Wayang Apem dan Klanthung di Taman Budaya

Foto - 4SURABAYA: Pertunjukan “Wayang Apem” disajikan Pemerintah Kabupaten Ngawi untuk menyemarakkan Gelar Seni Budaya Daerah(GSBD) Jum’at (15/3) di Taman Budaya Jatim, Jl. Gentengkali 85 Surabaya. Sajian unik lainnya adalah upacara adat nyadran “Klanthung” yang merupakan ritual mengusir wabah penyakit (pagebluk). Acara yang berlangsung hingga Minggu siang itu (17/3) juga dimeriahkan Jaran Dor dan Tari Wirontani/Dedemitan dan banyak acara lainnya.

Sebagaimana disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jatim, DR. H. Jarianto, M.Si, acara rutin GSB ini dimaksudkan untuk memperkenalkan potensi seni budaya dan pariwisata masing-masing kabupaten/kota di Jatim secara bergiliran. Potensi tersebut perlu dipromosikan agar masyarakat semakin sadar bahwa kita memiliki kekayaan seni budaya yang memang layak dibanggakan. Hal itu sekaligus juga untuk memperkuat ketahanan budaya sehingga mudah tidak silau terhadap kebudayaan asing.

Rangkaian acara GSB tersebut sudah dimulai Jumat malam pukul 18.00, dengan arak-arakan kesenian khas Ngawi, Bedaya Ngawiyat dan pada malam itu diakhiri dengan Wayang Apem. Bedaya Ngawiyat berasal dari kata Ngawi dan Wiyati (angkasa) yang bermakna cita-cita tinggi hingga terbang tinggi ke angkasa. Tarian yang berlatar belakang budaya Majapahit ini baru diciptakan dan pertama kali digelar di GSB kali ini.

Sedangkan Wayang Apem, merupakan terobosan untuk mengembangkan budaya seni tradisi yang tidak statis dan kolot. Dinamakan “Apem” selain merupakan akronim dari “Alternatif Pendekatan Masyarakat” juga identik dengan makanan tradisional yang biasanya digunakan sebagai sesaji atau persembahan. Cara membuat Apem harus melalui proses pengendapan (kristalisasi) bahan agar menjadi lebih nikmat. Begitu pula Wayang Apem yang kali ini menyajikan lakon “Ngawiyat” yang menceritakan terjadinya Kota Ngawi.
Foto - 3
Hari kedua, Sabtu (16/3) disajikan pergelaran tari Jaran Dor, tari Wirontani/Dedemitan dan Klanthung. Wirontani adalah nama salah satu laskar Pangeran Diponegoro yang waktu itu melancarkan perlawanan terhadap Belanda dengan strategi Dedemitan. Maksudnya, gabag alas nrabas geblas yang berarti menyerbu secara tiba-tiba dan kemudian cepat balik menghilang di hutan-hutan, gua, bukit atau kegelapan malam. Sebagaimana namanya, busana penari menyerupai demit (hantu).

Sebagai acara pendukung GSB ini adalah Lomba Mewarnai dan Menyanyi (16/3), Lomba senam aerobik, dan campursari serta penyerahan hadiah lomba (17/3) siang hari. Disamping itu, selama tiga hari juga digelar Pameran Produk Unggulan Kabupaten Ngawi, berupa kerajinan, potensi wisata dan berbagai kuliner khas. (*)

Keterangan lebih lanjut dapat menghubungi:
Taman Budaya Jawa Timur
Jalan Gentengkali 85 Surabaya, telp: 031 534 2128
Download: http://www.brangwetan.wodpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: