Gelar Budaya Tulungagung di Taman Budaya Jatim

Gelar Seni Budaya (GSB) Daerah Jawa Timur 2012 di Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) kali ini menampilkan potensi Kabupaten Tulungagung dengan tema “Gumebyar Bumi Lawadan”. Selain menyajikan pertunjukan garapan dan berbagai seni tradisi, juga disemarakkan dengan pergelaran wayang kulit sajian dari MPR RI dengan dalang remaja yang potensial, Ki Mohamad Pamungkas Prasetyo Bayu Aji, yang juga putera dalang kondang Ki Anom Suroto.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur, DR. H. Jarianto, M.Si, ajang GSB ini merupakan kesempatan berharga bagi Tulungagung untuk mempromosikan potensi daerahnya di Surabaya. Selain itu, warga asal Tulungagung di Surabaya juga dapat menjalin tali silaturrahim dalam acara ini.

GSB ini diselenggarakan mulai hari Jum’at malam (14/9) hingga Minggu siang (16/9) di kompleks Taman Budaya Jatim, Jalan Gentengkali 85 Surabaya. Jenis tarian tradisi yang ditampilkan antara lain: Reog Kendang, Arak-arakan, Jaranan Senterewe, Campursari dan lagu-lagu daerah. Sajian spesial seni pertunjukan garapan berjudul “Gumebyar Bumi Lawadan Tulungagung Merajut Budaya” dipentaskan Jum’at malam yang digarap oleh koreografer Bimo Wijayanto.

Bumi Lawadan, merupakan cikal bakal Kabupaten Tulungagung. Di Desa Lawadan yang sekarang berubah nama jadi Wates Campurdarat itu terdapat Prasasti Lawadan, yang dikeluarkan oleh Prabu Srengga, raja terakhir kerajaan Daha, yang juga dikenal dengan nama Prabu Dandanggendis. Prasasti tersebut berisi pemberian keringanan pajak dan hak istimewa semacam bumi perdikan atau sima, karena jasa prajurit Lawadan yang sudah memberikan bantuan kepada kerajaan mengusir musuh dari timur, sehingga raja yang tadinya telah meninggalkan kraton dapat kembali berkuasa. Desa Lawadan yang sekarang tinggal cerita, besar sekali andilnya terhadap kabupaten Tulungagung. Patokan prasasti bertanggal 18 November 1205 itu kemudian dijadikan Hari Jadi Tulungagung.

Sementara pergelaran wayang kulit Sabtu malam menampilkan lakon Wirotho Parwo, bekerjasama dengan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dalam rangka sosialisasi empat pilar utama, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Cerita ringkasnya mengenai Prabu Duryudana yang ingin menyerang negara Wirotho yang dipimpin Prabu Matswapai dan hendak menemukan Pandawa yang sedang menyamar. Negara Wirotho memang sedang krisis, akibat Prabu Matswapai bertindak sekehendak hati sudah meninggalkan dasar negara, masyarakat terpecah belah hingga negara ringkih dan mudah diserang musuh. Maka dalam peperangan Matswapai tertawan namun dapat dibebaskan Pandawa.

Seperti biasa, sebagai acara penunjang diselenggarakan lomba mewarna (Sabtu pagi), lomba senam aerobik (Minggu pagi) gratis makanan dan berbagai doorprize menarik. Selama tiga hari berturut-turut juga digelar pameran kerajinan dan produk unggulan Tulungagung dan pemutaran film potensi seni budaya dan pariwisata Bumi Lawadan tersebut. (*)

Info selengkapnya:
– Taman Budaya Jatim, 031 534 2128,
– Kepala Seksi Penyajian TBJT: 0813 3067 5999 (Bu Kartika)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: