Pambuko Kristian: Berkawan dengan Lingkungan Lewat Syair

Inilah sosok yang berada di belakang penciptaan lagu bertema “Kapal Jatim” dan lagu bermuatan lingkungan hidup. Pambuko Kristian namanya, sehari-hari adalah guru kesenian di SMA Santa Maria Surabaya dan aktif sebagai musisi dengan berbagai prestasi. Setidaknya ratusan judul lagu bermuatan sosial berhasil diciptakan.

Banyu Geni, itulah nama kelompok musik yang selalu tampil dalam acara-acara Kapal Jatim. Mengaku lahir dari seniman jalanan, banyak lagunya yang bertema lingkungan tercipta dari insipirasi dari tanah kelahirannya di pegunungan Kendeng Selatan, Purwodadi, Grobogan, Jawa Tegah, 11 Mei 1975.

…Hutan yang rimbun kini gundul jadi amburadul. Angin sepoi tlah menidurkanku. Udara panas, sepanas ambisimu. Air mengalir tidak mampu kamu bendung lagi. Banjir datang, banjir datang lagi, ayo bermain dengan air…

Itu adalah sebait syair lagu berirama parodi yang menyentil perilaku sembrono manusia terhadap lingkungan sehingga saat hujan tiba, banjirpun tak terelakkan. Karena dibawakan dengan irama riang, membuat orang yang mendengar tidak merasa bahwa syair lagu tersebut sarat dengan sentilan.

“Bahasa yang selalu saya gunakan di setiap karya lagu tidak begitu keras. Dan saya tidak pernah merujuk kepada seseorang atau kelompok tertentu. Lebih mengarah universal, biar mereka yang mengintrospeksi dirinya sendiri,” ujar alumnus akademi Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya lulusan tahun 2004 itu.
Pernah pada sebuah karya cipta Pambuko yang menuai banyak kritikan lantaran di salah satu baitnya dinilai terlalu keras dan mendiskreditkan pejabat. Iapun cepat sadar dan segera mengubah syair lagu yang terilhami dari kasus pengusuran di Kali Jagir Surabaya.

“Sing eling manungso, urip mung sedelo. Jaman wis edan ojo melu edan. Syair itu sebagai pengganti syair sebelumnya,” ujar staf pengajar kesenian di SMA Santa Maria Surabaya itu.
Pambuko menambahkan, jika dirinya harus paham untuk memilih syair lagu-lagunya terkait dengan keberadaan pejabat. Mengingat dia beserta komunitasnya kerapkali diundang tampil oleh para pejabat. “Itulah realita. Tapi eksistensi saya sebagai seorang seniman tetap tak akan surut. Jadinya saya harus lebih selektif untuk memilih syair lagu,” aku seniman yang pernah menjabat Koordinator seniman jalanan itu.

Bukan tanpa alasan jika karya cipta Pambuko lebih banyak bermuatan sosial. Kerasnya kehidupan jalanan yang membuat Pambuko sedikit banyak menjadi latar belakangnya untuk mencipta lagu.

Lulus dari SMKI Solo tahun 1094, Pambuko hijrah ke Surabaya. Keinginan menjadi pegawai yang mapan pupus, setelah lama menunggu surat panggilan dari Garden Palace Hotel di Surabaya. Waktu itu, Pambuko mengajukan surat lamaran sebagai tenaga cleaning service di hotel berbintang tersebut.
“Lha wong namanya diajak teman. Entah surat lamaran itu nyampek atau nggak, saya juga nggak tahu,” kenang lulusan SMKI Solo (Kawaritan) tingkat Madya itu.

Ketidak-pastian itulah membuat Pambuko harus menjalani kerasnya kehidupan jalanan untuk menyambung hidupnya. Terminal Joyoboyo menjadi ‘rumah singgah’nya. Seiring rentan waktu berputar, Pambuko terus berkarya mencipta sejumlah lagu.
Di tahun 2000, Pambuko memasuki dunia baru. Melalui karya-karya lagu indienya yang diikut-sertakan dalam ajang festival internasional, ia mendapatkan imbalan uang sebagai bentuk penghargaan. Diantaranya judul lagunya antara lain, Sumbang Jalanan, Malam Yang Hilang, Balada Anak Desa dan sebagainya.

Keinginan Pambuko untuk merubah kehidupan lewat berkesenian seolah tak terbendung. Ia pun mendaftarkan diri menjadi mahasiswa di STKW Surabaya. Meski berstatus mahasiswa, Pambuko tetap menjalani profesinya sebagai pengamen jalanan. “Yaa setidaknya bisa untuk membiayai kuliah,” ujar seniman yang pernah menjuarai Festival Penyanyi Jalanan tahun 1998 itu.

Malah di kampus STKW, Pambuko lebih banyak menuangkan inspirasi bait demi bait lagu karya ciptanya. “Di bawah pohon mangga yang terletak di belakang kampus itu tempat saya mencipta lagu. Hampir seluruh lagu-lagu saya terciptakan di tempat itu, seolah saya mempunyai mood di situ,” kenangnya.
Karena itu, ia tidak akan pernah melupakan kampus yang ikut membesarkan namanya di dunia berkesenian. Bahkan ia sering terlibat dalam berbagai event yang digelar STKW.

Empat tahun berselang, dengan bekal transkip nilai, Pambuko mencoba mengajukan lamaran sebagai tenaga pendidik di SMA Santa Maria Surabaya. Gayung pun bersambut, pihak sekolah menerimanya sebagai guru kesenian hingga sekarang. Tak jarang pula dia terlibat langsung memimpin pergelaran yang dilakukan oleh siswa-siswinya. Bahkan di sekolah ini Pambuko membentuk kelompok karawitan beranggotakan para siswa yang mayoritas berasal dari keturunan China.
Nama dan kiprah Pambuko kian diperhitungkan oleh berbagai kalangan. Ia pun sering terlibat banyak event seni tradisi, sebagai narasumber pelatihan seni musik etnik, juri festival dan sebagainya. Sejumlah lagu campursari yang diciptakan, beberapa kali menghasilkan rekaman. Salah satu yang membumi adalah lagu berjudul Tresno Sudro.
Kini pria yang memiliki seorang anak, Rindang (5) hasil pernikahannya dengan Farida, menghuni rumah asri di kawasan Sukodono Sidoarjo. Hasil kerja keras Pambuko telah menghantarkan namanya di deretan para seniman handal di Jawa Timur. (eddy)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: