Pameran Seni Rupa Trowulan Art: Homo Mojokertensis

MOJOKERTO: Pameran Seni Rupa yang bertajuk Trowulan Art : Homo Mojokertensis adalah satu gagasan yang diinisiasikan oleh Sangkring Art Project (SAP) Yogyakarta kepada para seniman yang lahir dan berkarya di daerah Mojokerto, Jawa Timur atas segenap pencapaian artistik mereka selama ini. Keempat seniman yang diundang oleh Sangkring adalah Hadi Sucipto, Iskandar, Joni Ramlan, dan Ribut Sumiyono. Mereka adalah para perupa yang lahir dan besar dari ‘tlatah’ Mojokerto, ibukota Majapahit pada masa kejayaannya. Bolehlah dikatakan empat perupa tersebut adalah pewaris tanah dari negeri yang mewarisi semangat kejayaan nusantara ini. Sebagai seniman asli Mojokerto, kebanyakan dari karya-karya mereka adalah ungkapan syukur, kekaguman, apresiasi dan interpretasi diri atas nilai-nilai sejarah sejarah masa lalu yang masih terlihat dan terkenang hingga masa kini.

Demikian informasi yang diperoleh dari siaran pers yang dikirim Sangkring Art Project, Kamis (15/3).
Selanjutnya Hadi Sucipto salah satu peserta pameran sekaligus koordinator perupa menjelaskan bahwa pameran seni rupa ‘Trowulan Art : Homo Mojokertensis’ tersebut digelar oleh Sangkring Art Project (SAP) sebagai satu bagian dari upaya memberikan ruang yang memungkinkan para perupa dan publik seni melakukan kerja kesenian yang lebih eksploratif berikut produksi pengetahuan dan wacana baru. Spirit pameran tersebut sekaligus menjadi satu kerja dari visi Sangkring Art Project membangun jembatan antara semangat lokal untuk membangun jaringan di kancah global.

Ditemui di rumahnya di Jl.A Yani Belahan Tengah Mojosari, Pak Cip, panggilan akrab guru SMAN Gondang Mojokerto itu , Kamis (14/3) dengan ramah menyebutkan karya-karya nya yang ikut dipamerkan.
“Saya menampilkan karya 26 sket, rata rata berukuran 40 x 54 cm dan 40 x 27. Bahannya dari kertas, dengan tinta dan acrylic.Obyek sket saya antara lain Candi Bangkal, Candi Rimbi, Gapura Wringin Lawang, Candi Brahu.Konsepnya tentang artefak..bagaiman kita belajar dari karya masa lalu yang sangat tinggi nilainya. Saya mencatat banyak situs yang rusak karena kita tak banyak yang mampu membacanya.Kita biarkan begitu saja.Karya sket saya dominan warna terakota. Sengaja saya pilih warna terakota karena citranya yang sederhana tetati agung dan sakral. Pande Ktut Taman, pelukis yang tinggal di Muntilan, mengingatkan saya ketika dolan ke rumahnya tahun baru kemarin bahwa warna mojopahit adalah warna terakota”, jelas Pak Cip, kelahiran Mojokerto, 6 Juni 1963).

Bagaimana proses kreatif sampeyan saat nyeket?
Saya sering melalkukannya in situ artinya saya menghadapi obyek secara langsung.
Sehingga saya sering dibuat kagum oleh obyek yang saya kerjakan baik itu di museum dan sekitar candi. Sementara hasilnya ya dengan cara yang sangat sederhana melalui drawing gambar.Saya utarakan isi hati saya atas kekaguman pada oyek tersebut.

Pernah suatu kali saya nyeket di Yoni Gambar di Kampung Mojoduwur Mojoagung. Dekat Sumberboto Mojoagung. Sore sekitar jam setengah lima. Ditemani Mas Arif “Gopar” Budi. Tiba tiba saya mencium aroma wangi seperti kembang melati. Saat itu sket naga di Yoni Gambar hampir selesai.Padahal di sekitar lokasi tak ada tanaman melati, hanya sawah. Mas Arif Budi juga tidak membawa parfum melati. Yang terbersit di pikiran saya: nampaknya sang penunggu Yoni Gambar “merestui” saya nyeket Naga di Yoni Gambar. Sket Naga Yoni Gambar bersama 3 karya Cak Iskandar, Mak Ribut dan Mas Joni, dimuat dalam undangan, poster dan spanduk Trowulan Art, Homo Mojokertensis.

Pernah juga dengan istri tercinta nyeket di Candi Bangkal, di Dusun Bangkal Desa Candiharjo Kecamatan Ngoro. Habis shalat jumat. Berkat doa restu dari istri tercinta, saya langsung berhasil merampungkan 6 sket. Baru berhenti setelah acrilyc dan tinta habis. Candi Bangkal merupakan candi yang istimewa. Menurut catatan sejarah Candi Bangkal diyakini sebagai krematorium tempat pembakaran Raja Airlangga.

Karya sket saya yang lain yang akan ditampilkan adalah Camundi. Entah kenapa saya suka melukis Camundi. Camundi adalah patung perwujudan istri Syiwa (aspek paling dahsyat dari istri syiwa). Digambarkan sebagai perempuan yang memiliki sifat penghancur. Menjadi koleksi Museum Trowulan dan dipajang di Pendopo belakang.

Saya mengirim sket Camundi sebanyak 3 karya, masing masing berukuran 45 x 54 dan 40 x 27.
Sebelumnya saya telah melukis Camundi tahun 2005 diatas kanvas berukuran 135 x 120 cm. Karya tersebut pernah saya ikutkan dalam sebuah pameran seni rupa bersama di rumah dinas Kapolres Kediri.
Ganesha adalah favorit saya yang lain. Ganesha dewanya ilmu pengetahuan. Koleksi ganesha ada di Museum Trowulan di Pendopo belakang. Karya sket saya dengan obyek Ganesha sebanyak 4 karya dengan ukuran 40 x 27.

Selain pak Cip, peserta yang lain adalah Ribut Sumiyono, pematung batu dan pemilik Padepokan Selo Adji di Jl.Raya Jatisumber Dusun Jatisumber 11, Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Ribut Sumiyono (lahir di Mojokerto, 6 Juni 1963), akan mengikutkan paling tidak 4 karya, masing-masing Kinari (berwujud setengah manusia setengah burung, 37 x 40 x 175 cm), Ganesha (50 x 32 x 120 cm), Saraswati (60 x 55 x 180 cm), dan Torso. Ada beberapa tambahan karya patung kecil. Semuanya berbahan batu andesit. Dalam katalog pameran, Kris Budiman, esais, novelis dan seorang dosen kajian budaya dan semiotika di Sekolah Pascasarjana UGM menulis, “ Pak Ribut—bak seorang empu dari sebuah padepokan—sebagai seorang master meditasi batu: “Saraswati”- nya telah menyihir saya semenjak pertama kali bertemu tiga tahun lalu.”

Satu-satunya fotografer yang ikut dalam pameran adalah Iskandar ( lahir di Mojokerto, 22 Agustus 1974). Alumnus Institut Seni Indonesia Jogjakarta, Fakultas Seni Media Rekam, Jurusan Fotografi, tahun 2001 itu akan menampilkan karya serial potret “manusia Mojopahit.” . Dari rumahnya di Wonosari gang Makam di Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto, Iskandar, mengeksplorasi “manusia Mojopahit” lewat bidikan kameranya. Ada 13 karya fotonya yang akan dipajang di Sangkring Art Project. Antara lain: sosok Hardjono WS, penulis dan mantan Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto yang tinggal di Jatidukuh Gondang Kabupaten Mojokerto. Pada foto berukuran 30 x 45 cm itu, Pak Hardjono WS sedang duduk di kursi di teras rumahnya. Kaca mata nya tergeletak di meja. Disampingnya ada ukiran kayu karya Pak Hardjono WS dengan tulisan Terima kasih huruf huruf lantaran engkau yang membuatku mampu membaca dan menulis.

Karya foto lain adalah travesti ludruk tobong saat pentas di Mojosari dan Kutorejo dengan judul Obong Queen (60 x 90 cm. Salah satu travesti itu berpose seperti Monalisa lukisan Leonardo da Vinci; , Hindu, Islam dan Nasionalis (90 x 60), Ngatinah dengan kaca mata a la Lenny Kravitz (pemain siter, rumahnya di Balongcangkring Mojokerto).

Joni Ramlan (kelahiran 19 Juni 1970) akan mengikutkan 4 karya lukisnya. Judul lukisan Joni, panggilan akrab pelukis yang tinggal di Jl.Delima, Seduri Kecamatan Mojosari itu adalah “Jalan menuju Tuhan I” (200 X 400 cm, Acrylic – kanvas, 2012) , ” Jalan menuju Tuhan II ” ( 130 X 140 cm, Acrylic – kanvas, 2012), “Nyanyian Jaman” (130 X 150 cm, Acrylic – kanvas, 2012), “Guitar on a bed” (150 X 160 cm, Acrylic – kanvas, 2011). Salah satu yang menarik adalah karya Jalan Menuju Tuhan l. Pada karya berukuran 4 meter kali 2 meter itu secara visual gabungan abstraksi antara bentuk rangka sepeda dan peta pulau Jawa. Rangka sepeda sebagai simbul perjalanan dan peta mengambil bentuk garisnya yang meliuk, terjal, naik turun dan tumpang tindih, panjang serta berliku-liku.

“Karya ini saya maksudkan bisa memberi gambaran tentang menuju Tuhan yang mesti melewati warna warni godaan, rintangan dan cobaan”, kata Joni Ramlan yang telah berpameran di Korea International Art Fair Seoul, South Korea dan Art Expo Malaysia” di Menara Matrade Kuala Lumpur Malaysia tahun 2010.

Pameran Seni Rupa Trowulan Art : Homo Mojokertensis juga didukung tulisan dari Kris Budiman (esais, novelis dan esais, novelis dan seorang dosen kajian budaya dan semiotika di Sekolah Pascasarjana UGM, Empat Homo Mojokertensis dengan Empat Butir Negasi , Putu Sutawijaya (pekerja seni rupa, Yogyakarta, Ruang Bergeser) dan Abdul Malik ( Redaktur Seni dan budaya http://www.gerbangnews.com, Kenapa Affandi Dulu Tak Singgah ke Trowulan?), sebagai bentuk pembacaan atas proses kerja kreatif empat perupa peserta pameran.

Pembukaan pameran akan diadakan Rabu, 21 Maret 2012 pukul 19.00 wib oleh Ir.Mahatmanto, MT, dosen Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarya. Menyemarakkan malam pembukaan, akan tampil pertunjukkan musik oleh Krishna Encik & Low Budget Acoustic dan Teguh & Friend “Iki Project”.

Diskusi akan digelar Kamis, 22 Maret 2012 pukul 19.00 wib di Sangkring Art Space Nitiprayan Rt 1 Rw 20 No.88 Ngestiharjo, Kasihan Bantul Yogyakarta. Pameran berlangsung hingga 3 April 2012. (***)

Konfirmasi:
Drs Hadi Sucipto (Pak Cip)
081 35 91 27 800,
Koordinator perupa Mojokerto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s