potensi Seni Tradisi Lisan Jawa Timur yang berlangsung di Gedung Cak Durasim, Taman BudayaJawa Timur, Selasa (13/9) dua orang guru besar, Prof. Ayu Sutarto dari Jember dan Prof. Henricus Supriyanto dari Malang, mengemukakan hal itu. Dalam sesi berikutnya, tampil Dr. Sutamat Arybowo, wakil ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Pusat.

Yang disebut tradisi lisan itu meliputi: Cerita rakyat, baik yang berbentuk mite, legenda, maupun dongeng. Pituduh dan wewaler “ajaran dan pantangan” yang digunakan sebagai rujukan dalam kondisi sosial. Juga ternasuk teka-teki, berbagai jenis mantra, lagu dolanan, puisi rakyat, baik yang berbentuk parikan maupun wangsalan, termasuk juga pisuhan atau “kata-kata makian”.

Tradisi yang sebagian berupa lisan juga dapat ditemukan dalam kepercayaan dan religi, permainan tradisional, teater tradisional, tari tradisional, adat-istiadat, upacara tradisional dan juga pesta rakyat.

Menurut Ayu Sutarto, masyarakat Jawa Timur yang terdiri dari berbagai kelompok etnik (Jawa, Madura, Tengger, Samin, Using) kaya akan tradisi, baik tradisi lisan, sebagian lisan, maupun bukan lisan. Tradisi tersebut merupakan kekayaan budaya yang dapat dimanfaatkan sebagai modal untuk membentuk peradaban dalam berbagai aspek kehidupan. Banyak bentuk tradisi yang belum digali dan dimanfaatkan, baik oleh masyarakat pemiliknya maupun negara sehingga menjadi kekayaan budaya yang mubazir.

Setiap tradisi memiliki pewaris, baik pewaris aktif maupun pewaris pasif. Sementara jumlah pewaris ini makin lama makin menyusut karena proses pewarisannya tidak berjalan akibat tekanan perubahan dan tekanan ekonomi.

Tradisi tersebut sangat penting karena berkaitan dengan pengetahuan setempat yang terkait dengan hubungan manusia dengan kekuatan gaib, hubungan manusia dengan lingkungannya, dan hubungan antarmanusia. Tradisi itu mencerminkan kekuatan pewarisnya dalam mengembangkan daya budi dan budi daya. “Kita punya banyak kekayaan budidaya tapi tidak punya daya budi untuk mengelolanya, yang salah siapa?” tanya Ayu Sutarto, yang juga menjadi ketua ATL Jawa Timur.

Sedangkan Henricus Supriyanto, selain menanggapi soal kata-kata pisuhan tadi, memfokuskan makalahnya pada tradisi lisan pada seni pertunjukan di provinsi Jawa Timur dengan fokus “Cerita Panji”. Menurut wakil ketua ATL Jatim ini, tradisi lisan dapat menjadi sumber pembelajaran sejarah. Cerita Panji selama ini nyaris tidak banyak dikenal. Padahal cerita itu populer sebagai bahan baku cerita dalam seni pertunjukan wayang beber, wayang topeng dan berbagai kesenian lainnya. Dongeng dan Cerita Panji itu susastra lisan yang memiliki banyak keragaman. Masyarakat yang kenal dengan dongeng Panji Laras, Timun Emas, Keong Emas, itu semua adalah varian cerita Panji.

Penulis buku-buku spesial kota kuno, Dukut Imam Widodo, mengakui bahwa banyak cerita lisan yang dia dapatkan saat menyusun buku Hikayat Surabaya, yang didapat dari sesepuh. Lantas muncul gugatan dari Subiyantoro, seniman yang juga dalang itu, mengapa insititusi pendidikan selama ini kurang berperan melestarikan tradisi lisan? Bahwa proses pewarisan tradisi lisan harus didukung penelitian yang aplikatif. Tapi yang selama ini terjadi, gara-gara sinetron dan TV anak-anak menjadi kehilangan bahasa lokal sebagai bagian penting dari tradisi lisan. “Lembaga pendidikan bertanggungjawab dalam pelestarian tradisi lisan,” tegas budayawan dari Malang, M. Soleh Adipramono.

“Kita banyak kehilangan teka-teki, banyak diracuni lagu-lagu cinta yang cengeng,” sambung Ayu Sutarto. Juga telah terjadi pembodohan yang sangat lama, bahwa kata “Suroboyo” itu bukan bersal dari ikan Sura dan Buaya, itu tidak ada dalam khasanah perikanan. Ini pembodohan. Yang betul adalah Suro adalah Wani, Boyo adalah bahaya. Artinya, berani menghadapi bahasa.

Sedangkan Sutamat Arybowo, lebiha banyak memaparkan mengenai pentingnya tradisi lisan sebagai kajian yang perlu diseriusi, Bahwa tradisi lisan itu sudah menjadi sumber data ilmiah yang diakui keabsahannya. Bukan lagi hanya bersandar pada peninggalan arkeologi dan teks tertulis. Untuk itu ATL sudaha bekerjasama dengan tujuh PTN di Indonesia untuk memberi beasiswa S-2 dan S-3 mengenai Kajian Tradisi Lisan.

Menurut Sutamat, perlu dilakukan penyelamatan karena sekarang ini ahli tradisi lisan hanya tinggal kurang dari hitungan jari satu tangan saja. ATL sangat berkepentingan melakukan interpretasi tradisi lisan dengan paradigma baru, karena tradisi lisan merupakan kekuatan kultural untuk membangun peradaban. Tradisi lisan adalah Intangible Cultural Heritage yang diakui Unesco. Masyarakat perlu ikut terlibat mempertahankannya, bukan hanya menjadi tugas kalangan akademis.

Laporan :
henri nurcahyo, sekretaris ATL Jatim.

Satu Tanggapan

  1. hehe…!!!
    jaga tradisi apalagi tradisi lisan…!!!
    banyak Sejarah yang tak sempat tersampaikan karena LISAN LISAN sing “dikesleokno” BUDOYO NJOBO…

    Salam Sahabat dari Doni Malang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: